Senin, 15 Desember 2014

Perjalanan Panjang dan Penuh Cerita ke Geser, Seram Timur



“Geser itu sesuatu...”, jawab saya ketika ditanya Camat Seram Timur, Ibu J. N. Rumalutur, S.Sos, M.Si tentang kesan selama berada di Geser. Geser adalah ibukota Kecamatan Seram Timur, salah satu kecamatan tertua di Kabupaten Seram Bagian Timur, pemekaran dari Kabupaten Maluku Tengah pada tahun 2005. Saya melakukan perjalanan ke Geser dalam rangka supervisi Kompilasi Data Transportasi sekaligus dengan misi mencari dan menemukan pedagang pengumpul untuk komoditi hasil produksi (pertanian, perikanan, dan kehutanan) dari masyarakat di Kecamatan Seram Timur.

Pulau Geser - mondeck.net

Untuk sampai ke Geser, ada beberapa alternatif yang bisa dipilih. Alternatif pertama, menggunakan kapal cepat Tulehu – Amahai, kemudian melanjutkan perjalanan darat dengan mobil dari Masohi – Bula, dan dari Bula menumpangi kapal motor ke Geser. Perjalanan dengan alternatif pertama ini hampir bisa dilakukan setiap hari. Jika kita melakukan perjalanan dari Ambon pada suatu hari, kita akan tiba di Geser keesokan siangnya. Alternatif kedua, menumpang kapal laut dari Ambon langsung ke Geser. Sekilas alternatif kedua ini merupakan pilihan yang terbaik. Sayangnya, kapal laut tersebut tidak beroperasi setiap hari. Memang ada lebih dari 1 kapal, seperti KM. Sabuk Nusantara, KM. Manusela, KM. Pangrango, dan ferry penyeberangan, tetapi biasanya perjalanan tersebut adanya sekali dalam seminggu. Lagipula perjalanan Ambon – Geser dengan kapal laut bisa memakan waktu sekitar 24 jam. Memang secara matematika, perjalanan dengan kapal laut lebih cepat. Akan tetapi jadwal pelayaran kapal laut yang terdekat dengan tanggal perjalanan saya membuat saya akan tiba di akhir pekan. Padahal saya harus bertemu dan melaporkan perjalanan saya ke Kantor Camat Seram Timur pada jam dan hari kerja. Selain itu, saya tidak bisa membayangkan berada selama 24 jam – sepanjang hari di dalam ferry atau kapal dengan segala dinamikanya.

Saya menumpang kapal cepat dari Pelabuhan Tulehu di Pulau Ambon di suatu hari Rabu pada pukul 09.20 WIT (normalnya 09.00 WIT) dan tiba di Pelabuhan Amahai di Kabupaten Maluku Tengah sekitar pukul 11.20 WIT. Dari Ambon saya sudah melakukan komunikasi dengan teman di BPS Kabupaten Maluku Tengah untuk mereservasi tempat pada perjalanan darat menuju Bula (ibukota Kabupaten Seram Bagian Timur). Aturannya saya berangkat sekitar pukul 13.00 WIT. Akan tetapi karena satu dan lain hal, saya baru bisa berangkat dari Masohi (ibukota Kabupaten Maluku Tengah) menuju Bula sekitar pukul 19.00 WIT dengan menumpang mobil Avanza yang terdiri dari pengemudi dan 4 penumpang. Kami sempat singgah untuk beristirahat, khususnya ngopi bagi pengemudi sekitar pukul 21.00 WIT sebelum mulai memasuki wilayah Taman Nasional Manusela atau yang sering disebut sebagai wilayah SS, mengingat perjalanan sepanjang areal Taman Nasional Manusela tersebut merupakan perjalanan mengelilingi gunung, jadinya seperti huruf S.

Gapura pintu masuk areal Taman Nasional Manusela dari arah Seram Utara
 
Gapura pintu keluar areal Taman Nasional Manusela dari arah Seram Utara, awal kawasan SS dari arah Masohi

Sekitar pukul 23.20 WIT kami singgah lagi di perempatan (tugu) di Kobi, di seberang Penginapan Pangestu karena pengemudi kami merasa ngantuk dan meminta waktu sekitar 15 menit untuk tidur. Setelah itu kami lalu melanjutkan perjalanan dan tiba di Bula sekitar pukul 02.30 WIT hari berikutnya. Saya langsung diantar menuju hotel yang telah di-booking sebelumnya oleh Novi Alfita, SST – Plt. Kepala Seksi Statistik Distribusi BPS Kabupaten Seram Bagian Timur. Setiba di hotel, saya langsung beristirahat, mengingat beberapa jam kemudian di pagi harinya, saya harus melakukan perjalanan laut menuju Geser.

Jatah sarapan di Hotel Mutiara, Bula

Lobby Hotel Mutiara
Hari Kamis, pukul 07.00 WIT saat sedang menikmati sarapan nasi kuning, rekan yang akan menemani saya ke Geser yakni Jouns Adhy Makatita – Koordinator Statistik Kecamatan Seram Timur tiba di hotel. Kemudian Adi (nama panggilan dari Jouns Adhy Makatita) menuju pelabuhan untuk memastikan tempat di kapal sedang saya singgah terlebih dahulu ke Kantor BPS Kabupaten Seram Bagian Timur untuk melapor ke Kepala BPS Kabupaten Seram Bagian Timur – Ibu Ir. Penina A. Salawane, M.Si terkait supervisi yang akan saya lakukan. Dari Kantor BPS Kabupaten Seram Bagian Timur, saya diantar ke Pelabuhan Sesar yang berada agak di pinggiran Kota Bula. Di pelabuhan saya bertemu dengan Adi yang sudah mendapat tempat di kapal. Saya cukup lega melihat keadaan di kapal dimana tempat-tempat tidur yang tersedia berhadapan langsung dengan jendela-jendela, sehingga udara di dalam kapal tidaklah pengap. Secara saya masih trauma dengan perjalanan dengan kapal laut dari Namrole ke Ambon, dimana tempat tidurnya ada dalam suatu ruangan tertutup sehingga saya kemudian memilih untuk duduk di luar dan diterpa angin laut sepanjang perjalanan.

KM. Shanddirimadani Lestari alias Bombana yang melayari Bula-Gorom PP
Pemandangan dari dalam kapal Bombana




Sekitar pukul 08.10 WIT kapal bertolak dari Pelabuhan Sesar di Bula menuju Pelabuhan Geser dengan sebelumnya singgah di Pelabuhan Air Kasar di Kecamatan Tutuk Tolu sekitar pukul 12.00 WIT. Ada yang unik di Pelabuhan Air Kasar, yakni pelabuhannya. Sebelumnya konstruksi pelabuhannya menggunakan kayu, namun kemudian dibangunlah pelabuhan permanen dari beton yang sedang dalam tahap pengerjaan. Lucunya, pelabuhan lama yang dari kayu hanya menyisakan ujung dermaga tempat kapal merapat. Jadi penumpang naik-turun ke dermaga menggunakan perahu.

Pelabuhan Air Kasar, Kecamatan Tutuk Tolu

 Kami tiba di Pelabuhan Geser sekitar pukul 14.30 WIT dan disambut udara yang panas terik. Pulau Geser ini hanya seluas ± 3 km2, tidak memiliki banyak pohon dan hanya memiliki kendaraan bermotor sepeda motor. Kita tidak akan menemukan mobil atau kendaraan bermotor roda 4 di sini. Untuk mobilisasi barang-barang penumpang, digunakan gerobak. Eh, saya juga menemukan penjual sontong segar yang menjajakan dagangannya menggunakan gerobak juga ding.
Dari pelabuhan, saya diantar ke Penginapan Cahaya Kasih di dekat areal pasar. Tarif penginapannya cukup murah, untuk kamar dengan fasilitas AC dan TV semalamnya Rp150.000,- dan untuk kamar dengan fasilitas kipas angin (dan TV) semalamnya Rp130.000,- tentunya dengan kondisi yang standar. Setelah menaruh barang-barang di kamar penginapan, saya dengan ditemani Adi kemudian kembali ke kompleks pelabuhan untuk bertemu Pak Effendy Sabban, penanggung jawab data statistik angkutan laut (Simoppel) dari Pelabuhan Geser.


 Selesai dengan Pak Effendy, saya dan Adi menuju dermaga pelabuhan untuk melihat aktifitas bongkar-muat barang dari sebuah kapal perintis yang akan merapat. Sementara menyaksikan proses merapatnya kapal, kami dikejutkan oleh sapaan seorang bapak yang tiba di depan kami dengan mengendarai motor. Saya dengan antusias langsung menyapa beliau, yang adalah Bapak Zainuddin Rumakat – mantan Koordinator Statistik Kecamatan Seram Timur yang akrab kami sapa Oom Jai. Saya mengenal baik Oom Jai ini karena saya pernah bertugas di BPS Kabupaten Maluku Tengah, saat Kecamatan Seram Timur masih merupakan bagian dari Kabupaten Maluku Tengah. Saya dan Adi lalu bersama Oom Jai menuju ke rumahnya yang terletak di tepi pantai dan ngobrol-ngobrol dengan ditemani minuman dingin dan makanan kecil lainnya. Oom Jai kemudian juga menemani saya dan Adi berkeliling Geser, sebelum kemudian kembali ke rumah beliau dan melanjutkan obrolan di rumah panggungnya dengan pemandangan laut di waktu senja.

 

Pak Zainudin Rumakat (Oom Jai) di depan rumahnya

Lingkungan Geser yang bersih

Bangunan cold storage yang belum berfungsi


Bagian dalam cold storage yang dijadikan lapangan badminton
 
Pemandangan di belakang rumah Oom Jai


Keesokan harinya, di hari Jumat, saya bangun pagi-pagi benar dan langsung siap-siap untuk beraktifitas di hari itu. Selain karena ada banyak hal yang harus saya kerjakan, namun juga dikarenakan listrik di Pulau Geser ini hanya hidup selama 12 jam, dari pukul 18.00 sampai pukul 06.00 keesokan paginya. Sekitar pukul 06.30 WIT saya mulai mengeliligi salah satu bagian Geser dan mengambil gambar yang belum sempat saya lakukan sehari sebelumnya. Dalam perjalanan tersebut saya kemudian bertemu dengan Adi yang ternyata sedang berkeliling mencari saya. Dengan pinjaman motor dari salah satu mitra kami di Geser, Adi mengantar saya melanjutkan aktifitas mengambil gambar sambil sesekali memberikan informasi terkait apa yang akan kami kerjakan.


Salah satu tempat nongkrong di Geser...

Salah satu sudut di Pulau Geser

Salah satu ruas jalan di Geser

Anak-anak - masa depan Geser


Kompleks rumah dinas Camat Seram Timur

Puskesmas Geser

Lapangan bola di Geser. Konon di sini Presiden RI I, Ir. Soekarno pernah berpidato
 
Kami kemudian tiba di pelabuhan dan menyaksikan aktifitas beberapa orang yang sedang memancing. Di situ barulah saya saksikan mitos yang sering saya dengar bahwa ikan-ikan di Geser yang masih bodoh (baca: mudah dipancing). Hal tersebut nampak dari banyaknya ikan yang ada di bawah dermaga dan di sekitar pelabuhan dan juga yang sudah tertangkap. Luar biasa.... Saya sempat meminjam umpan dan tasik dari seseorang yang ada, namun sampai 3 kali, saya gagal memperoleh seekor ikan pun. Mungkin ikannya memang bodoh, tapi sayanya juga belum mahir memancing. Hehehe...

Pelabuhan Geser

Ikannya bahkan masih menggelepar-gelepar

Inilah sensasinya jalan-jalan sambil kerja....

Sekitar pukul 07.40 WIT dari pelabuhan, saya diantar Adi ke Kantor Camat untuk melaporkan perjalanan saya karena sehari sebelumnya saya tiba di saat jam kantor sudah berakhir. Di sana saya ditemani salah seorang Kepala Seksi sambil menunggu kedatangan Ibu Camat Seram Timur. Tak lama kemudian datanglah Sekretaris Camat, Pak M. Alifda Khouw yang kemudian dengan beliau saya melanjutkan perbincangan sambil (masih) menunggu Ibu Camat. Ketika Ibu Camat kemudian tiba, saya lalu melaporkan tujuan kedatangan saya dan melakukan pembicaraan selama beberapa waktu dengan beliau sebelum kemudian meninggalkan Kantor Camat.
Keluar dari pagar Kantor Camat, saya disuguhi pemandangan begitu banyak mangga yang dijual di kiri-kanan jalan. Ada 2 macam mangga yang dijual, yakni mangga hisap (dimakannya dengan cara dihisap setelah dikuliti dengan tidak perlu menggunakan pisau) dan mangga air. Keduanya berasal dari Pulau Seram Laut di seberang Pulau Geser. Karena bagi saya mangga hisap itu biasa dan sebaliknya saya belum pernah makan mangga air, saya pun lalu membeli sekeranjang (kecil) mangga air untuk dibawa pulang. Setibanya di Ambon, saya menyesal sudah berlelah-lelah membawa mangga sekantong besar begitu, karena ternyata mangganya sama dengan mangga yang ada di rumah saya. Huh, nasiiibbb.....

Penjual mangga di depan Kantor Camat Seram Timur (kanan) dan Kantor Kas Bank Maluku Cabang Geser (kiri)

Dari Kantor Camat, dengan mangga sekantong plastik besar, saya dan Adi singgah untuk sarapan pagi di warung makan dekat Kantor Pelabuhan. Di sana kami makan 2 porsi nasi kuning ikan telur dan 2 gelas es teh seharga Rp.37.000,-. Setelah makan, saya sempat bercakap-cakap dengan seorang ibu dari Ambon yang biasa membeli ikan berboks-boks untuk kemudian dijual di Ambon.




Selesai ngobrol dengan ibu tersebut, saya dan Adi kembali bertemu dengan Pak Effendy Sabban di kantor pelabuhan untuk mengambil data yang harus saya bawa pulang ke Ambon. Saat di kantor pelabuhan itu saya minta bantuan Pak Effendy untuk menemani saya bertemu dengan nakhoda kapal pengumpul ikan yang sedang tambat di pelabuhan. Secara rasa-rasanya kalau saya dan Adi saja yang minta bertemu, mungkin tidak akan dilayani sebaik jika kami ditemani petugas pelabuhan. Sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui dong.... ^_^
 

Berdasarkan informasi dari nakhoda kapal, kami direkomendasikan untuk bertemu dengan penanggung jawab yang ada  di keramba yang berlabuh tak jauh dari pelabuhan. Dengan menggunakan perahu milik salah satu mitra, kami menuju ke keramba tersebut dan menggali informasi terkait operasional jual-beli ikan perusahaan tersebut. Dipikir-pikir luar biasa juga Koordinator Statistik Kecamatan Seram Timur kami itu. Kami bisa keliling pulau dengan motor dan bahkan memakai perahu untuk pelaksanaan pekerjaan. Luar biasa komunikasi yang ia bangun dengan para mitra. Oh iya, mitra BPS adalah masyarakat atau aparat Pemerintah yang biasanya membantu pekerjaan sensus/survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik, mengingat jumlah pegawai yang terbatas dan jumlah pekerjaan yang membutuhkan banyak tenaga.

Bintang laut

KSK Seram Timur, Jouns Adhy Makatita bersama salah satu Mitra BPS di Geser

Keramba pengumpul ikan kerapu dan lobster

Pulau Geser nampak dari laut

Berlatar belakang Pelabuhan Geser
 
Dalam perjalanan kembali dari keramba, nampaklah kapal motor yang akan membawa kami ke Bula akan tiba di pelabuhan. Perjalanan kembali akan segera dimulai. Sekitar pukul 12.00 WIT kapal motor bertolak meninggalkan Geser dan tiba di Bula sekitar pukul 18.00 WIT, lebih cepat dibandingkan perjalanan berangkat sehari sebelumnya.


Kumpulan ikan di bawah dermaga pelabuhan

Good bye Geser... See you again :)
Sunset di Bula
Makan malam di Warung Ndeso - Bula

 Tiba di Bula, saya diperhadapkan pada masalah baru. Perjalanan saya kembali ke Masohi kemungkinan besar tertunda karena pada beberapa titik dalam perjalanan tersebut sedang dilakukan penutupan jalan dalam rangka demonstrasi untuk pemekaran Kabupaten Seram Utara dari Kabupaten Maluku Tengah. Mobil yang sebelumnya akan mengantar saya malam itu ke Masohi batal berangkat. Saya lalu diantar menuju hotel sambil Adi dan rekan lainnya mencari informasi. Adi kemudian mengabari saya bahwa ada satu mobil yang akan berangkat malam itu sekitar pukul 20.00 WIT. Belakangan kemudian mobil tersebut juga menunda waktu keberangkatannya dikarenakan aparat kepolisian masih melakukan pembersihan sebelum mengizinkan lalu-lalang kendaraan. Akhirnya kami berangkat menuju Masohi pada pukul 07.23 WIT keesokan harinya.
Jujur, sepanjang perjalanan Bula – Masohi itu, hati saya tidak tenang. Dikarenakan saya berencana untuk kembali ke Ambon dengan menggunakan kapal cepat terakhir pada pukul 14.00 WIT seperti yang sudah saya sampaikan ke pengemudi mobil, padahal normalnya lama perjalanan Bula – Masohi adalah 7 jam. Mana pada beberapa titik mobil harus melaju pelan, seperti di pusat demo sehari sebelumnya dan di titik-titik dimana ada gergajian pohon dan reruntuhan tembok yang digunakan untuk menutup jalan.
 
Perjalanan membelah hutan di Pulau Seram

Reruntuhan tembok yang dibangun pendemo

Sisa-sisa pohon yang digunakan untuk memblokade jalan, lebih dari 10 titik sepanjang perjalanan Bula-Ambon

Thank God, pukul 13.40 WIT kami tiba dengan selamat di Pelabuhan Amahai. Saya pun terkejar untuk menumpang kapal cepat pukul 14.00 WIT tersebut dan pulang ke Ambon. Huffftt, perjalanan ke Geser itu memang sesuatu. Di luar hal-hal tidak terduga seperti adanya demo dari warga pun, jalan yang ditempuh pun sudah menguras energi dan pikiran. Tapi rasanya semua itu sebanding dengan apa yang ada di Geser. Ikan-ikannya yang sangat kooperatif (baca: belon cerdas), lautnya yang indah, mangganya yang melimpah, lingkungannya yang bersih, dan orang-orangnya yang ramah. Worth it-lah... :)

See you again, Seram Island...

21 komentar:

  1. mbak pauline Ada email? Mau nanya gorom mbak akses dll

    BalasHapus
    Balasan
    1. E-mail saya Lhygas@yahoo.com. Sebenarnya saya blom kesampaian ke Gorom sih. Tapi nanti akan saya rekomendasikan teman yang bertugas di Seram Bagian Timur yang mengenal Gorom dengan baik.

      Hapus
    2. Soory, e-mailnya kehapus jadi share info-nya di sini.
      Teman saya sementara melakukan survei di lokasi seputaran Geser yang tidak ada sinyal teleponnya. Nanti kalo sudah bisa dihubungi, akan saya kabari lagi..

      Hapus
    3. mba ada nomr hp ? saya mau caru pengumpul ikan di geser....

      Hapus
    4. mba ada nomr hp ? saya mau caru pengumpul ikan di geser....

      Hapus
    5. Mbak, bolehkah komunikasinya via e-mail saja? Terkait pengumpul ikan di Geser, saya belum berhasil menemukan juga. Padahal pengen banget. Sebenarnya kalo mbak Annisa sudah bisa menemukan, saya malah mau minta dibagi infonya. Hehehe.. :)

      Hapus
  2. Saya ke Geser & Gorom Idul Fitri 2014 dengan KM Pangrango.
    Memang mantap di Geser itu. Email saya Ayatullah21@yahoo.com
    saya punya foto foto disana terutama saat matahari tenggelam di ujung pulau Geser

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trims udah berkenan mampir di lapak saya. Foto-fotonya diup-load di mana? Biar saya mampir juga..

      Hapus
  3. Sy ingin ke geser. Bila situasi skg estimasi biaya dr Ambon Sampai balik ke ambon brp ya? Kurang lebih di geser-nya 4 hari.
    Thanks
    andynurwandy@gmail.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal Mas Andy. Trima kasih sudah mampir ke sini. Berikut ini beberapa info terkait biaya perjalanan Ambon-Geser versi melalui Kota Masohi dan berlaku sama untuk PP.
      Ambon-Pelabuhan Tulehu 15.000 (Angkot)
      Tulehu-Amahai 225.000 (VIP, Kapal Cepat)
      Amahai-Masohi 20.000 (Angkot)
      Masohi-Bula 350.000 (Mobil)
      Bula-Geser 120.000 (Kapal)
      Penginapan di Geser 120.000-150.000

      Jika menggunakan angkutan langsung Ambon-Geser, via ferry penyeberangan, sekitar 400rb tapi saya tidak bisa sharing pengalaman karena belum pernah.

      Semoga bermanfaat dan selamat mengunjungi Geser..

      Hapus
  4. Terima kasih ibu pauline untuk blog yang sangat bermanfaat. Kita jadi tau bagaimana bisa sampai ke seram timur

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2 Pak Dylan. Senang jika apa yg saya sampaikan di sini menjadi informasi yang membangun orang lain. Itu juga yg menjadi harapan saya, agar sudut2 Maluku selain Kota Ambon juga diketahui orang lain dan terkunjungi. :)

      Hapus
  5. belum sempat ke geser. kalo akses lebih mudah, boleh dijadikan tujuan wisata drpd di ambon saja hehe. salam kenal mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali.. Masalah utama di Maluku adalah akses, padahal setiap pulau/wilayah memiliki keunikan dan kecantikannya masing-masing. Semoga pada akhirnya bisa mengunjungi daerah lain di Maluku, selain Ambon.
      Terima kasih kunjungannya.. :)

      Hapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  7. Kisah Perjalanan yang asyik, salam kenal bu. Saidin Ernas dari IAIN Ambon

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Pak Saidin. Ini hal kecil yang setidaknya bisa dilakukan untuk memperkenalkan Maluku :)

      Hapus
  8. " Geser Yang Indah " Kisah yang menarik, ketika sampe di Pulau terapung Geser, aku biasa sebut pulau tapal kuda, saya terkesan mengenang masa masa tugas di Puskesmas Geser, bagi saya ibu pauline luar biasa sudah mengisahkan perjalanan nya. Trims.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trima kasih apresiasinya, Pak Abdul. Ini tugas saya sebagai anak Maluku. Senang jika tulisan ini turut menjadi rendezvous bagi Bapak ataupun orang lain yang sudah pernah menginjakkan kaki di Geser.. :)

      Hapus
  9. Bagaimana dengan keadaan sekarang ibu paulin,masih kah..penyebrangan dari sesar menuju ke geser menggunakan perahu yg seperti di atas.....
    Dan apa masih ada jaringan seluler atau alat kuminikasi aktif di geser bu paullin.karna saya akan bertugas di sana..mohon bantuan infonya ibu paullin.terimakasi ibu... Salam sejahtera..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo mbak Rara..

      Saya terakhir ke Geser ya sesuai tulisan saya di atas ini mbak. Sepertinya masih menggunakan kapal kayu (bukan perahu) dari Bula ke Geser. Saya lupa apakah ada sinyal hp di sana, sepertinya ada. Apalagi sudah beberapa tahun ini sejak saya ke sana.
      Mohon maaf kalau tidak banyak membantu..

      Salam..

      Hapus