Cerita dari Kota Tertua di Indonesia

Sabtu, 3 Maret 2018 menjadi salah satu hari bersejarah dalam hidup saya, secara pada tanggal tersebut untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Pulau Sumatera. Kota Palembang yang menurut Oom Wikipedia adalah kota terbesar kedua di Pulau Sumatera sekaligus kota tertua di Indonesia. Wow! Semakin tergodalah saya mengunjungi Palembang.

Dalam perjalanan saya ke negara orang, saya beberapa kali melintasi udara Pulau Sumatera dan melihat dari layar di depan saya posisi kota-kota termasuk Palembang. Namun ketika akhirnya saya benar-benar mengunjungi-nya, puji syukur sekali...

Sebenarnya perjalanan ke Palembang ini bagian dari menyambi perjalanan dinas ke Yogya. Aturannya acara di Yogya berlangsung di hari Senin, 5 Maret 2018. So, mampir dulu saya ke Palembang. Ketepatan ponakan sulung saya sementara melakukan praktek profesinya di Palembang dan dia berulang tahun di tanggal 5 Maret, pas banget kan?! Hehehe...

Lepas landas dari Bandara Internasional Pattimura di Ambon pukul  08.30 WIT, saya tiba sekitar pukul 13.00 WIB di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, setelah transit di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Banten. Di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, sambil menunggu rekan semasa kuliah menjemput, saya sempat mengabadikan ucapan selamat kepada rekan kerja yang hari itu menikah di Kota Ambon.


Saya bersyukur sekali dan merasa mendapat kehormatan besar karena di hari libur yang seyogyanya menjadi waktu buat keluarga, rekan dan teman sekelas semasa kuliah di Otista 64C, Jakarta - Anugrahani Prasetyowati bersama suami - Kak Jun dan juga anak bungsu mereka, meluangkan waktu untuk menjemput saya dan menemani berkeliling Kota Palembang. Mungkin ini kesekian kalinya saya mengucapkan terima kasih, tetapi memang saya sangat bersyukur.

Ketika saya dibawa melintasi Jembatan Ampera yang menghubungkan Seberang Ulu dan Seberang Ilir dari Sungai Musi, saya sesaat terkesima. Jembatan yang menjadi icon Palembang dan yang beberapa hari terakhir saya saksikan terus di internet dalam pencarian saya akan hotel maupun tempat-tempat yang patut dikunjungi, sekarang terbentang di hadapan saya. Indah sekali...

Saya sempat dibawa keliling Jakabaring Sport City, lokasi bakal penyelenggaraan Asian Games 2018 selain Jakarta. Di sana saya menyaksikan beberapa venue tempat penyelenggaraan lomba-lomba termasuk danau tempat perlombaan ski air. Duh, saya kalo ngeliat air begitu, bawaannya pengen nyemplung ee... Puji Tuhan, masih bagus pengendalian dirinya. Hghg...


Dalam perjalanan dari Jakabaring Sport City, ketika Hani menawarkan mau makan apa, spontan saya menjawab PEMPEK! Walaupun hanya Tuhan yang tahu, sejatinya saya kurang menyukai makanan berbahan dasar ikan dan tepung sagu tersebut, akan tetapi rugi rasanya udah nyampe ke tempat-nya tapi melewatkan pempek. Dikarenakan Kak Jun, suami dari Hani kurang begitu menyukai pempek, kami mengikuti tempat jualan pempek yang sesuai dengan lidahnya Kak Jun. Dan inilah tempatnya...

Sorry Hani dan Kak Jun, ini candid.. Hghg...




Pempek Saga Sudi Mampir terletak persis di depan Kantor Walikota Palembang. Saya belum merasakan pempek tempat lainnya yang katanya juara-nya pempek di Palembang, tetapi langsung jatuh hati saya sama pempek di sini. Buktinya, selama 3 hari di Palembang, saya makan siangnya selalu di Pempek Saga ini. Dan dua menu yang selalu menjadi pesanan saya adalah lenggang yang adalah varian pempek yang dibakar dan pempek ikan selam. Jadi suka sama pempek ee..

Lenggang - pempek bakar

Proses pembuatan Lenggang

Pempek kapal selam
Kedua jenis pempek ini sungguh-sungguh memikat saya. Hampir-hampir saya melupakan program pengurangan berat badan saya. Cuko-nya pas banget. Untuk pempek kapal selam, crunchy beud... Apalagi ditutup dengan es kacang merah-nya. Nikmaatt....

Seusai menikmati pempek, kami menuju kompleks Benteng Kuto Besak atau yang sering disingkat sebagai BKB. Ini merupakah salah satu spot terbaik untuk berpose dengan latar belakang Jembatan Ampera. Di sini juga terdapat Tugu Belido. Belido alias belida ini adalah salah satu jenis ikan bahan dasar pembuatan pempek tetapi yang sudah susah ditemui. Jika dibuat mejadi pempek pun harganya akan lebih mahal.




Puas jalan-jalan dan ngobrol sepanjang perjalanan, saya lalu diantar ke tempat saya menginap selama di Kota Palembang. Matur nuwun sanget ya Hani, Kak Jun... Sampai bertemu lagi..

Perjalanan menikmati Kota Palembang masih berlanjut di keesokan harinya. Minggu pagi, Bella - ponakan terkasih yang menjadi alasan saya berkunjung ke Palembang datang ke hotel. Kami berdua kemudian menuju Gereja Baptis Indonesia Palembang yang terletak di depan Kodam II/Sriwijaya untuk beribadah Minggu. Seusai ibadah Minggu, saya mengajak Bella ke Pempek Saga Sudi Mampir.


Seusai santap siang, kami menuju Kompleks BKB untuk menyewa perahu menuju ke Pulau Kemaro, salah satu destinasi wisata Kota Palembang. Harga sewa perahu adalah 150ribu untuk perjalanan pulang-pergi. Berikut foto-foto perjalanan kami.

Di samping Tugu Belido itulah, tempat penyewaan perahu

Di dalam perahu sudah tersedia pelampung. So, bagi yang tidak bisa berenang, no worries..

Cakep kaaannn...

Latar belakang pagoda di Pulau Kemaro.
Sekembalinya kami dari Pulau Kemaro, kami berjalan kaki menuju Kampung Pempek, tempat dimana kita dapat menjumpai banyaaaak bangeeet penjual pempek dari harga per buah 800 rupiah. Penasaran?? Silakan datang dan saksikan sendiri... Dalam perjalanan tersebut, saya sempat mengabadikan foto kali kecil yang bersih. Kapan ya Ambon macam begini??


Hari Senin, 5 Maret 2018, kami mulai merayakan ulang tahun Bella dengan makan pagi di RM. Haji Syafei yang terkenal dengan mie celor-nya di Pasar 26 Ilir.



The birthday girl... :*
Seusai menikmati sarapan pagi, kami sempat cuci mata di Pasar 26 Ilir yang terletak di dekat mie celor dan membeli duku. Ah ya! Ini dia. Bukan cuma menikmati pempek di Palembang, tapi yang biasanya di Jakarta melihat pedagang duku Palembang, skarang makan duku juga di Palembang. Tapi dukunya dari Komering alias Komring.

Nemu lemon cina jugaaa...
Duku Komring
Sekembalinya ke hotel, saya dan Bella pun siap-siap untuk check-out. Setelah mampir makan siang LAGI!!! di Pempek Saga Sudi Mampir, saya mengantar Bella ke tempat prakteknya dan kemudian melanjutkan perjalanan ke bandara. Oh ya, satu hal lagi yang wow dari Palembang. Ketepatan saat masuk ke toilet, ga ada penjaganya. Saya pun ga berani ninggalin koper di tempat barang secara pernah ada kejadian punya teman mau diambil orang, walau di bandara lain seh. Alhasil, koper pun turut masuk ke toilet, secara tempat naruhnya juga kece beud...


Sesaat setelah tulisan ini di-publish, saya ditelpon Hani yang memang hari itu mau ke Jakarta juga. Ternyata Hani sudah di ruang tunggu daaaan kami bertemu lagi. Bahkan saya masih dikasih duku 1 tas kresek. Luar biasaaa.... Sudah dijemput pas nyampe, pas mau ninggalin pun barengan di bandara. Tengkiuuu Han!!!

Okay Palembang, time to say good bye and see you again... :) :*

6 komentar:

  1. Balasan
    1. Iyaaaaa Icha... Inilah salah satu kenikmatan hidup yang patut dinikmati sepenuhnya tanpa terinterupsi dengan rutinitas. Bersyukur sekali bisa menikmati Palembang. Yang ketemu Hani aja udah bagus banget kenangannya. Ga kebayang kalo ketemu semua teman. Bisa2 ga balik Ambon. Hahaha...

      Hapus
  2. Balasan
    1. Ayo direncanakan, Ning. Apalagi kalo bisa jalan2 sekeluarga, pasti akan sangat berkesan.. :) :)

      Hapus
  3. Ahhh padahal ngarepin ada foto uc nyebur ke kolam olimpiade wkwkwkw... but its really good story uc... two thumbs up 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya sangat ingin, Ci. Cuma irit baju, secara Sabtu muka baru bale Ambon. Dan lagi, beta kalo su dalam aer, apalagi bersih, susah stop. Skang lia lai, su dapa kas tinggal. :D :D

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.