Menuju Korea Selatan...

Sesaat saya bingung harus mulai dari mana untuk membagikan kisah perjalanan saya sampai akhirnya menginjakkan kaki di negara yang terkenal dengan K-Pop dan drama seri-nya yang bisa membuat para penggemarnya rela begadang semalam suntuk hanya untuk menuntaskan seri demi seri. Pada suatu waktu saya pernah menjadi bagian dari komunitas ini, namun kemudian menyadari betapa tidak efektifnya hal tersebut. Kesadaran itu datang jauh sebelum saya memutuskan untuk meneruskan studi di negeri asal merk elektronik Samsung dan LG.. Loh?? Kok bisa?

Saya adalah satu dari hampir seratus awardee Beasiswa Afirmasi Indonesia Timur LPDP. LPDP itu sendiri adalah singkatan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan, yang berada di bawah pengelolaan Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Beasiswa Afirmasi Indonesia Timur ini yang selanjutnya disingkat dengan BIT adalah yang pertama kalinya diselenggarakan oleh LPDP pada tahun 2017 dengan memberikan kesempatan bagi putera-puteri Indonesia dari 5 provinsi  (dengan angka kemiskinan tertinggi di Indonesia?) di timur Indonesia, yakni Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Papua, dan Papua Barat untuk meneruskan pendidikan master dan doktoral di negara tujuan Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan.

Dasar saya memilih Korea Selatan sangatlah sederhana. Amerika Serikat bagi saya kejauhan. Ga nahan bo, harus terbang sampai hampir 30-an jam. Dulu aja ketika mengikuti kursus ke Belanda dan terbang 12 jam dari Singapura ke Amsterdam, udah ga nahan. Mungkin gegara terbangnya dari Ambon kemudian transit Jakarta, lalu dari Jakarta transit lagi di Singapura yak? Singkat kata, ane ga mau yang lama-lama di udara. Kemudian, kenapa ga Jepang? Sederhana. Frekuensi gempa-nya yg ane ga nahan. Suatu waktu dulu saya pernah bertugas di daerah yang mengalami gempa di suatu subuh sedemikian hingga saya harus lari ke bukit, dan ketika udah ga sanggup harus menghentikan bus dengan kemungkinan ditabrak atau diangkut (syukurnya, diangkut!). Sebisa mungkin, ga mau lagi kayak begitu. So, there is one and the only one option left: Koreyaaah... Beberapa hari setelah menuntaskan aplikasi beasiswa LPDP, saya sekilas melihat drama Korea di TV dan rasanya tuh yang agak nyesek gitu dah. Napa juga ya ngapply ke Korea??? *sigh

Universitas yang saya pilih ketika pertama kali apply beasiswa LPDP adalah Sogang University. Dari sederet universitas yang bisa menjadi pilihan di saat itu, nampaknya Sogang yang cukup menawan. Namun ternyata dalam perjalanan selanjutnya saya baru ngeh yang Sogang University mensyaratkan kemampuan berbahasa Korea sebagai salah satu prasyarat. Akhirnya dengan perasaan biasa saja, tereliminasi-lah Sogang University dari daftar perburuan selanjutnya. Ketika melakukan eksplorasi lebih lanjut, kok ya saya jatuh hati sama jurusan Behavioral Socioeconomics yang ditawarkan oleh Ewha Womans University dan seingat saya tidak saya temukan di universitas lain. Yang bikin saya suka itu adalah kata-kata di dalam overview jurusan tersebut:
Behavioral Socioeconomics is rooted in the understanding that economic phenomena cannot be separated from social, cognitive, and behavioral factors. This field thus integrates economics, business administration, sociology, psychology, consumer studies, cognitive science, and life science to understand economic phenomena.

Aaahhh, sukaakk!! Selama ini saya bergelut dengan pertanyaan kenapa ada ketimpangan antar wilayah di Maluku dan juga antara Maluku dengan wilayah lainnya yang mana sejauh ini diupayakan terjawab secara kuantitatif. Tentu akan lebih memuaskan jika kita memperoleh jawaban yang lebih komprehensif dengan memadukan berbagai keilmuan sebagaimana disebutkan di atas?

Puji Tuhan, sesuai permintaan saya, Tuhan berkenan membukakan jalan bagi saya dengan diterimanya e-mail pada tanggal 30 November 2018 bahwa saya diterima di program Behavioral Socioeconomics, Ewha Womans University untuk perkuliahan spring 2019. Luar biasa sukacita saya ketika menerima kabar tersebut yang saya baca di sela-sela pertemuan dengan Ibu Rumtini dari LPDP. Kala itu saya sedang berada di Yogya untuk mengikuti perpanjangan program Pengayaan Bahasa (PB) dari LPDP.

Sebagaimana salah satu lagu pujian yang sering kami nyanyikan dalam ibadah, "Suka-duka dipakai-Nya untuk kebaikanku", kedatangan LoA itu hanyalah awal dari suatu perjalanan panjang yang cukup menguras energi dan perhatian dan waktu, dll. Dikarenakan universitas tempat saya diterima berbeda dengan universitas awal yang saya pilih ketika mendaftar, maka saya harus melalui mekanisme yang namanya perpindahan perguruan tinggi/program studi. Di tanggal 3 Desember 2018, diajukanlah permohonan tersebut oleh saya melalui sistem CRM LPDP dan yang direspons keesokan harinya dengan permohonan maaf bahwa pengajuan perpindahan saya tidak dapat diproses karena di luar jadwal yang telah ditetapkan. Singkat kata, setelah melalui "diskusi" yang lumayan seru, kurang lebih 1 bulan kemudian, yakni pada tanggal 2 Januari 2019 akhirnya saya menerima persetujuan perpindahan. Terima kasih Tuhan Yesus. Terima kasih LPDP. ๐Ÿ™

Surat persetujuan perpindahan tersebut menjadi tiket (kepastian) bagi saya untuk menuntaskan pengurusan surat perjanjian tugas belajar dengan Pusdiklat kami di Jakarta; salah satu dasar penerbitan Surat Pernyataan dari LPDP; Letter of Guarantee; dan akhirnya semua itu turut menyukseskan proses pengajuan Surat Persetujuan Perjalanan Dinas Luar Negeri (SP) dari Setneg dan exit permit ke Kemlu. Ngetik semua proses ini mah hanya membutuhkan beberapa menit. Tapi proses dan pergumulannya, hanya Tuhan dan saya yang paham... ๐Ÿ˜Ž

Di tanggal 22 Januari 2019 saya menerima perincian tuition fee dari universitas yang harus dilunasi selama periode 23-25 Januari 2019. Ketika hal itu saya teruskan ke LPDP, mereka meminta 10 hari (kerja?) untuk memprosesnya. Langsung shock saya.. Tapi itu juga salah satu cara Tuhan untuk mengajari saya semakin berserah pada-Nya. Selama 2 hari berikutnya, saya memohon kemurahan Tuhan agar LPDP memenuhi tenggat waktu yang universitas tetapkan. Puji Tuhan, ketika saya minta pembayaran dalam 3 hari sesuai jadwal universitas dan oleh LPDP normalnya 10 hari, pada kenyataannya seturut kemurahan Tuhan, tuition fee itu terbayarkan di HARI KEDUA. Tuhan Yesus luar biasa... ๐Ÿ˜


Saat menulis ini saya sedang duduk manis sambil menikmati enbal di kursi belajar saya pada salah satu ruangan dormitory Ewha Womans University dan mengenang perjalanan untuk sekolah lagi yang dimulai di pertengahan tahun 2017 ๐Ÿ˜๐Ÿ˜Ž. Membutuhkan lebih dari 1 tahun untuk akhirnya masuk kampus dan berstatus mahasiswa lagi. Setiap proses bisa saya lewati karena kemurahan Tuhan saja.. Dan perjuangan ini sesungguhnya baru dimulai. Jujur, agak ketar-ketir juga. Bahkan dalam perjalanan menuju Seoul dengan penerbangan GA 878, saya masih mempertanyakan, "Yakin loe, mau sekolah di Korea, Pauline? Jauh loh... Lama baru bisa pulang, tiket mahal, biaya hidup mahal, etc". Modal saya hanya ucapan syukur karena sudah diperkenankan Tuhan sekolah lagi sambil terus memohon kemurahan dan penyertaan-Nya untuk setiap langkah yang saya jalani selama berada di Korea dan bahkan sampai nanti dipanggil pulang kembali pada-Nya...

Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman Tuhan semesta alam. ๐Ÿ˜‡

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.