Mengatasi Ketakutan


Beberapa waktu terakhir ini, khususnya sejak berada di Seoul, Korea Selatan, saya merasakan sungguh suatu perubahan nyata. Saya mulai bisa mengatasi rasa takut! Terkesan biasa ya? Tetapi ketika di-elaborasi lebih dalam dan bila setiap pribadi mau mengakui bahwa ketakutan itu salah satu momok terbesar dalam hidup ini, hal tersebut menjadi ruaarr biasaa! 😍

Dengan meminjam istilah Statistik Harga-nya BPS, mari kita list aneka kualitas dari "komoditi" ketakutan ini:
  1. Takut mati
  2. Takut tidak menikah (lagi)
  3. Takut tidak punya anak
  4. Takut dipecat
  5. Takut tidak lulus ujian
  6. Takut kehilangan mata pencarian
  7. Takut tidak memperoleh pekerjaan
  8. Takut dimutasi ke tempat "kering"
  9. Takut tidak dipromosi
  10. Takut sampai pensiun tidak punya rumah
  11. Takut dianggap bodoh atau tidak berarti oleh orang lain
  12. Takut dijauhi teman-teman dan dianggap ga gaul
  13. Takut dibilang sok suci kalo memilih jalur yang benar tapi tidak populer
  14. Takut gagal untuk urusan apapun
  15. Takut tidak dihormati lagi
  16. Takut diselingkuhi pasangan
  17. Takut ga up to date
  18. Takut naik Li*n (iya kah, Na? Hahaha)
  19. .... monggo silakan diisi sendiri ....
Ketika tiba di Ewha Womans University dan bertemu dengan Kepala Departemen Behavioral Socioeconomics, saya baru ngeh yang beberapa mata kuliah wajib (mungkin juga sebagian besar) materi dan reference books-nya dalam bahasa Inggris tetapi disampaikan dalam bahasa Korea, di saat vocab bahasa Korea saya mungkin tiada bedanya dengan bayi di Korea yang berumur 1 tahun. Saya sempat berargumen dengan Kepala Departemen dengan mengatakan saya tidak mengetahui informasi ini sebelumnya. Dan bahkan di dalam Certificate of Admission (CoA) yang saya terima, status saya adalah tidak perlu belajar bahasa Korea. Lagipula persyaratan pendaftaran sesuai panduan adalah english proficiency ATAU TOPIK (Test of Proficiency in Korean), bukan dan atau. Dengan kata lain, secara tersirat, saya mau mengatakan, "Ini salah siapa, Prof?" Tapi yang saya katakan adalah saya sudah di sini and no turning back!

Illiteracy saya dalam bahasa Korea kerasa ketika perkuliahan dimulai. Bisa dibayangkan, gimana bingungnya saya mendengar bahasa yang dulunya saya kagumi ketika masih ngfans sama draKor, dari awal sampai akhir kelas. Kalo meminjam istilah teman dari UGM yang juga sementara menempuh studi di sini (permisi nyebutin ya, Tha), "Kita berasa ga dianggap gitu! Kayak ga ada di kelas aja kan..." Hahaha... Mana saya seorang diri di kelas yang masih buta aksara Korea. Lengkap sudah penderitaan.. 😎

Di sinilah kadang saya tergoda untuk merasa takut. Apa saya bisa? Gimana kalo saya ngga lulus? Kan maluu...! Langsung kebayang tuh sederetan surat perjanjian dan kontrak yang sudah saya tandatangani dengan LPDP sebagai penyandang dana beasiswa dan juga institusi tempat saya bekerja. Thank God, lagi-lagi Tuhan memakai teman dari UGM itu untuk menguatkan yang bahwa dia sudah sampai di tahap penyelesaian disertasi sekalipun ga mahir-mahir banget bahasa Korea-nya.

Di atas segalanya, saya harus mengatakan, Tuhan-lah alasan kenapa saya mulai bisa mengatasi rasa takut saya. Jika saya bandingkan saat pertama tiba di Korea dengan segala pesimisme yang menggempur batin, dan keadaan saya saat ini, rasanya kalo diuji dengan uji beda rata-rata, hasilnya akan signifikan! Dengan segala kerendahan hati saya mengakui, itu hanya karena kemurahan-Nya!

Saya jadi memandang tujuan saya ke Korea Selatan, bukan sekedar untuk sekolah, tapi pembentukan karakter yang semakin berserah dan TIDAK TAKUT! Salah satu teman kantor saya mengatakan, "Sepertinya Tuhan mengijinkan Usi (sebutan kakak perempuan di Maluku) ke Korea supaya lebih dibentuk. Kalo tadi sekolahnya di Belanda atau english speaking countries lainnya, mungkin merasa lebih siap. Jadi merasa aman. Tapi ke Korea dengan kondisi yang di luar dugaan, jadinya makin berserah sama Tuhan kan.."

Jadi apa resepnya untuk mengatasi rasa takut??

Study Hard, Pray Harder
Every single day, apapun yang jadi jadwal hari itu, mau ujian kek, ada presentasi kek, yang mana rasanya waktu tuh selalu aja kuraaang, jadwal doa ga boleh dilewatkan dan juga merenungkan kebenaran firman-Nya. Saya punya pengalaman tak terlupakan.

Pada Jumat malam tanggal 22 Maret 2019, saya berada di titik terendah. Ada presentasi yang harus saya lakukan di hari Selasa berikutnya, tapi saya masih blank sekalipun udah bolak-balik itu artikel. Tertekan banget sampe berpikir ngapain juga sekolah jauh-jauh begini? Menderita. Pengen pulang saja ke Indonesia. Saya lalu keluar ke balkon dan memandang langit Seoul. Dengan berurai air mata saya akui, "Tuhan, ini terlalu sulit buatku. Aku ga sanggup. Tapi bagi Engkau yang menciptakan langit dan segala keindahan yang sementara kusaksikan, ini pasti hal yang mudah. Buat aku mengerti Tuhan. Aku percaya Engkau sanggup!" Kembali ke kamar, saya kemudian membaca Alkitab sesuai sharing dari salah satu rekan, di Ayub 37. Pada ayat 5-6, berbunyi,
"Allah mengguntur dengan suara-Nya yang mengagumkan; Ia melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak tercapai oleh pengetahuan kita; karena kepada salju Ia berfirman: Jatuhlah ke bumi, dan kepada hujan lebat dan hujan deras: Jadilah deras!"

Percayakah saudara-saudara, keesokan harinya terjadilah apa yang saya baca itu?! Sekitar jam 12 siang di hari Sabtu, 23 Maret 2019, teman sekamar berkata, "Wah, ada salju." Saya spontan bangkit dari tempat tidur dan bilang, "Ga mungkin! Ini sudah bukan musimnya." Tapi ternyata benar.. Itulah salju pertama saya. Beberapa saat setelah turun salju, terdengarlah bunyi guntur di langit. Langsung saya terdiam dan terkesima. Melalui semua itu, Tuhan seakan-akan mau bilang, "AKU ada!" dan meresponi curhatan hati saya malam sebelumnya (ekspress juga ya Tuhan! Hghg). Sekedar informasi, saat itu di bagian lain Seoul, panas terik dan beberapa saat setelah turun salju, cuaca di seputaran kampus langsung panas terik. Salju itu seakan-akan spesial untuk meneguhkan saya. Kata teman dari Cina yang sudah 6 tahun di Seoul, "Ini pertama kalinya saya menyaksikan salju di akhir Maret."

Do your best, God (absolutely) will do the rest!
Kata-kata di atas terkesan basi ya? Yet, it still works. Di awal semester, ada satu mata kuliah yang setiap minggunya mengharuskan kami membaca seabrek-abrek artikel (puji Tuhan, in english) dan didiskusikan di kelas. Professor, teteup, ngomong pake bahasa Korea, sodarah-sodarah. Dari awal sampai akhir, for sure. Di pertemuan pertama, saya masih pasif, banyakan jadi pendengar setia. Di minggu kedua, saya meminta kesempatan di akhir sesi untuk menyampaikan review saya yang dikomentari, "You are on the right track" alias lumayan lah. Di pertemuan ketiga, hari itu hujan dan saya pribadi enggan banget ke kelas. Udah terbayang di depan mata, 3 jam mendengarkan "drama Korea (ilmiah)". Saya ingat, hari itu saya bilang, "Tuhan, bahwa saya memaksa tetap masuk, ini bentuk dari saya mengerjakan bagian saya. Saya mau belajar taat dengan semua jadwal. Tuhan tolong sertai saya.." Hari itu, di akhir diskusi, Professor-nya meminta saya memberikan review semua artikel tersebut yang telah dibahas dalam bahasa Korea. Ketika saya sampaikan, responsnya kali ini, "Yes, that is the summary of all articles that we have discussed." Whaatt? Malah sepertinya yang saya sampaikan lebih lengkap karena setelah itu Professor-nya masih menyampaikan beberapa hal dengan menyebutkan satu-dua kata yang saya bahas sebelumnya. Saya hanya bisa membatin, "Thanks, God!"

Keep faith!
Mungkin ada yang berpikir, baru awal.. Blom semester-semester depan, apalagi proses penulisan disertasi. Bakal meningkat intensitas takutnya, Pauline! Benar. Saya akui itu. Sampai saat inipun rasa takut itu tetap menghantui dan menjadi pergumulan saya setiap hari. Tapi saya juga akan tetap menguatkan hati dan percaya, Tuhan ada. Dan bahwa Ia melampaui semua ketakutan saya ataupun hal-hal yang membuat saya takut. Pagi ini ketika melihat pohon-pohon yang mulai menghijau dengan aneka gradasi warna daunnya, saya bilang, "Professor yang paling pintar, paling killer, atau paling galak sekalipun, ga sanggup bikin daun itu tumbuh dengan aneka warnanya." Tuhan yang berkuasa menjadikan semua itu sudah berjanji akan menyertai saya. Saya percaya pada-Nya.

So, apapun konteks kehidupan yang sedang kita jalani saat ini, belajarlah mengatasi rasa takut, apapun bentuknya. Dengan kekuatan kita sendiri, memang tidak mungkin. Karena kalo mungkin, angka bunuh diri di negara Korea ga setinggi sekarang ini dan juga ga ada yang namanya putus asa. Kita butuh kuasa di luar kita dan yang melampaui pemikiran kita. Saya jadi ingat ketika membawakan materi tentang Divine's Intervention dalam salah satu leadership training di India. Waktu itu saya menggunakan gadget sebagai ilustrasi. Jika kita mengalami masalah dengan gadget kita, tentu akan dibawa ke service center sesuai merk-nya. Galaxy Note akan dibawa ke service center-nya Samsung dan Iphone akan dibawa ke service center-nya Apple. Demikian juga kita. Sebagai hasil kreasi dari Tuhan semesta alam, ketika mengalami dan menghadapi masalah (ketakutan), datanglah ke Service Centre-Nya.. 😇

Meminjam analogi revenue neutral dalam Environmental Economics ataupun hukum kekekalan energi, menurut saya ketakutan itu (besarannya?) fixed, secara itu juga bagian dari kemanusiaan kita. Namun porsi untuk Tuhan seyogyanya semakin dan semakin lebih besar dibandingkan untuk hal lainnya. Sepakat bukan? 😇😍😉


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.