Kamis, 31 Juli 2014

Foto-foto Perjalanan ke Pulau Haruku dan Pulau Saparua

Liburan panjang tiba!

Libur Lebaran dan tambahan liburan cuti bersama, adalah salah satu momen yang paling ditunggu-tunggu dalam tahun 2014. Saatnya tidur sepuasnya tanpa harus memikirkan bangun pagi mengejar absen. Hehehe... Dari hari Jumat, 25 Juli 2014 udah siap tidur semau hati dan juga beberapa keping DVD beserta file film pengisi liburan. Dan bukan hanya itu. Rencana jalan-jalan ke pulau tetangga pun sudah siap dijabanin. Thank God :D

Selasa, 29 Juli 2014
Hari ini rencananya saya ke Desa Hulaliu di Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah untuk menyusul kakak perempuan saya yang sudah lebih dahulu berada di sana bersama suami dan anak-anaknya. Sebenarnya judulnya kurang tepat kali ya, secara dari kurang lebih 11 desa di Kecamatan Pulau Haruku, saya hanya berencana ke Desa Hulaliu. Namun karena ini menjadi pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Pulau Haruku, gpp kali yee. Hehehe...

Untuk menuju Desa Hulaliu kita hanya bisa menggunakan moda transportasi laut dengan speed boat dari Desa Tulehu yang sudah termasuk wilayah Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah. Di Desa Tulehu ada lebih dari 1 pangkalan speed boat yang kalau tidak salah dibedakan menurut pulau tujuan. Speed boat tujuan Desa Hulaliu tidak sebanyak ke desa-desa lain di pantai utara Pulau Haruku seperti Pelauw dan Kailolo. So, dari jam setengah 8 pagi dan menunggu sekitar 1 jam, belum juga ada speed boat ke Desa Hulaliu, yang biasanya menggunakan speed boat dari desa tersebut juga. Ketika jarum jam hampir menunjukkan pukul 9, datanglah speed boat dari Desa Hulaliu. Pada saat bersamaan saya ditawarkan menggunakan speed boat tujuan Desa Portho di Pulau Saparua yang sebelumnya akan mengantar penumpang ke Desa Kulur, Pulau Saparua. Desa Kulur di Pulau Saparua letaknya berhadapan dengan Desa Hulaliu di Pulau Haruku. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya menerima tawaran tersebut, mengingat kalau menggunakan speed boat tujuan Desa Hulaliu, saya harus menunggu sampai memenuhi jumlah penumpang yang ditargetkan. Padahal speed boat menuju Desa Portho via Desa Kulur udah siap berangkat.

Pangkalan speed boat di Desa Tulehu dengan tujuan desa-desa di Pulau Haruku

Pintu masuk objek wisata Pantai (Tanjung) Jannain, Desa Hulaliu


Pantai (Tanjung) Jannain, Desa Hulaliu


Panati (Tanjung) Jannain dengan latar belakang tanjung Desa Kulur, Pulau Saparua

Di Desa Hulaliu, saya dijamu makan siang di rumah Keluarga Izaak yang merupakan keluarga dari kakak ipar saya, Paulus Maruanaya. Di hari ke-2 Lebaran menu makan siang super duper komplit dan yummy. Ada papeda kasbi, papaya lada (dari pepaya muda), sontong daun kedondong, ayam kampung masak asam padis (pedas), daun matel air garam, ikan gusao padis (teri pedas), dan daun ganemo (melinjo) muda papaya santan. Uenaaan tenan alias paleng sadaaapp alias lekker...


Makan siang di rumah Keluarga Izaak di Desa Hulaliu
Sekitar jam 1 dengan menggunakan speed boat dan diantar kakak saya Jennety Gaspersz, kakak ipar saya, dan ipar perempuan dari kakak ipar saya (membingungkan kah? hehehe...), kami menuju Desa Kulur untuk perjalanan saya selanjutnya. Perjalanan dari Desa Hulaliu di Pulau Haruku ke Desa Kulur di Desa Saparua memakan waktu kurang lebih 15 menit.

Trima kasih sudah diantar...
Di Desa Kulur saya dijemput oleh teman kantor saya, Vector Hehanussa yang akrab disapa Etok. Bersama Etok inilah saya menjelajah Pulau Saparua. Oh iya, pagi dari rumah menuju Desa Tulehu saya juga diantar Etok. Kami berbagi jalan di Desa Tulehu. Etok dengan sepeda motornya menggunakan kapal cepat langsung ke Saparua, dan saya dengan speed boat ke Desa Hulaliu.

Di pantai Desa Kulur, siap menjelajah Pulau Saparua
Pantai Desa Kulur dekat dermaga ferry
Di Desa Kulur, saya mulai menjelajah Pulau Saparua. Ada 2 tempat wisata menarik di sini yang saya kunjungi, yaitu pantai dekat dermaga penyeberangan ferry dan mata air di bawah tanah yang dinamakan Air Putri. Air Putri ini terletak di bawah tanah dengan 1 lubang di bagian atas yang membuat sedikit sinar matahari memasuki daerah gua. Menurut beberapa orang di dalam gua yang tidak terlalu luas itu, mata airnya mengalir, walaupun mengalir entah kemana. So, walau ada orang-orang yang mencuci pakaian (dalam kegelapan booo....) dan mandi, air tetap tampak jernih (liatnya pake senter). Untuk masuk-keluar gua ini perlu ekstra hati-hati. Licin booo, mana gelap. Tapi saat akan keluar, orang-orang yang lebih dekat ke mulut gua akan langsung mengulurkan tangan untuk membantu menarik kita, sekalipun tidak kita kenal. Luar biasaaa....

Di mulut gua menuju mata air di bawah tanah (Air Putri) di Desa Kulur


Dari Desa Kulur, kita akan melewati Dusun Pia yang merupakan bagian (petuanan - istilah di Maluku) dari Desa Paperu. Yang menarik di Dusun Pia ini adalah nama gedung gerejanya, Ka'abah Oranje. Kalo istilah kabah sih biasa di Ambon, tapi Oranje-nya itu loh yang baru pernah saya dengar.





Berikut ini adalah foto-foto di Pantai Walo, Desa Paperu:









Dari Desa Paperu kami ingin melanjutkan ke Desa Booi, namun ada penutupan jalan untuk suatu kegiatan yang kami tidak tahu persisnya. Perjalanan kami lanjutkan ke Benteng Duurstede di Desa Saparua. Berikut foto-foto di seputaran Benteng Duurstede:

Menara penjaga

Salah satu sudut, tempat meriam




Pemandangan dalam benteng








Dari Benteng Duurstede, setelah mampir makan soto di dekat Pasar Saparua dan membeli kenari titipan mama-nya Etok, kami melanjutkan perjalanan ke objek wisata berikutnya. Kami sempat melewati Pantai Wamsisil di Desa Sirisori Amalatu namun berpikir akan berfoto ria dalam perjalanan pulang padahal kami melewati jalan lain dalam perjalanan pulang. Di Desa Ouw saya berpose di depan (reruntuhan) Benteng Ouw. Benteng itu tidak terawat sebagaimana Benteng Duurstede. Di dalam benteng ini ada bangunan dari gaba-gaba (pelepah sagu) untuk tempat kediaman maupun tempat pembuatan sempe. Sempe adalah alat-alat rumah tangga dari tanah liat, seperti anglo (kecil), baskom, piring, dsb.

Benteng Ouw di Desa Ouw

Gapura selamat datang di Desa Ouw, menggunakan sempe sebagai ornamennya

Di depan lokasi pembangunan gedung gereja Desa Ullath

Baileu Desa Ullath

Gapura selamat datang di Desa Ullath

Durian yang jatuh di lahan milik Koordinator Statistik Kecamatan Saparua, Zadrak Leatemia alias Oom Cada

Salah satu lokasi taman di Desa Noloth

Pemukiman Desa Nolloth tampak dari atas

Baileu Desa Nolloth, yang tertua di Pulau Saparua

Gedung gereja Desa Nolloth

Dermaga Desa Ihamahu


Ademm.....
Selama di Saparua saya menginap di rumah Koordinator Statistik Kecamatan Saparua, Zadrak Leatemia, yang akrab kami sapa Oom Cada, di Desa Tuhaha. Ketepatan (almarhum) ibu saya pun bermarga Leatemia yang berasal dari Desa Ihamahu dan oma dari ibu saya bermarga Pattipeiluhu dari Desa Tuhaha. Hehehe... Selama perjalanan saya yang ditemani Etok dan Johan Leatemia (anaknya Oom Cada), ada banyak informasi menarik yang saya dapatkan. Seperti kenapa penduduk Desa Haria sebagaian besar melaut sebagai nelayan, dikarenakan tanah desa tersebut sebagian besar karang dan berbatu-batu. Atau kenapa Desa Portho sering disebut keladi batu, karena talas (keladi) ditanam di tanah berbatu-batu. Di Desa Haria terdapat objek wisata Pantai Batu Pintu atau yang sering disebut Tambak karena lokasinya dipetak-petak seperti tambak. Objek wisata ini dikelola oleh Bapak Nuw Leuwol. Yang unik dari Pantai Batu Pantai ini adalah kita bisa memesan nama kita diukir di batu seperti prasasti, dengan membayar sekitar Rp200.000,- per rombongan. Jangan khawatir, nama kita pasti diukir jika sudah membayar, sekalipun kita mungkin tidak kembali untuk mengeceknya. Saya menyaksikan nama saya dan rombongan yang datang untuk pelantikan raja (kepala desa) Negeri Ihamahu pada tahun 2010 telah terukir, pun dengan nama teman-teman sekantor saya yang datang sebelumnya. Ingatan dari Bapak Nus Leuwol ini lumayan tajam. Kereen...

Objek wisata Pantai Batu Pintu di Desa Haria



Ketika melihat tulisan yang sudah agak memudar, Bapak Nus Leuwol menjanjikan akan meng-cat ulang. Kereeennn....

Pantai Desa Haria

Pulau Maulana di kejauhan

Bersama Johan Leatemia, my tour guide

Sajian nasi pulut (ketan) unti buatan mama dari Etok Hehanussa. Uenaaakkk.....

My tour guides, Johan dan Etok

Saya kembali ke Ambon dengan menggunakan speed boat sekitar pukul 12 siang. Bagi orang Maluku, perjalanan siang biasanya identik dengan gelombang laut yang lebih tinggi dibandingkan pagi. Namun karena semua tujuan saya sudah terpenuhi, saya pun nekad pulang siang itu. Puji Tuhan, ada satu speed boat yang akan kembali ke Desa Tulehu di Pulau Ambon, sekalipun hanya saya penumpangnya. Dengan membayar Rp100.000,- saya pun kembali ke Ambon dan menikmati gelombang yang amit-amit deh....

Pulau Haruku di kejauhan

Speed boat driver

Dermaga di Desa Tulehu
Akhirnya, niat menginjakkan kaki di Pulau Haruku, pulau (berpenghuni) yang paling dekat dari Pulau Ambon tercapai, bahkan ditambah dengan tour singkat namun berkualitas berkeliling Pulau Saparua. Maluku memang exotic...

12 komentar:

  1. Great Traveling Usi Pauline :)

    BalasHapus
  2. Dear Usi Pauline,

    Inspiratif sekali tulisannya :D bagus! Mau tanya, kalau dari Seram, mau ke Saparua, jam penyeberangan kapalnya jam berapa? Terimakasih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dear Veronika,

      First of all, tengkiuu udah mampir ke lapak saya. Hehehe...
      Dari Pulau Seram ke Pulau Saparua, ada 2 moda transportasi umum, yakni ferry penyeberangan dan kapal cepat.
      Kapal cepat hanya ada sekali dalam seminggu setiap hari Senin, dari Pelabuhan Amahai (Kabupaten Maluku Tengah) sekitar jam 8-9 pagi.
      Ferry penyeberangan dari Pelabuhan Amahai ke Saparua via Pulau Nusalaut adanya sekali dalam seminggu juga setiap hari Rabu, sekitar jam 8-9 pagi.

      Ada juga ferry penyeberangan dg frekuensi operasional 4 kali dalam seminggu untuk rute Pulau Seram-Pulau Saparua, yakni setiap hari Senin, Kamis, Jumat, dan Sabtu. Dermaganya di Pelabuhan Wailey di Kabupaten Seram Bagian Barat.

      So, sepertinya dipastikan dulu, dari Pulau Seram ke Pulau Saparua-nya dari titik mana biar jelas mau menggunakan angkutan yang mana, mengingat di Pulau Seram itu ada 2 titik penyeberangan di kabupaten yang berbeda untuk ke Pulau Saparua.

      Oh iya, kalo Veronika merencanakan perjalanan dari Pulau Seram ke Pulau Saparua, sebaiknya mendekati hari-H dipastikan lagi. Siapa tahu jadwal di atas mengalami perubahan.

      Kalo dari Pulau Seram ke Pulau Ambon dulu baru ke Pulau Saparua, setiap hari bisa.. Karena setiap pagi ada angkutan reguler dari Ambon ke Saparua.

      Semoga info-nya membantu.. :)

      Hapus
  3. bagus sekali ,aku ingin berkunjung ke ambon nsaparua di oktober ,sangat membantusekali tulisan ini , bagus buanget ,tks buat sharingnya GBU pauline

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2 Mbak Herlina.. Senang juga kalo info di sini berguna buat orang lain.
      Semoga pada waktunya bisa menikmati Ambon dan Saparua dengan segala keindahan dan pesonanya. Gbu too!

      Hapus
  4. Halo kak Pauline, kayaknya baru kemaren Beta ada nanya tulisan kakak ttg Lonthor & Banda Naira,,setelah search via google ttg Saparua eh taunya ketemu dengan blog kakak lagi,,hha.. Beta ada rncana mau ke Saparua Kota, khususnya destinasi ke Benteng Durstede..mau naya2x boleh ya Kak :
    1. Beta binggung, ada bbrapa tamang yg bilang kalo mau ke Saparua bisa naik kapal via Tulehu, ada yg bilang via pelabuhan Waai,,kalo rekomendasi kakak via pelabuhan mana ya?
    2. Apakah setiap hari ada jadwal kapal (pulang pergi) buat kesana?
    3. Tiketnya harga berapaan ya buat sekali jalan ke sana, dan kira2x menempuh perjalanan berapa jam?
    Danke banyak sebelumnya ya Kak, Gbu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Yohanes... Maaaap, balasnya lama. Agak2 crowded gitu soale. Gimana kalo Yohanes kirim pesan ke emailku, biar nanti kubalas dengan no HP temenku yang patut jadi tempat bertanya info yang Yohanes perlu. Ketepatan diriku lagi ga di tempat juga. Emailku Lhygas@yahoo.com. Ditunggu yaaa... Gbu 2 ^_^

      Hapus
  5. ullath eee... apa tempo lai...

    BalasHapus
  6. Mari Berwisata ke Ambon, kami siap menemani perjalanan anda dengan harga terjangkau dan dengan paket-paket menarik.
    Paket Wisata Harian Mulai Rp.450rb / 12 Jam (Sudah Termasuk BBM, Supir dan Free Pick up Service Bandara)

    Hubungi Kami :
    MEDIA RENTAL CAR
    Jl. Rijali No. 57 Ambon
    www.keliling-ambon.id
    Telp / SMS / WA 081247134134 (24jam)

    BalasHapus