Pesona Baru di Barat Daya Maluku

Ini bukan merupakan perjalanan pertama saya ke wilayah Kabupaten Maluku Barat Daya. Seingat saya, sudah ketiga kalinya saya mengunjungi kabupaten di barat daya Maluku. Namun ini adalah kali pertama saya mengunjungi ibukota definitif dari Kabupaten Maluku Barat Daya - Kota Tiakur yang terletak di Pulau Moa.

Jujur, saya melakukan perjalanan ini dengan agak berat hati. Pemikiran saya, apa yang akan saya temui di wilayah yang baru ini? Awalnya agak dengan berat hati melakukan perjalanan ini. Tetapi, tadaaaa - sangat berkesan.

Petualangan dimulai dari pencarian tiket. Pesawat dijadwalkan take off sekitar pukul 10.00 WIT dan kami baru mendapat KEPASTIAN tiket sekitar pukul 07.45 WIT di hari yang sama. Tolong digarisbawahi, itu baru kepastian tiket. Tiket belum di tangan. Hanya saja saya dan rekan yang turut serta mencoba melangkah dengan iman. Bukti iman kami adalah kami ke kantor hari itu sudah dengan membawa perlengkapan layaknya seseorang yang akan berangkat. Toh kalo ga jadi berangkat, ga masalah. Tapi seandainya jadi, seperti yang terjadi pada kasus kami, pan udah siap sedulur-sedulur. Hahaha...

Perjalanan saya ke Kabupaten Maluku Barat Daya adalah dalam rangka pengawasan pelaksanaan Survei Kemahalan Konstruksi yang output datanya adalah Indeks Kemahalan Konstruksi, salah satu variabel penting dalam penghitungan Dana Alokasi Umum oleh Pemerintah Pusat. Bersama saya, salah satu rekan - Vector Hehanussa alias Etok yang melakukan kegiatan Survei Pariwisata.

Singkat kata kami tiba di bandara pukul 08.30 WIT dan pada pukul 10.00 WIT baru berhasil memegang tiket di tangan. Kesenangannya ngalah-ngalahin kontestan Indonesia Idol yang berhasil masuk ke babak berikutnya. Hahaha...

Siap naik pesawat..
Bagi pembaca yang teliti, mungkin akan bertanya. Bukannya di awal cerita kurang niat ke sono? Kok senang banget ketika akhirnya ngdapetin tiket? He-eh. Soale ada kerjaan penting yang perlu diselesaikan di sana dan kalau bukan pada waktu itu, ga yakin bakalan punya waktu lain. Penting ga sih dijelasin segitu detilnya? Pentinglah... ^_^

Kami menggunakan pesawat Trigana Air Service dan menempuh perjalanan selama 1 jam 25 menit dari Bandara Pattimura Ambon menuju Bandara ..... Orno di Kota Tiakur. Daaaan, saya menemukan hal yang unik setibanya di Tiakur. Alur pejalan kaki dari landasan menuju ruang tunggu-nya boo.. Unik!

Jalan setapak di bandara
Di bandara kami dijemput langsung oleh Kepala BPS Kabupaten Maluku Barat Daya, Pak Corneles Bulohlabna dan kemudian menuju Kantor BPS. Setibanya di kantor, layaknya pegawai yang profesional (ceile..), kami langsung melakukan briefing yang dipimpin oleh Pak Neles untuk mengevaluasi pelaksanaan pekerjaan yang menjadi tupoksi sekaligus sebagai kesempatan untuk melakukan knowledge sharing untuk menyegarkan dan memperbaharui konsep dan pemahaman teman-teman di BPS Kabupaten Maluku Barat Daya.


Setelah briefing, bersama Pak Neles dan rekan penanggung jawab pekerjaan (baca: Kepala Seksi) Statistik Distribusi, Andrew Sarioa menemani kami melakukan pemantauan lapangan sekaligus jalan-jalan. Kami sempat mengunjungi lokasi gereja tua yang terletak di suatu tempat di tepi pantai, tepatnya Desa Pati. Berikut ini saya berfoto dengan lonceng dari gereja tua tersebut. Salah satu keunikan gereja tersebut adalah jumlah tiang di dalam gereja dan juga jendela, masing-masing 12 buah. Kami mencoba menerka-nerka bahwa itu merujuk pada jumlah suku Israel dan jumlah murid-murid Tuhan Yesus yang pertama. It might be...


Masih di desa tempat gereja tua tersebut berada, kami mengunjungi lokasi pohon ara. Alkisah ini jenis pohon yang sama dengan pohon ara di dalam Perjanjian Baru, pada zaman Tuhan Yesus. Ketika menyebutkan tentang kejadian di Alkitab dan menyinggung tentang pohon ara, spontan bulu kuduk saya dan juga Etok merinding. Guys, belum pernah dakyu mengalami yang seperti itu. So? Silakan diterjemahkan sendiri...

Pohon ara yang kami lihat sudah sangat tua. Tidak jelas berapa tahun umurnya. Mungkin para ahli biologi bisa mengukurnya, monggo ke Tiakur. Keunikan dari pohon ara yang kami lihat tersebut adalah ketika pohon tersebut sudah mau tumbang akan ada tunas yang keluar dan memanjang sampai ke tanah. Tunas tersebut akan masuk ke dalam tanah, berakar dan kemudian menjadi pohon seperti tampak pada gambar di bawah ini. Batang pohon tersebut yang kemudian menopang pohon utama sehingga tetap tegak berdiri. Kalo begini modelnya, pohon tersebut bisa bertahan lama banget dunk ya. Luar biasaa....


Dalam perjalanan ke Desa Pati, kami melewati rumah penduduk dengan pagar seperti berikut ini. Jadi ingat film Inggris jadul, kayak gini kan pagar penduduknya. Ga percaya? Silakan cari tau sendiri...
Keunikan pagar ini adalah tanpa menggunakan semen, hanya batu karang yang disusun. Jangan tanya kekuatannya. Efektif untuk melindungi kerbau Moa yang ingin bertamu ke lahan orang tanpa izin.


Salah satu tempat di Tiakur yang patut dikunjungi adalah landasan pesawat alami yang digunakan tentara sekutu pada zaman Perang Dunia II. Lokasinya di Desa Klis. Kenapa disebut landasan pesawat alami, karena memang natural tanpa mengalami sentuhan tangan manusia. Rumputnya pun seperti dipangkas dengan teratur, padahal pun tanpa sentuhan tangan manusia. Saya bertanya-tanya, apa karena banyak kuda dan kerbau di Moa sehingga rumput tetap terpangkas rapi ya? Bagus juga sistem sensor pada kuda dan kerbau Moa.

Landasan pesawat tentara sekutu
Oh iya, kunjungan ke landasan pesawat tentara sekutu ini dilakukan di hari kedua setelah selesai melakukan kunjungan ke pasar dan pengecekan beberapa komoditi survei. Saya mendapat kehormatan didampingi oleh rekan-rekan BPS Kabupaten Maluku Barat Daya di antaranya Yohanes Tapar alias Bu John, Hendra Unawekla, Andrew Sarioa, dan Wenceslaus Suarliak.


Dalam perjalanan tersebut, kami singgah dan menikmati makan siang di rumah Oom Roky yang ketepatan adalah Koordinator Statistik Kecamatan (KSK) Teladan Provinsi Maluku Tahun 2017. Kami disuguhi menu spesial: Daging Kerbau Asap. Luar biasa... Lebih luar biasa lagi, alkisah ada keluarga yang mengerjakan kuburan milik anggota keluarganya. Untuk mengerjakan kuburan tersebut, mereka menyembelih 2 ekor kerbau. Fyi, seekor kerbau harganya paling murah 5 juta. Setelah pengerjaan kuburan selesai, dikarenakan masih ada sisa sopi (tuak) yang disediakan selama pengerjaan kuburan tersebut, mereka sepakat untuk mengadakan acara dalam rangka menghabiskan sopi tersebut. Hanya untuk menghabiskan sopi, dipotong lagilah 8 ekor kerbau, yang di dalamnya kami turut menikmati. Itu baru kerbau coy, belum bahan pendukung lainnya seperti nasi, umbi-umbian, bawang, cabe, dan aneka bumbu masak lainnya. Ini cukup kontradiktif dengan tingginya angka kemiskinan Kabupaten Maluku Barat Daya. #merenung...


Di Desa Klis ini jugalah, untuk kedua kalinya dalam hidup, saya naik kudaaa.... Hahaha...


Saya juga sempat berfoto bersama Oom Roky dengan tanaman cabe yang ga mirip cabe merah keriting dan juga ga mirip cabe merah besar. Agak sedikit mirip paprika merah tetapi ukurannya kecil. Bingung? Saya juga...


Ternyata pada akhirnya saya sangat menikmati perjalanan ke Tiakur, Maluku Barat Daya. Sebuah ibukota kabupaten yang benar-benar dimulai dari ketiadaan. Penataan kota-nya ciamik. Respondennya ramah. Pemerintah Kabupaten Maluku Barat Daya juga tegas tidak memberikan ijin bagi usaha bar dan sejenisnya. Oh ya, dan satu lagi. Saya sangat menikmati aneka roti yang bener-bener fresh from the oven, hal mana di zaman maju ini sudah sulit ditemui bahkan di Kota Ambon. Keep moving Maluku Barat Daya. God bless!  





Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.