Belajar dari Korea Selatan

Kolom Opini Harian Ambon Ekspres edisi 15 Agustus 2019


Ketika memutuskan akan melanjutkan studi ke Negeri Ginseng, banyak kerabat dan sahabat yang mempertanyakan alasan saya belajar ke sesama negara Asia di saat saya juga punya kesempatan untuk memilih Amerika Serikat sebagai negara tujuan studi saya. Tentu ada banyak alasan, tetapi salah satu yang relevan adalah isu kemiskinan. Di antara tahun 1950 - 1953, Korea mengalami perang saudara yang berujung pada terpisahnya Korea Utara dan Korea Selatan. Masa-masa selama dan sesudah perang itu adalah periode yang memprihatinkan bagi penduduk kedua negara. Kisah yang saya dengar dari beberapa orang Korea, itu masa-masa yang sulit, sedemikian hingga Korea Selatan pernah menjadi negara termiskin di Asia. Mengutip kata-kata Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia dalam Seminar Hari Kependudukan Sedunia pada Juli 2014, “Mereka habis-habisan perang saudara membuat negara itu menjadi miskin, bahkan lebih miskin dari Indonesia yang baru merdeka”.
Dalam proposal riset saya menyebutkan ingin datang dan belajar ke Korea, bagaimana caranya bangkit dari kemiskinan, mengingat saya lahir dan besar di provinsi yang beberapa tahun terakhir ini tak tergoyahkan dalam 5 (lima) besar provinsi dengan persentase penduduk miskin tertinggi di Indonesia. Namun ironinya, dari sisi sumber daya alam provinsi saya jauh lebih kaya dibandingkan Korea Selatan yang bahkan menurut salah satu Professor saya, kayu pun diimpor dari luar negeri. Maluku, suatu negeri yang kaya akan rempah-rempah dan menjadi alasan hadirnya kolonialisme di bumi nusantara. Maluku yang pada suatu waktu menjadi tujuan pelayaran dari Cristopher Columbus namun kemudian ia “nyasar” dan menemukan benua Amerika. Maluku yang dikaruniakan lautan yang luas dengan aneka potensi di dalamnya.
Satu hal yang menarik dari cara penduduk Korea Selatan bangkit dari kemiskinan adalah mereka berbalik kepada Tuhan. Mereka sadar bahwa mereka tidak punya apa-apa untuk bangkit. Perang saudara tidak menyisakan apa-apa bagi mereka untuk bertahan hidup. Mereka tidak lagi memiliki pengharapan akan masa depan sedemikian hingga mereka hanya bisa bergantung pada Satu Pribadi dengan kekuatan dan kekuasaan supranatural yang diyakini sanggup melepaskan mereka dari krisis yang terjadi. Hal ini merupakan testimoni yang saya dengar dari beberapa warga senior Korea. Bagaimana dengan kita di Indonesia, khususnya Maluku? Luar biasanya, Pancasila yang kita yakini bersama sebagai perwujudan nilai-nilai luhur pun meletakkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama kita! Bahkan saya sungguh yakin, kehidupan beragama di Maluku amat sangat kuat. Sampai di sini, kita punya modal yang sama, dengan sesaat mengesampingkan perbedaan mencolok dari sisi kekayaan alam. Kemudian?
Mereka yang sudah pernah berkunjung ke Korea Selatan sebagian besar tentu akan mengakui kejujuran dan integritas diri orang Korea. Pengalaman salah satu teman dari Jakarta yang berkunjung ke Seoul dan baru sadar bahwa HP-nya tertinggal di salah satu toko setelah sekitar 2 jam, kembali ke toko tersebut dan melihat HP-nya masih pada posisi saat terakhir kali ia letakkan. Testimoni salah satu teman yang juga mahasiswi di sini, “Pulang larut malam juga aman ee”. Bagaimana dengan kita? Apakah kita berani mengklaim daerah kita sebagai daerah yang aman? Apakah kita, satu dengan yang lainnya, memiliki standar moral yang kurang lebih sama sebagai modal untuk membangun daerah kita ataukah malah kita saling mencurigai? Apakah kita melihat posisi atau jabatan yang dipercayakan sebagai wadah untuk mencurahkan sebesar-besarnya kemampuan dan integritas diri untuk sebesar-besarnya kemakmuran bersama ataukah kesejahteraan pribadi? Berapa banyak pejabat kita yang berakhir dengan urusan di kantor polisi dan bahkan penjara karena aneka kasus? Salah satu isu yang menjadi perhatian saya pribadi, berapa banyak kepala desa yang harus berurusan dengan hukum dikarenakan penyalahgunaan dana desa yang sejatinya merupakan respons positif dan kepercayaan Pemerintah Pusat bagi otonomisasi di daerah? Dan bahkan ada pemimpin yang menganggap luasnya laut kita sebagai salah satu penyebab tingginya kemiskinan di Maluku. Padahal dari laut itulah kita pun bisa menghidupi anak-cucu dan bahkan mengeksplorasi gas alam di Blok Masela sana.
Jurusan yang saya ambil dalam studi saya di Korea Selatan adalah Behavioral Socioeconomics yang mempelajari pengaruh faktor sosial dan kognitif terhadap fenomena ekonomi. Saya berencana untuk meneliti mental dan karakter orang Maluku dalam kaitannya dengan kemiskinan. Saya percaya ini akan menjadi salah satu jawaban bagi Provinsi Maluku terkait masalah kemiskinan. Kita tidak bisa hanya berkutat dengan faktor eksternal seperti minimnya alokasi dana dari Pemerintah Pusat sekalipun mungkin pada konteks tertentu ada benarnya, tetapi mari mulai mengeksplor diri sendiri. Saya tertarik dengan tulisan Pak Wardis Girsang dan Pak Marthin Nanere dalam artikel “Profiles and Causes of Urban Poverty in Small Islands: A Case in Ambon City, Maluku Islands Indonesia” yang mencatat malas sebagai salah satu faktor budaya (internal) yang menyebabkan seseorang miskin.
Kita tidak bisa memilih terlahir di keluarga seperti apa, sebagaimana kita tidak bisa memilih terlahir sebagai warga daerah atau negara mana. Kalau orang Korea 60 tahun-an yang lalu hanya duduk merenung, meratapi, dan menyesali kenapa mereka terlahir sebagai orang Korea, maka tentunya Korea Selatan tidak akan menjadi salah satu macan Asia seperti yang kita lihat sekarang ini. Kita pun tidak bisa sepenuhnya setuju dengan lirik dalam lagu “Tau S’nang Sa” yang menyuratkan kata-kata biar miskin tapi tau s’nang sa. Benar bahwa kemiskinan itu sifatnya multidimensional, akan tetapi bukankah tujuan hidup setiap kita adalah hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini? Untuk itulah kita berusaha sekuat tenaga agar bisa menyekolahkan anak-anak kita setinggi mungkin.
Basudara di Maluku, kita bisa bangkit dan menjadi lebih baik dari keadaan kita saat ini. Jika dulu para pendahulu dan pahlawan kita seperti Pattimura, Anthony Rhebok, Said Perintah, Martha Christina Tiahahu dan yang lainnya, bangkit melawan musuh dari luar, saat ini mari kita bangkit melawan ego kita, kemalasan, masa bodoh, acuh tak acuh, saling curiga, dan hal-hal negatif lainnya yang hanya membuat kita terpuruk. Mulailah dengan mensyukuri apa yang kita miliki saat ini dan dengan meminta hikmat dan pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa, kita melakukan apa yang kita bisa semaksimal dan sebaik mungkin. Memang tidak mudah. Akan ada banyak resistensi, keraguan, dan mungkin juga cemooh. Tetap maju terus. Saya mencatat anjuran salah satu mantan Gubernur Maluku dalam acara pelantikan salah satu raja di Pulau Saparua tahun lalu agar masyarakat bertransformasi dari budaya bakalai ka budaya bakubae, talamburang ka budaya kalesang, makan puji ka budaya rendah hati, kewel ka budaya kerja, baku kuku ka budaya baku kele, sopi ka budaya kopi, parlente ka budaya jujur, galojo ka budaya baku bage, padede atau balagu ka budaya arika. Lambang Provinsi Maluku menggambarkan sikap ksatria dan gagah berani (tombak), kekayaan hasil hutan yang melimpah (hutan), serta persatuan dan kesatuan yang abadi (laut dan perahu). Lalu - mengutip kata-kata orang tatua dolo-dolo, “Kurang apa lai dalam dunia ni voor katong untuk maju dan sejajar dengan basudara di bagian lain Indonesia?” Tuhan memberkati Maluku!



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.