Jumat, 25 Juli 2014

Perjalanan Kedua ke Namrole, Buru Selatan

Selasa, 21 Juli 2014, saya dijadwalkan untuk melakukan perjalanan dinas ke Kabupaten Buru Selatan, bersama Ibu Kepala BPS Provinsi Maluku, Ir. Diah Utami, M.Sc dan sekretaris beliau, Riska Wati Muin. Puji Tuhan, udah ada pesawat dari Ambon. Nama maskapainya Aviastar. Aviastar melayani penerbangan perintis pulang-pergi dari Ambon ke Amahai, Namlea, Banda, Namrole, Kisar, dan Wahai. Selain itu Aviastar juga melayani penerbangan pp Kisar-Saumlaki, Larat-Saumlaki, dan Larat-Langgur.

Di tiket tertera waktu keberangkatan pukul 10.00 WIT, tapi sampaipun pukul 10.15 WIT kami belum juga dipersilakan memasuki ruang tunggu. Tapi tak apalah. Saya masih tetap mengapresiasi Aviastar yang bisa menjembatani wilayah-wilayah di Maluku yang jika menggunakan kapal laut atau ferry memakan waktu jauuuuh lebih lama. Sekedar info, jika menggunakan kapal laut dan ferry ke Namrole, bisa memakan waktu lebih dari 10 jam. Oh Maluku...

Sekitar pukul 11.30 pesawat Aviastar tiba dari penerbangan sebelumnya pagi itu dan tidak lama kemudian kami dipersilakan naik ke pesawat. Dan 'petualangan' pun dimulai. Ini akan menjadi perjalanan kedua saya ke Namrole, setelah awal tahun 2012 lalu.

Sebagai info tambahan, saat ini ada 2 maskapai yang melayani penerbangan Ambon-Namrole, yakni Aviastar dan Trigana Air. Harga tiket Aviastar Rp225.000,- dan harga tiket Trigana sekitar Rp400.000,-.

Pesawat Aviastar

Asisten pilot neh

Asyeeek, ada head set-nya walau tanpa lagu

Siap mendarat di Bandara Namrole
Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit, kami tiba di Namrole. Sinyal telepon seluler di sini ajib-ajib dah. Buat SMS-an aja susah tenan. Tapi smartphone teman-teman BPS Kabupaten Buru Selatan lancar-lancar aja tuh, bahkan bisa dipake fesbuk-an. Kata Koordinator Statistik Kecamatan Namrole, Nally Siahaya, HP mereka udah tune in sama sinyal di Namrole. Halaah....

ki-ka: Sekretaris Kepala BPS Provinsi Maluku, penulis, Kepala BPS Provinsi Maluku, Kepala BPS Kabupaten Buru Selatan
Pertemuan Ibu Kepala BPS Provinsi Maluku dengan Pimpinan dan Staf BPS Kab. Buru Selatan 

Kepala BPS Provinsi Maluku didampingi Kepala BPS Kab. Buru Selatan turut melakukan pengecekan ke responden IKK

Pengecekan harga kayu di salah satu sawmill


Ki-ka: Bayu Wicaksono Hariadi, SST (Plt. Kasi Stat. Distribusi BPS Kab. Buru Selatan), Ir. Diah Utami, M.Sc (Kepala BPS Provinsi Maluku), dan Ir. Yostien I. Pattipeilohy (Kepala BPS Kab. Buru Selatan)
Di Namrole, kami menginap di Hotel Grand Alfri's yang di-klaim sebagai hotel terbagus di seantero Pulau Buru untuk saat ini. Tapi emang untuk ukuran Namrole, bahkan juga Namlea sebagai kota-kota utama di Pulau Buru, hotel ini OK punya!

Kamar di Hotel Grand Alfri's, Namrole



Lobby Hotel Grand Alfri's



Dalam perjalanan supervisi ini, kami juga diundang Ibu Kepala BPS Kabupaten Buru Selatan untuk ada bersama dalam acara buka bersama, sebagai ajang meningkatkan silaturahmi di antara kami. Bener-bener deh, sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui.


Bersama Nally Beatrikch Kartini Siahaya, S.Si, Selvia Pattiasina, SST, dan Charisma Pratiwi Anwar, SST - Para srikandi BPS Kabupaten Buru Selatan



Salah satu lokasi penambangan batu karang milik warga

Salah satu anak sungai dari sekian banyak yang ada di Kota Namrole 

Bakal Kantor Bupati Buru Selatan

Kambing lagi bercengkerama di salah satu ruas jalan Kota Namrole

Pantai Wally
Pengumpulan data untuk penghitungan Indeks Kemahalan Konstruksi oleh Supriyanto, S.Si - Koordinator Statistik Kecamatan Leksula

Pantai Masnana
Pelabuhan Namrole dilihat dari pantai Desa Labuan

Kawasan Adat Venaflule

Pantai Labuan
Pelaksanaan pekerjaan disambi dengan cuci mata melihat spot-spot layak-dikunjungi, secara letaknya berdekatan. Misalnya untuk Kawasan Adat Venaflule, itu tempat yang pasti saya lewati dalam perjalanan penginapan-Kantor BPS Kabupaten Buru Selatan. Informasi dari Ibu Kepala BPS Kabupaten Buru Selatan, Ir. Inglis Yostien Pattipeilohy adalah kita tidak bisa sembarangan memasuki kawasan ini. Bahkan kita tidak bisa parkir sembarangan, boro-boro masuk yaa... Foto gapura-nya saya ambil dari sebrang jalan. Yah, menghindari ditegur ajalah.

Pantai di seputaran Kota Namrole umumnya berpasir kecoklatan dengan kelandaian pantainya mirip di daerah Maluku Tenggara. Kita berjalan sekitar 300 meter le pantai dan air masih sebatas lutut.

Di hari ketiga, tibalah saatnya kembali ke Kota Ambon. Dan karena pada hari kepulangan saya tidak ada penerbangan ke Ambon, kapal laut jadi pilihan. Dengan menumpangi KM. Elizabeth II, saya kembali ke Ambon. Di pelabuhan saya dan Selvia Pattiasina, SST yang adalah Kepala Seksi Statistik Sosial BPS Kabupaten Buru Selatan, membeli nasi bungkus yang banyak dijual di atas dermaga. Sayang sekali saya lupa memotret aktifitas pedagang di atas dermaga pelabuhan. Kata Supriyanto, nasi ikan di dermaga bisa lebih enak dari yang biasanya dijual di warung-warung makan. Ternyata bener. Bukan karena tidak ada pilihan lain loh ya. Emang enak.

Aktifitas di Pelabuhan Namrole ketika kapal/ferry tiba

Pelabuhan Namrole dari kejauhan


Bergaya ala nakhoda kapal

Pelabuhan Ambalau
Overall, saya sangat menikmati perjalanan saya ke Namrole, yang selain melakukan tugas dinas, bisa disambi dengan cuci mata dari rutinitas kantor. Perjalanan pulang saya dengan menggunakan KM. Elizabeth II yang singgah juga ke Pulau Ambalau yang sedikit merusak kesan indah perjalanan saya. Bukan karena kapalnya, tapi ombaknya sodarah-sodarah, memabukkan #kayak anggur merah yak.... Tapi saya ga kapok kok ke Namrole, khususnya Buru Selatan. Secara saya masih pengen ke Kecamatan Leksula yang banyak objek wisatanya seperti Air Babunyi. Informasi lengkap tentang pariwisata di Buru Selatan bisa diakses salah satunya di website Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buru Selatan.

So, see u again South of Buru....

10 komentar:

  1. Itu bukan headset Bu, tapi EarMuff/peredam suara

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih ralat-nya. Maklum, ga berkecimpung di dunia penerbangan dan sejenisnya. Hghghg...

      Hapus
  2. ibu pauline saya mau tanya.. keberadaan bbm khususnya solar di namrole bagaimana? apakah saat ini mudah tersedia? terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf baru meresponi pesan Pak Hery. Saya tidak tahu persis, Pak. Seingat saya, waktu saya ke sana belum ada pom bensin. Ga tahu gimana keadaan sekarang. Ketepatan pekerjaan saya waktu itu tidak termasuk mengecek stok bbm maupun solar. Mohon maaf jika tidak menjawab pertanyaannya..

      Hapus
  3. Salam kenal bu, Sy mau tanya jika dari ambon ke namrole menggunakan kapal laut berapa biaya nya? dgn waktu perjalanan berapa lama ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga Riven..
      Untuk perjalanan laut tersedia kapal dan ferry penyeberangan dengan lama perjalanan antara 8-9 jam, seminggu 2 kali untuk masing2 moda transportasi tersebut. Saya lupa harga tiket kapal, tapi kalo untuk ferry sekitar 180rb-an.

      Hapus
  4. ibu pauline terimaksih atas jawaban yg kemarin. satu lagi mau sy tanya.. adakah kos kosan/ kamar sewa bulanan? mengingat sy akan sedikit lama fi namrole.. terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo lagi Pak Hery..
      Untuk yang fasilitas dengan kamar mandi tapi tanpa kasur dll, punya teman saya 600ribu. Mungkin itu bisa dijadikan gambaran awal kali ya Pak.. :)

      Hapus
  5. ibu pauline, maaf mau nanya, saya ditugaskan di daerah masarete, kec.teluk kaiely kabupaten buru. kira-kira untuk akses jalan dan transportasi ke sana dari namlea gmn ya bu? sinyal hp dan listrik gmn d sana bu. mohon infonya. terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Mas Rivo. Saya belum sampai ke semua kecamatan, biasanya di kecamatan yg deket2 sama ibukota kabupaten. Saya sarankan Mas berkirim email dan mengajukan hal2 yg ditanyakan ke bps8104@bps.go.id. Itu alamat email BPS Kabupaten Buru. Saya percaya, akan ada yg memberikan pencerahan, karena teman2 di BPS Kabupaten Buru biasanya udah menjelajah seantero Buru.
      Semoga membantu dan selamat menjelajah bumi Bupolo. :)

      Hapus