Terkoneksi dengan-Nya

https://www.pinterest.com/pin/523543525404590763/
Dalam perenungan pribadi akan kebaikan dan kemurahan Tuhan dalam hidup saya di suatu sore, muncul pemikiran mengapa tidak didokumentasikan saja. Syukur-syukur menjadi inspirasi bagi yang ketepatan mampir ke lapak ini kan? Jadi inilah beberapa momen fenomenal dalam perjalanan spiritual saya.

Awal 1990-an
Saya mulai mengenal bahwa Tuhan itu nyata ketika saya duduk di bangku sekolah menengah pertama. Saya ingat sekali waktu itu Mama sedang di Surabaya dan masih belum memperoleh tiket kapal untuk kembali ke Ambon. Papa memanggil kami anak-anak yang ada di Ambon dan berkata,
"Berdoa untuk Mama ya. Mama masih belum dapat tiket untuk pulang ke Ambon. Jadinya malam ini Mama dan Stevi (salah satu kakak saya) akan begadang di tempat penjualan tiket untuk besok pagi-pagi benar mulai ngantri."

Saya beneran berdoa seperti yang Papa minta. Besoknya Papa bilang kalo Mama sudah berhasil mendapatkan tiket. Ketika mendengar kabar itu, saya terpana dalam arti yang sesungguh-sungguhnya dan sebenar-benarnya. Tuhan menjawab doa saya! Berarti Tuhan itu benar-benar nyata ya? Ini adalah awal dari perjalanan saya mengenal-Nya.

1997
Dalam persiapan mengikuti ujian akhir nasional SMA, pada suatu malam sambil duduk di tempat tidur yang dipenuhi buku-buku pelajaran, saya bilang begini, "Tuhan, tidak lama lagi saya akan lulus SMA bersamaan dengan kakak saya, Ino. Papa-Mama tidak punya banyak uang, Tuhan. Jadi saya minta kuliah gratis. Biar Papa-Mama bisa fokus ke biaya kuliah Ino."
Dalam bayangan saya saat itu, kuliah gratis itu di STPDN. Ternyata Tuhan menjawab doa saya dengan memberikan saya kesempatan lulus di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS), yang juga ikatan dinas. Puji Tuhan, saya hanya dibiayai Papa-Mama dan kakak-kakak di 2 tahun pertama. Dua tahun selanjutnya saya dimampukan survive sendiri dengan uang ikatan dinas dan hasil mengajar privat.

2005
Suatu sore, kurang lebih 2 minggu sebelum almarhum Papa dipanggil pulang, saya sedang duduk di teras rumah orang tua piara di tempat tugas saya di Masohi, Maluku Tengah. Tiba-tiba seperti muncul kilasan sebuah kejadian di pemikiran saya. Saya melihat Papa saya terbujur kaku di peti, memakai baniang hitam (pakaian Majelis Gereja Protestan Maluku), saya memakai blazer biru tua dan saya sedang memberikan ucapan terima kasih di dalam gereja. Spontan saya kaget.

Ketika Papa meninggal 2 minggu kemudian karena kecelakaan laut sepulang membawa bantuan kepada salah satu jemaat di Pulau Seram, terjadilah semua seperti yang saya lihat sebelumnya. Almarhum Papa dari lokasi kejadian menggunakan pakaian kemeja putih tetapi setibanya di rumah duka kemudian ditukar dengan baniang hitam. Adik Mama yang seyogyanya menyampaikan ucapan terima kasih di gereja, pada detik-detik terakhir menyatakan ketidaksanggupannya saat jenazah Papa dalam proses memasuki gedung gereja. Salah seorang adik sepupu Mama kemudian memberitahukan saya yang Mama meminta saya menggantikannya. Saya sempat menolak karena saya anak bungsu dan perempuan. Masih ada kakak-kakak lelaki saya. Tetapi kemudian saya melakukannya dengan memakai pakaian blazer biru tua!

2006
Jawaban Tuhan atas doa saya minta kuliah gratis itu ternyata bersambung. Tuhan bukan hanya memberikan kesempatan kuliah sarjana gratis, tetapi juga sampai ke jenjang master. Saya diberikan kesempatan bersama rekan dan senior dari BPS se-Indonesia sebagai angkatan pertama beasiswa BPS dalam negeri untuk melanjutkan S2 di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di Surabaya. Di tanggal kelahiran saya yang bertepatan dengan tanggal tes di ITS, saya mengalami dialog dengan Tuhan yang menjadi salah satu fondasi bagi proses mendengar dan memahami suara Tuhan. Tentunya Tuhan tidak berbicara dari langit begitu. Tetapi pimpinan-Nya melalui suara hati sungguh nyata.

Ada 5 srikandi dalam angkatan pertama beasiswa BPS di ITS. Seusai tes, kami berlima sama-sama hunting kost-kostan. Dimulai dari dalam kompleks ITS sampai ke luar kompleks. Sekitar 3 gang di luar kompleks ITS sudah kami jelajahi dan tak kunjung menemukan yang pas di hati. Kami kemudian memutuskan untuk ngaso bentar di poskamling yang berhadapan dengan gang berikutnya. Sambil minum teh botol, saya melihat sebuah rumah yang cukup megah berlantai 2. Spontan ada suara di hati, "Nanti kamu kost di situ."

Pikiran saya kemudian merespons dan terjadilah dialog tanpa suara. Saya bilang, "Masa iya sih Tuhan? Pertama, itu belum tentu rumah kost. Kedua, kalaupun itu rumah kost, apa ada kamar kosong? Ketiga, kalaupun ada kamar kosong, keknya akan mahal deh. Bagus begitu rumahnya." Keraguan saya tidak direspons. Rumah itu kemudian menjadi sasaran pengecekan berikutnya, yang ternyata betul sebuah rumah kost. Namun kamar kosong hanya tersisa 2, padahal kami berlima. Sambil keluar dari gerbang kost tersebut, saya sempat membatin, "Tuh kan Tuhan, ga jadi." Again, no response.

Keesokan harinya saya ditelpon salah satu senior yang mengabari kalau salah satu senior yang lain sudah mendapatkan kost dan bagaimana kalo kami berempat masuk dulu ke kost yang tinggal 2 kamar kemarin sambil mencari-cari. Jadilah seperti itu. Bulan depannya ketiga teman se-kost menemukan kost baru dan mengajak pindah. Ketika saya komunikasikan dengan Mama, beliau mengatakan hatinya lebih condong untuk saya tetap di kost yang sekarang, yang kemudian saya turuti. Jadilah saya kost di tempat itu selama 24 bulan dari April 2006 - Maret 2008.

2008
Sepulang studi di Surabaya, sekitar akhir bulan September saya bersama Mama masuk gereja jam 7 pagi. Selesai bersaat teduh, ketika saya mengangkat kepala tiba-tiba muncul suara di hati,
"Yang 2 tahun saja ditunjukkan, apalagi yang selamanya!"
Seketika itu saya mengingat proses saya ditunjukkan kost di tahun 2006 yang memang saya tempati selama 2 tahun. Saat itu rasanya terharu sekali. Tanpa seutuhnya mengerti apa maksud Tuhan dengan kata-kata itu, saya membatin, "Tuhan, hidupku ini milik-Mu. Atur saja seseuai yang Kau pandang baik."

2013
Saya dalam perjalanan ke Desa Allang Asaude di Kecamatan Huamual Belakang, Kabupaten Seram Bagian Barat. Itu untuk pertama kalinya saya akan sampai ke wilayah kecamatan tersebut. Saya mengendarai sendiri motor saya, sambil ditemani seorang pengendara ojek yang direkomendasikan Ibu Kepala BPS Kabupaten Seram Bagian Barat. Posisi berkendara saat itu, motor saya di depan dan motor bung ojek di belakang saya. Ketika kami tiba di suatu pertigaan jalan ada pilihan kiri atau kanan jalan yang harus dipilih namun akan berakhir di ujung yang sama. Jalan bagian kanan nampaknya lebih luas dan nyaman sedangkan yang kiri lebih banyak rumputnya. Spontan di hati muncul kata-kata,
"Ambil yang kiri", yang kemudian saya ikuti.
Ketika tiba di tempat tujuan, bung ojek tersebut bertanya,
"Usi pernah ke sini?"
Lalu saya jawab belum pernah dong. Secara itu kali pertama, makanya dikasih guide. Kemudian lanjut bung ojek tersebut,
"Kok Usi tadi tahu harus milih jalan yang kiri?"
Again, pimpinan Tuhan nyata sekali buat saya.

2015
Saya ingat benar itu terjadi di awal Januari tak lama setelah perayaan tahun baru, ketika saya sedang mencuci piring. Saya bilang begini sambil nyuci,
"Tuhan, tahun ini adalah tahun terakhir kepengurusan Litbang di gereja (saya salah satu pengurusnya), dan sejarah jemaat belum juga selesai. Coba Tuhan kasih beta 1 bulan bagitu ke Belanda ka, voor dapa info terkait." 

Setelah itu, tidak pernah lagi saya pikirkan kata-kata saya itu. Di awal Februari, di meja kerja di kantor, karena merasa suntuk dengan pekerjaan saya kemudian membuka beberapa web berita dan entah bagaimana tibalah saya di salah satu web yang menginformasikan short course ke Belanda. Saya lalu mengunduh beberapa short course yang berkaitan dengan bidang pekerjaan saya. Sore itu saya membuka lagi file-file tersebut dan kemudian menetapkan hati akan apply satu short course yang paling berkaitan erat dengan pekerjaan saya. Durasi short course itu adalah 4 minggu alias 1 bulan! Ketepatan saya sudah memiliki file-file yang menjadi syarat di laptop, sore itu juga saya apply. Dua hari kemudian saya menerima email dari institusi penyelenggara yang kurang lebih bunyinya,
"Terima kasih atas minatnya untuk program short course kami. Akan tetapi mohon maaf, TOEFL Anda tidak seperti yang diminta"
Saya langsung membalas email tersebut sebagai berikut,
"Terima kasih atas responsnya. Saya mengakui TOEFL saya tidak seperti yang diminta. Namun ijinkan saya menjelaskan alasannya. Saya tinggal dan bekerja di Maluku, Indonesia bagian Timur yang hanya memiliki satu tempat penyelenggara tes TOEFL dan itupun hanya ITP. Saya harus ke kota lain di Indonesia bagian Tengah atau Barat untuk bisa memperoleh sertifikat TOEFL yang lain atau IELTS. Saya tidak meminta pengecualian, hanya ingin menjelaskan kenapa TOEFL saya tidak seperti yang diminta."

Dua hari berlalu dan email saya tidak direspons. Saya lalu membatin,
"Tuhan, dong belum balas beta email, bilang apa ka apa ka?"
Spontan di hati saya muncul suara,
"Sabar, dong ada bicara ale pung kasus."
Saya kemudian hanya membatin, "Ooohhh"

Pada hari keempat setelah saya membalas email mereka, datanglah balasannya yang kurang lebihnya berbunyi,
"Dewan kami telah membicarakan masalahmu. Untuk kasusmu TOEFL-mu diterima. Silakan mengirimkan dokumen terkait lainnya."
Spontan saya menelpon Boss saya dan menceritakan isi email yang barusan saya terima itu. Saat itu saya bilang ke Boss saya,
"Saya tahu prosesnya masih panjang. Tapi sampai di sini pun, Tuhan Yesus luar biasa!"

Singkat kata, saya menerima LoA dari universitas penyelenggara dan tahap berikutnya adalah apply dana-nya ke The Netherlands Fellowship Programmes (NFP). Pada akhir Februari 2015 semua tahapan aplikasi ke NFP tuntas dan pengumuman hasil akan ada di akhir Mei 2015. Merasa sudah setengah jalan untuk lolos seleksi short course ke Belanda, saya mulai merencanakan perjalanan. Karena  akan berada 4 minggu di Belanda, saya merencanakan minggu pertama akan ke Belgia, minggu kedua ke Paris, minggu ketiga ke Jerman. Saya bahkan mulai searching hostel dan sebagainya. Di akhir Maret 2015 dalam ibadah syukuran ultah salah satu ponakan saya, tiba-tiba datang lagi suara-Nya yang kalau bisa saya gambarkan mengandung makna kecewa dan nelongso, 
"Kamu janji kan kalo dikasih kesempatan 1 bulan ke Belanda mau nyari info terkait sejarah jemaat. Kenapa sekarang merencanakan yang lain?"
Seketika itu saya langsung tertunduk. Respons saya (membatin) adalah,
"Tuhan, beta minta ampong. Semua rencana jalan-jalan beta batalkan. Tuhan tolong bukakan jalan terkait sejarah itu ya Tuhan."
Tidak sampai di situ, saya masih membatin lagi,
"Tapi Tuhan, beta beneran lulus ya? Secara ini masih akhir Maret dan pengumumannya baru akan ada di akhir Mei."
Dan ternyata saya beneran diterima berdasarkan pengumuman di awal Juni 2015. Amazing! Saya sudah dikasih bocorannya sejak akhir Maret sekalipun melalui teguran. Hehehe..

2017
Saya sedang mengikuti suatu training di Hyderabad, India ketika menerima surat undangan untuk seleksi Tes Substantif beasiswa LPDP. Tulisan di body email menginformasikan yang tes-nya akan diselenggarakan di bulan September. Langsung panik saya, secara saya masih akan berada di India sampai akhir September. Spontan saya bilang ke Tuhan, kalo hanya untuk tidak tuntas mengikuti semua tahapan seleksi, kenapa saya dikasih lolos sampai ke tahap ini? Saat itu juga muncul suara,
"Sabar. Ada blom baca email sampai selesai juga."
Beberapa waktu kemudian ketika saya berkesempatan membaca seluruh lampiran email, ternyata untuk Provinsi Maluku akan diselenggarakan tanggal 5-7 Oktober. Luar biasa pengaturannya Tuhan.

Dalam perjalanan kembali dari India, pesawat yang saya tumpangi transit di Bangkok. Ketika saya tiba di ruang tunggu penerbangan ke Jakarta dan berhasil terkoneksi dengan jaringan internet, secara otomatis ingin membuka FB dan WA. Tiba-tiba suara di hati berkata,
"Ada blom baca Alkitab, kok udah mau buka yang lain?"
Alhasil saya kemudian membaca Alkitab dan renungan harian untuk hari itu dan bahkan berdoa sejenak sedemikian hingga saya termasuk 5 penumpang terakhir yang boarding. Saya sudah melakukan online check-in dan memilih kursi dekat jendela di formasi 2 seat. Oh ya, formasi kursi di pesawat saat itu adalah 2-4-2. Saat itu sudah ada penumpang yang di dekat lorong, seorang bule yang harus berdiri dulu untuk memberikan jalan bagi saya ke kursi saya. Kira-kira 30 menit setelah pesawat tinggal landas, saya pengin ke toilet tetapi sungkan meminta permisi karena tadi saat naik pun sudah membuat bule tersebut harus berdiri. Kalo keluar lagi, tar ngresehin tuh bule kan. So, berdoalah saya di dalam hati,
"Tuhan, tolong bikin ini bule berdiri tanpa beta harus minta permisi."
Lima menit berlalu dan bule tersebut masih anteng aja di kursinya. Saya kemudian menoleh ke jendela pesawat dan kali ini berbisik pelan,
"Tuhan, tuh bule blom berdiri juga? Jangan kepepet Tuhan, udah kebelet nih"
Saat itu muncullah suara di hati,
"Sabar. Bentar lagi.."
Dan lagi-lagi suara itu terbukti kebenarannya. Dari dialog terakhir itu, ga sampai hitungan ke-10, bule tersebut kemudian berdiri untuk mengambil sesuatu dari kompartemen di atas. Segera dong saya senyum-senyum sendiri keluar ke toilet sambil ngomong di hati,
"Danke Tuhan Yesus.. :)"


Sampai saat ini saya masih terus mengalami penyertaan dan pimpinan-Nya yang bukan hanya nyata melalui suara di hati melainkan juga melalui saudara, rekan kerja, pimpinan, sahabat, dan bahkan melalui ciptaan-Nya yang lain. Seperti pohon yang tumbuh di halaman Balai Bahasa UPI, tempat saya mengikuti kegiatan pengayaan bahasa beberapa waktu ini. Ketika pertama kali tiba, pohon itu tampak seperti mau mati. Daun-daunnya sudah gugur dan dahannya tampak renta. Tetapi dengan berjalannya waktu, pohon tersebut mengeluarkan daun hijau dan berbunga. Itu dengan tepat menggambarkan juga proses yang sedang saya jalani. Sekalipun keadaan dan situasi tampak tidak mendukung, tetapi di balik itu tangan Tuhan sedang terus bekerja untuk mendatangkan kebaikan. Pada akhirnya kita akan dimampukan untuk memahami dan mengenali kebaikan-Nya.

Kesimpulan dari sharing saya ini adalah, Tuhan itu nyata dan benar-benar turut bekerja melalui keseharian kita. Ia juga adalah Pribadi yang sangat touchable tanpa protokol yang macam-macam. Setiap kita bisa terkoneksi kepada-Nya tanpa batasan apapun. So, segeralah mulai ngobrol dan mendengarkan suara-Nya. Tidak butuh gadget canggih ataupun pulsa kok!

Tuhan berkati kita semua! ;)

8 komentar:

  1. Luar biasa,,sangat inspiratif,, thx KK sudah share pengalamannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ee Fer. Tuhan itu tak tergambarkan tapi campur tangan-Nya kerasa. Kadang katong saja yang sok tahu dan berusaha iko kuat. Padahal kalo mintol Antua, jadi hemat banyak hal. Hehehe...

      Hapus
  2. Pengalaman Iman bersama Tuhan dalam segala masalah dan tantangan dari waktu ke waktu membuat kita lebih kuat dan percaya bhw pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat selalu tepat pada waktunya. Semangat sist, Tuhan tetap memperhitungkan segala jarih payahmu. Tuhan Yesus memberkatimu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin! Masalah bisa datang dalam berbagai bentuk dan intensitas, tapi Tuhan tetap berkuasa menuntun kita melewati setiap masalah itu sekalipun dengan cara-cara yang sulit dipahami di awalnya. Terima kasih untuk peneguhannya. Tuhan Yesus berkati kita semua.. :) :)

      Hapus
  3. Mungkin suatu saat juga beta bisa menulis kya kk ina 😇 karena sudah banyak pengalaman juga dengan Tuhan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantaap, Syd! Mulai pelan2 jua, ade nyong. Kalo akang ada dalam Antua perkenanan, tetap akan ada jalan sa.. Tuhan berkati! :)

      Hapus
  4. Kaka Inaaa... B baru baca.
    Talalu nyata memang kalo katong libatkan Antua dalam katong p langkah.
    Be bless more and morre kaka..
    Dangke su share tulisan inspiratif ini!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin! Betul sekali, Itty. Selama katong tulus, hati lurus, tetap ada jalan sa dan bahkan mengalami yang mustahil jadi seng mustahil. Tetap smangaaat ade sayang! God bless.. :)

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.