Sabtu, 23 Agustus 2014

Konvoi Sepeda Motor yang Positif di Kota Ambon

Konvoi atau pawai kendaraan bermotor khususnya sepeda motor bukanlah hal baru bagi masyarakat Kota Ambon secara khusus dan masyarakat Maluku secara umum. Momen yang bisa menjadi pemicu dilakukannya konvoi bisa beraneka ragam. Mulai dari kampanye, piala dunia, tropi Adipura, sampai kepada mengantar jenazah ke peristirahatan yang terakhir. Saya belum pernah ikut serta dalam konvoi untuk kampanye karena antara ga hobby sama ga boleh. Ane kan PNS. Hehehe.... Kalo konvoi dalam rangka kemenangan salah satu tim di kompetisi Piala Dunia, seumur-umur baru sekali dijabanin di bulan Juli lalu. Itu pun sifatnya insedentil, secara konvoinya dilakukan pagi hari di jam-jam kami menuju kantor dan juga di jalur menuju kantor saya. Kalo konvoi mengantar jenazah ke peristirahatannya yang terakhir, ini sering.

Ada satu kebiasaan di Maluku, khususnya di Kota Ambon ketika jenazah akan dibawa ke tempat peristirahatannya yang terakhir, yang memimpin iring-iringan mobil-mobil adalah konvoi sepeda motor. Peserta konvoi sepeda motor ini adalah tetangga dan rekan dari keluarga yang berduka yang secara spontan mengambil posisi di bagian depan iring-iringan ketika akan meninggalkan rumah duka. Seringnya urutannya adalah iring-iringan sepeda motor, mobil yang memuat krans bunga tanda turut berduka cita, mobil yang memuat para pemain trompet, mobil jenazah, mobil keluarga yang berduka, dan mobil-mobil pengantar lainnya. Iring-iringan ini bisa dipimpin oleh seorang petugas polisi namun bisa juga tidak. Jauh sebelum ada peraturan tentang kendaraan roda 2 harus menyalakan lampu di siang hari, semua motor yang ikut dalam konvoi iring-iringan jenazah akan menyalakan lampu motor tanpa dikomando sehingga kendaraan dari arah berlawanan ketika melihatnya mengerti bahwa itu iring-iringan yang membawa jenazah.





Biasanya di antara para pengendara motor dalam iring-iringan tersebut, ada pengendara motor dan atau yang dibonceng yang tidak memakai helm. Hal ini lumrah di Kota Ambon dan secara nonformal dilegalkan dalam suatu iring-iringan kedukaan, bahkan sekalipun jika petugas polisi yang memimpin iring-iringan. Ketika tiba di persimpangan, satu-dua motor akan spontan berhenti dan berfungsi sebagai lampu merah bagi kendaraan-kendaraan di persimpangan tersebut sampai iringan-iringan sepeda motor selesai. Untuk kendaraan dari arah berlawanan pun menunjukkan kerja sama ketika diminta dengan gerakan tangan ataupun klakson motor untuk meminggirkan kendaraannya. Saling menghargai, ini salah satu hal yang saya suka dari kota kelahiran saya ini.

Berbeda dengan konvoi sepeda motor lainnya yang dilakukan dalam suatu keadaan yang hiruk-pikuk, konvoi sepeda motor dalam suatu iring-iringan kedukaan dilakukan dalam diam. Hanya sekali-kali para pengendara motor membunyikan klakson ketika melewati persimpangan ataupun ketika memberi tanda untuk kendaraan dari arah berlawanan agar menepi. Saya pribadi sangat menikmati berada di dalam suatu prosesi iring-iringan mengantar jenazah ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Perjalanan tersebut sering saya gunakan sebagai momen merenungi kehidupan ini sekaligus sebagai reminder bahwa semua kita pasti akan kembali kepada Sang Pencipta.


Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar