Perjalanan Menuju Awardee LPDP

Sebenarnya saya belum ingin berbagi informasi apapun terkait proses seleksi beasiswa yang sementara saya ikuti. Rencananya saya baru akan melakukan hal tersebut, ketika kami sudah menuju tempat studi di negara tujuan. Akan tetapi melihat perkembangan belakangan ini dari rekan-rekan sesama calon awardee, saya jadi berubah pikiran.

Pada tahun 2017 untuk pertama kalinya program Beasiswa Afirmasi Indonesia Timur diluncurkan oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Tentang apa itu LPDP, bisa dibuka di sini.
Saya pun tahunya dari adik kelas di SMP Negeri 6 Ambon yang sehari-harinya bertanggung jawab untuk mengatur urusan persampahan se-Kota Ambon. Thanks, Inge.. ;)

Saya memutuskan untuk akhirnya ikut seleksi beasiswa afirmasi Indonesia Timur (selanjutnya disingkat BIT) kurang lebih 2 minggu sebelum penutupan, dengan catatan 2 minggu tersebut termasuk libur cuti bersama Lebaran tahun 2017. Agak mepet memang, tetapi saya memang membutuhkan waktu untuk memutuskan, secara ini akan jadi ke-4 kalinya saya melamar S3. Tiga kesempatan sebelumnya selalu berakhir dengan informasi bahwa saya tidak diterima. Saya jadi malu juga sama supervisor S2. Minta rekomendasi melulu tapi gagal terus. Salah satu dasar saya akhirnya memutuskan untuk ikut adalah bahwa sebagian besar persyaratan sudah ada di laptop saya, dan berikutnya adalah iseng. Ya, iseng! Pemikiran saya, sudah biasa gagal ini. Nambah gagal sekali lagi ga apa-apalah.. #sigh

Libur Lebaran 2017 adalah waktu yang saya tunggu-tunggu untuk menuntaskan semua persyaratan yang dibutuhkan untuk apply LPDP, khususnya proposal riset. Tak dinyana, salah satu senior saya semasa kuliah yang juga adalah senior di kantor dipanggil pulang ke rumah Bapa di sorga dalam masa liburan tersebut. Mau tidak mau, saya turut menyiapkan hal-hal terkait persiapan pemakaman almarhum sambil terus membayangkan proposal saya yang belum keliatan wujudnya. Hari pertama kerja setelah liburan langsung saya gunakan dengan maksimal untuk mengurus aneka macam surat keterangan dan juga proposal. Semua persyaratan siap di-up load ke web http://beasiswa.lpdp.kemenkeu.go.id/ pada tanggal 7 Juli 2017 yang menjadi deadline apply. Kebayang dong, hectic-nya. Mana server menjadi sangat lambat karena itu adalah kesempatan terakhir semua peminat beasiswa LPDP sak-Indonesia untuk menuntaskan lamarannya secara online. Puji Tuhan, akhirnya ke-up load juga semua dokumen saya. Dan yang lebih puji Tuhan lagi, ternyata deadline tersebut diperpanjang ke tanggal 14 Juli 2017. Haisshhh...

Pada tanggal 10 Agustus 2017 saya menerima e-mail yang berisi informasi ini:



Waktu pelaksanaan assessment online test ini adalah tanggal 14 Agustus 2017, dimulai pukul 00:00:00 WIB dan ditutup 23:59:59 WIB. Saya cukup terintimidasi dengan arahan tersebut di atas, sedemikian hingga saya memutuskan untuk mengerjakannya pagi-pagi benar. Di tanggal 14 Agustus 2017 tersebut, saya tiba di kantor pukul 05.00 WIT. Setelah berdoa dan membaca bacaan Alkitab saya hari itu, saya mulai mengerjakan test selama sekitar 1 jam. Pertimbangan saya memilih mengerjakan sepagi itu adalah biar lebih tenang aja. Ga kebayang deh, ngerjain test yang harus konsen banget dan tiba-tiba dipanggil Boss atau jaringan down. Kalo sore, udah cape kalii...

Hasil seleksi assessment online test diumumkan tanggal 23 Agustus 2017 namun baru berhasil saya buka keesokan harinya. Sungguh, tanggal 24 Agustus 2017 kemudian menjadi sangat indah buat saya. Di hari itu juga saya yang sedang berada di Jakarta dalam proses pengurusan student visa untuk mengikuti training di India dan di hari itu saya pun menerima kabar gembira bahwa saya lulus seleksi assessment online test-nya LPDP. Masih segar dalam ingatan saya, ketika seseorang yang mengetahui kelulusan saya tersebut berkomentar begini, "Pauline lulus assessment online test LPDP ya? Kok bisa? Soalnya si anu ga lulus?" Jiaaahh...

Informasi tentang tes tahap LPDP selanjutnya saya terima tanggal 6 September 2017 ketika saya sedang berada di Hyderabad, India.


Sesegera saya membaca e-mail pengumuman tersebut, langsung keringetan. Bapak/Ibu/sodarah-sodarah, bagaimana mungkin saya bisa mengikuti seleksi substansi tersebut yang alkisah akan dilaksanakan pada September 2017 sedangkan saya baru akan meninggalkan India di akhir September 2017 dan tiba di Ambon pada awal Oktober 2017? Seketika saya lemes. Sambil menyiapkan diri untuk mengikuti training di hari itu, saya sempet komplain sama Tuhan, "Kalau hanya untuk ga bisa mengikuti semua tahapan tes sampai tuntas, kenapa Tuhan bawa saya sampai ke titik ini?" Di sinilah luar biasanya Tuhan. Terkadang membutuhkan waktu lama untuk saya mengerti jawaban Tuhan, tetapi pada hari itu spontan muncul pemikiran di kepala saya, "Tenang dolo. Ada blom baca e-mail tu pung lampiran lai.." Saya belum bisa dengan segera membuka lampiran karena kelas keburu dimulai, tetapi saya mulai merasa lebih tenang. Puji Tuhan, inilah isi lampirannya:


Pada kenyataannya, saya kebagian jadwal tes tanggal 5-6 Oktober 2017. Luar biasa memang kebaikan Tuhan. Saya tiba dari India di tanggal 1 Oktober 2017, dan keburu mengikuti tes. Salah satu persyaratan tes substansi adalah membawa semua dokumen asli untuk di-verifikasi langsung oleh Tim LPDP. Nah, satu lagi masalah. Saya baru ngeh yang akte kelahiran asli saya entah dimana. No other solution, saya HARUS bikin baru. Itu artinya harus mengurus surat keterangan hilang di kepolisian dan lain-lain. Sampai-sampai kakak-kakak terkasih saya turut urun-rembug membantu sampai pada tanggal 5 Oktober 2017 saya menerima akte kelahiran yang baru untuk ditunjukkan di tanggal 6 Oktober 2017. Hufft..

Dari semua tahapan seleksi, bagi saya tes substansi inilah yang luar biasa menguras energi. Ada beberapa tes yang dilakukan dalam 2 hari efektif.



Untuk seleksi esai, kita diberikan 2 alternatif topik sebagai dasar penulisan esai dalam bahasa Inggris. Saya masih inget banget, waktu diumumkan pengawas bahwa esai-nya in english, spontan peserta pada huuuuuuu... Trus respons pengawas dong, "Lah, ini kan beasiswa luar negeri!". Iya juga ya.. Hahaha... Seleksi Leaderless Group Discussion (LGD) adalah diskusi suatu topik yang sudah given tanpa ada pemimpinnya. Di sini dibutuhkan teknik untuk tetap aktif tanpa harus mendominasi. Daaan, yang paling menegangkan adalah wawancara. Masing-masing kami diwawancarai oleh tim panelis yang terdiri dari 4 orang. Wawancara bisa dalam bahasa Indonesia, bisa juga dalam bahasa Inggris, maupun kombinasinya. Ini beberapa pertanyaan yang ditujukan kepada saya waktu itu:

(T) Bagaimana pendapat Anda tentang bendera negara-negara asing yang banyak ditemui di sudut-sudut Kota Ambon, seperti di pangkalan ojek?
(J) Ga apa-apa sih Pak, menurut saya. Itu seperti asesoris doang. Wong ga dinaikin di tiang bendera kan? Bapak perlu memahami kultur orang Maluku yang mana sebagian besar memiliki keluarga di luar negeri, misal Belanda. Apalagi pernah ada kapten Timnas Belanda yang keturunan Maluku. Lebih rame lagi tuh Pak.

(T) Kamu kan ga mengalami konflik sosial di tahun 1999 karena sedang kuliah di Jakarta. Bagaimana ketika kamu kembali ke Maluku?
(J) Seingat saya, waktu saya kembali ke Ambon di awal tahun 2000-an, masih ada pemisahan wilayah tempat tinggal antar kelompok masyarakat. Tetapi saya tetap bisa ketemu dengan teman yang berbeda agama dan diajak main ke suatu mal yang seyogyanya tidak dikunjungi oleh saya dengan agama yang berbeda waktu itu. Biasa saja, Pak.

(T) Kamu ketika kuliah ke luar daerah untuk pertama kali, apa sulit beradaptasi?
(J) Jujur, saya agak keteteran di awal-awal perkuliahan di Jakarta. Yang pertama, saya merasa ilmu yang dimiliki teman-teman dari daerah lain, khususnya Pulau Jawa lebih maju. Saya inget banget ada soal Matematika yang mana ketika mereka mengerjakan hanya membutuhkan 5 langkah di saat saya membutuhkan 7 langkah. Kemudian tidak bisa saya pungkiri, saya sempat terbuai dengan ramainya kota besar. Itulah mengapa IPK saya di 2 tahun pertama agak jeblok walaupun saya tetap bisa lulus 4 tahun.

(T) Bagaimana cara kamu menyiasati kesulitan beradaptasi tersebut?
(J) Saya menanamkan pemahaman bahwa untuk saya datang ke sini, ada banyak hal yang sudah dikorbankan oleh keluarga saya. Orang tua saya harus mengeluarkan ekstra uang, hal mana tidak mudah bagi mereka di saat itu. Saya meletakkan kedua orang tua saya di depan mata saya untuk memotivasi saya. Saya harus sukses untuk orang tua saya. Mereka sudah banyak berkorban bagi saya.

Kurang lebihnya itu model pertanyaan yang diajukan pada saat saya diwawancarai. Prinsipnya, mengalir saja. Jangan ada yang di-setting. Hasil seleksi substansi datang pada tanggal 25 Oktober 2017 saat saya sedang persiapan untuk mengikuti pendalaman materi (semacam ujian) pelatihan Instruktur Nasional Survei Biaya Hidup di Bandung. Malam itu saya diliputi keraguan layaknya akan memakan buah simalakama. Jika tidak saya lihat hasil pengumumannya, saya tentu penasaran dan ga konsen belajar. Jika saya buka dan ternyata saya ga lulus, bisa-bisa besoknya saya gagal total dalam pendalaman materi. Akhirnya, setelah terlebih dahulu berdoa meminta kekuatan dan penyertaan dari Tuhan, saya membuka web LPDP. Ketika melihat bahwa saya lulus, waaahh puji Tuhan!

Sejak pengumuman di akhir Oktober 2017, kami baru memperoleh kabar lagi dari LPDP pada tanggal 6 Februari 2018:


Kemudian pada tanggal 15 Februari 2018:


Daaan, di akhir Maret 2018 segala sesuatunya menjadi jelas. Saat saya membagikan kisah ini, kami para calon awardee BIT LPDP, di mana di dalamnya terdapat 27 dari 28 putera-puteri Maluku sedang berada di suatu kota di Pulau Jawa untuk mengikuti kegiatan pengayaan bahasa dalam rangka meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris kami. Kiranya Tuhan menyertai dan menolong kami sehingga pada waktunya kami benar-benar berangkat menuju negara tujuan masing-masing untuk melanjutkan pendidikan kami...

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.