Jumat, 27 Mei 2016

Beberapa Sudut Maluku dari Kacamata Saya

Saya lahir di Ambon sebagai anak bungsu dari 7 bersaudara (1 kakak meninggal dunia saat masih bayi). Saya menyelesaikan pendidikan sampai tingkat SMA di Kota Ambon, kemudian melanjutkan pendidikan sarjana pada Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) di Jakarta dan pendidikan magister statistika pada Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di Surabaya. Saya juga pernah diberi kesempatan mengikuti short course Public Economics selama sebulan di Maastricht, Belanda.

Sejak lulus dari STIS Jakarta tahun 2001 sampai dengan saat ini saya mengabdi di BPS Provinsi Maluku. Dalam keseharian saya, sebagaimana umumnya pegawai BPS di seluruh tanah air, saya bergelut dengan angka-angka hasil sensus/survei dan pemikiran bagaimana membuat angka-angka tersebut menjadi informasi yang berguna bagi semua lapisan masyarakat. Sebagai bagian dari pelaksanaan pekerjaan, saya sering melakukan perjalanan supervisi ke lapangan, baik itu ke semua kabupaten/kota di Maluku maupun wilayah kecamatan-kecamatan. Sebagian besar dari perjalanan tersebut terekam di blog saya ini.

Bergelut dengan angka dan langsung turun melihat ke lapangan membuat saya sedikit banyak cukup mengenal wilayah Maluku. Saya mencoba merangkumnya dalam cerita berikut.

Saya pernah berkunjung ke Pulau Buano di Kabupaten Seram Bagian Barat. Dengan menggunakan bodi (perahu bermotor ukuran sedang) bersama Sekdes Buano Selatan dan petugas Sensus Pertanian 2013 mengunjungi salah satu dusun dari wilayah Desa Buano Selatan. Saat berada di atas lautan, saya menyaksikan satu pemandangan yang mungkin termasuk langka. Kami berada di satu titik dimana kami bisa memandang 5 pulau sekaligus, yakni Pulau Seram, Pulau Buano, Pulau Kelang, Pulau Manipa, dan Pulau Buru pada waktu yang bersamaan.

Menuju salah satu dusun di Desa Buano Selatan, Kabupaten Seram Bagian Barat (2013)
Saya pernah berkunjung ke Kecamatan Kei Besar, Kabupaten Maluku Tenggara dan menyaksikan batu-batu persegi yang seakan dipahat oleh tangan manusia terhampar begitu saja di pantai-pantainya yang berpasir putih, mengundang kita untuk menikmati keindahannya.

Saya pernah berkunjung ke Pulau Kisar di Kabupaten Maluku Barat Daya yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste dan menyaksikan langsung betapa mahal harga ikan di wilayah tersebut. Saya menjadi mengerti betapa belum meratanya distribusi hasil-hasil produksi di bumi raja-raja ini.

Timor Leste di kejauhan ( 2011)
Saya pernah berkunjung ke Pulau Geser di Kabupaten Seram Bagian Timur dan menyaksikan betapa belum cerdasnya ikan-ikan di sana. Tidak ada istilah susah ikan bagi penduduk di sana. Wong tinggal ke pantai atau pelabuhan dan memancing. Saya menyaksikan sendiri begitu banyak ikan berseliweran di bawah dermaga pelabuhan sampai-sampai rasanya ingin melompat dan berenang bersama ikan-ikan tersebut. Betapa Tuhan memberkati wilayah ini dengan melimpah.

Saat akan mengunjungi salah satu keramba di Geser, Kabupaten Seram Bagian Timur (2014)
Saya beberapa kali berkunjung ke Banda dan menyaksikan keindahan panorama bawah laut yang membuat saya speechless. Banda selalu membuat saya merasakan sensasi pulau wisata sejarah dan budaya berkelas dunia namun sayangnya belum dikelola dengan baik. 

Di puncak Gunung Api Banda (2005)
Saya pernah berkunjung ke Dobo di Kabupaten Kepulauan Aru dan menyaksikan bagaimana terumbu-terumbu karang diambil kemudian dipecahkan menjadi batu-batu yang lebih kecil dan dijual sebagai batu pecah untuk kebutuhan konstruksi. Betapa masyarakat di sana belum sepenuhnya mengerti manfaat terumbu karang bagi keberlangsungan kehidupan di bawah air dan juga kontinuitas produksi ikan.

Saya pernah berkunjung ke Pulau Seira di Kabupaten Maluku Tenggara Barat dan terpesona dengan penataan lingkungan di sana. Hampir semua rumah penduduk menghadap ke lorong/gang. Bandinngkan dengan penataan di kota lain. Betapa penduduk suatu pulau yang nun jauh di sana, bisa memiliki konsep penataan ruang seperti itu.

Itu cerita di lapangan. Saya juga punya kisah tentang angka-angka yang saya amati dalam keseharian saya di atas meja. Sayangnya, angka-angka itu tidak selalu seindah pemandangan alam yang Maluku miliki. Misal, angka Tingkat Penghunian Kamar Hotel Bintang (occupancy rate) yang masih di bawah angka 60 persen. Seakan-akan hotel-hotel (bintang) di Maluku hanya bertahan hidup. Angka ekspor Maluku yang didominasi oleh komoditas ikan dan udang, padahal kekayaan alam kita-lah alasan kedatangan bangsa asing ke Indonesia. Maluku yang terkenal dengan produksi minyak kayu putih berkualitas namun tenggelam oleh gencarnya promosi merk lain.

Inilah beberapa sudut potret bumi seribu pulau dimana saya pun menjadi bagian di dalamnya yang akan menentukan bagaimana arah selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar