Sabtu, 05 April 2014

Perjalanan ke Siwang

Jumat, 4 April 2014

Hari ini saya janjian dengan Koordinator Statistik Kecamatan (KSK) Kecamatan Nusaniwe, Devi Stenly Tuhumury, untuk melakukan kunjungan ke responden Survei Harga Konsumen untuk komoditas batu karang di Jalan Siwang, Dusun Seri, Desa Urimessing, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon. Pengecekan responden ini mencakup review konversi ret ke meter kubik.

Dari kantor kami di kawasan Jalan Wolter Monginsidi, Desa Passo, Kecamatan Baguala, saya dengan ditemani Kepala Seksi Statistik Pertambangan, Energi dan Konstruksi BPS Provinsi Maluku, Luziana Wijaya Tanjung, pun menuju TKP. Berikut salah satu kegiatan mengukur bak mobil truk yang sementara melakukan aktifitas embarkasi batu karang,




Kami sempat menemui 1 responden lagi. Berdasarkan obrolan dan peninjauan singkat ke lokasi penambangan kedua responden itu, kami menemukan bahwa penambangan batu karang dilakukan secara tradisional. Dengan menggunakan ranting kayu kering di sekitar lokasi, mereka membakar batu karang semalaman sebelum besoknya dipecahkan dengan menggunakan martil 5 kilogram. Batu-batu karang tersebut dijual dengan harga Rp200.000,00 per 3,7-an meter kubik (1 ret truk). Itu merupakan harga di tempat. Selanjutnya biaya transpor yang dipatok para pengemudi truk adalah Rp300.000,00 untuk setiap ret-nya. Informasi lainnya yang kami peroleh adalah bahwa dalam beberapa waktu ke depan, para penambang akan menaikkan harga batu karang tersebut yang dikarenakan lokasi penambangan mereka sudah semakin jauh ke atas gunung. Salah satu penambang mengatakan bahwa mereka bisa menjual rata-rata 1 ret batu karang setiap harinya. Sekilas kedengarannya profesi ini lumayan menjanjikan yaa? Tapi setelah melihat sulitnya memecahkan batu karang secara manual, belum lagi ditimpa hujan-panas, ternyata butuh stamina yang mantap dan keteguhan hati untuk berkecimpung di profesi ini.

Atas dasar asas aji mumpung, setelah melakukan hal-hal yang terkait pekerjaan, kita sambi dengan monitoring lokasi sekitar. Siapa tau akan menemukan hal lain yang masih terkait pekerjaan? *alasan.com*




Teluk Dusun Seri dengan Objek Wisata Pintu Kota di ujung tanjungnya

Dusun Mahia di kejauhan

Sampai di sini perjalanan dilanjutkan dengan menelusuri jalan tanah

Our tour guide, Devi Stenly Tuhumury and Hein J. Wattimena (Bung Notje)

Salah satu kebun kol warga

Ambon City view from Siwang

Me....

Kebun Cengkeh di kejauhan

Lebih dari 30 tahun hidup dan beraktifitas di Kota Ambon (Pulau Ambon juga ding), ternyata masih adaaa aja hal-hal baru yang bisa dinikmati. Ambon is not that small as we think, hmm?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar