Rabu, 19 Maret 2014

New Saumlaki, Exotic Saumlaki

Saya berhutang tulisan ini kepada salah seorang ibu penenun yang saya temui dalam supervisi saya ke ibukota Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Saumlaki. Pada waktu itu, saya berjanji akan menampilkan foto hasil karya tenunannya di dalam blog saya. Hampir 2 tahun kemudian baru niat saya itu terealisasi. Sebenarnya saya sudah pernah menulis namun terkendala jaringan (dan kelupaan) sehingga baru bisa diselesaikan saat ini.

Perjalanan saya ke Saumlaki dilakukan pada tanggal 9 Agustus 2012, bersama Tante Wilma Gaspersz dan Frenska Hendriks dari Subbag Keuangan BPS Provinsi Maluku. Wow, sudah hampir 2 tahun yang lalu. Perjalanan saya kala itu adalah dalam rangka Supervisi Survei Pola Distribusi Perdagangan Beberapa Komoditi. Jujur, rada gimanaa gitu waktu ke Saumlaki saat itu, secara rasa-rasanya tidak ada banyak hal yang menarik di situ. Tapi ternyata sodarah-sodarah, saya kemudian terpesona dengan Saumlaki dan sangat menikmati perjalanan kala itu.

Setibanya di Saumlaki, kami dijamu oleh Ibu Kepala BPS Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Ir. Agusthina Rieuwpassa yang akrab disapa Ibu Goes. Ikan bakar hari itu, hmmmm maknyuss!!!


Sebagaimana tujuan kedatangan saya ke Saumlaki adalah untuk melakukan supervisi, saya pun mengunjungi beberapa responden untuk melakukan pengecekan silang dari hasil pencacahan sebelumnya, selain untuk mendiskusikan hal-hal terkait pekerjaan dengan teman-teman di kabupaten. Informasi yang saya temukan dari salah satu responden survei tersebut untuk komoditi kain tenun adalah bahwa mereka terkendala masalah pemasaran. Ini kiranya menjadi masukan dan tantangan bagi instansi terkait, terutama mengingat produk kain tenun dari Maluku Tenggara Barat juga menghadapi persaingan dengan produk dari wilayah lain di Maluku dan bahkan Indonesia. Harga produk kain tenun pada saat itu untuk syal dan dasi berkisar antara Rp150.000 - Rp200.000. Untuk produk yang lebih besar, harganya menjadi lebih mahal. Wajarlah yaa, mengingat pembuatannya yang masih tradisional dan original. Coba buat sendiri?!



Sudah menjadi kebiasaan saya, ketika tiba di suatu tempat, saya akan mengeksplorasi setiap tempat yang bisa didatangi/dilewati. Beruntungnya, saya biasanya mendapat pinjaman motor dinas BPS Kabupaten setempat (thanks to As Samson). Seusai (honestly, sometimes in the middle of) pelaksanaan pekerjaan supervisi, saya pun mulai memgeksplorasi Kota Saumlaki, dimulai dari teras belakang Hotel Harapan Indah (HI-nya Saumlaki).


Kemudian saya pun mengunjungi beberapa lokasi di wilayah Olilit Lama,



Dan berpose di depan Kantor Bupati Maluku Tenggara Barat,


Terkagum-kagum dengan tulisan pada bangunan perpustakaan Saumlaki, "Saumlaki Library"...


Menyempatkan diri juga mengunjungi kenalan di Kompleks PLN Saumlaki dan bertemu beberapa tetangga di Ambon. Dangke untuk rame-ramenya Oom Belly Oppier dan Tante Ria, Frank Maruanaya, Usi Meiske, dan Bung Felix Thenu.


Singgah juga di Kompleks Pelabuhan Saumlaki,


Dan ini dia, salah satu objek wisata di Kota Saumlaki, Pantai (dekat kompleks) Pertamina Saumlaki.




Tante Ema dan Eka sedang rileks bermain ayunan setelah 2 hari berkutat dengan laporan-laporan.



Pertigaan jalan poros dengan sebelah kanan menuju ke Bandara Saumlaki dan kawasan Olilit Lama dan yang lurus menuju ke kompleks perkantoran dan perumahan Mapolres Maluku Tenggara Barat, Kejaksaan Negeri Saumlaki, dan BPS Kabupaten Maluku Tenggara Barat.


Kembali berpose di Olilit Lama, tempat pembaptisan pertama...



Dan akhirnya siap-siap kembali ke Ambon. Salah satu prosedur di Bandara Saumlaki adalah setelah barang/bagasi ditimbang, penumpang pun naik ke timbangan. Yaaah, hitung-hitung mengecek perkembangan berat badan. Hehehe...


Inilah pesawat Trigana Air Service yang akan membawa kami kembali ke Ambon,



Salah satu pemandangan, beberapa saat setelah lepas landas dari Saumlaki... Bisa jadi beberapa tahun mendatang, lokasi tersebut akan menjadi resort berkelas dunia?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar