Senin, 08 April 2013

Perjalanan Kedua ke Kisar, Salah Satu Pulau Terluar Indonesia



Ini merupakan perjalanan kedua saya ke Kisar. Walaupun bukan untuk pertama kalinya, perjalanan ke Kisar selalu menjadi sesuatu.  Rasanya seperti berkunjung ke wilayah yang kondisinya seperti Kota Ambon pada lebih dari 2 dasawarsa yang lalu.

Moda transportasi yang tersedia dari Kota Ambon ke Kota Kisar adalah angkutan udara dan angkutan laut. Untuk angkutan udara didominasi oleh maskapai penerbangan Merpati Nusantara Airlines (MNA), sedangkan untuk angkutan laut tersedia banyak pilihan seperti KM. Pangrango, KM. Maloli, dan KM. Sabuk Nusantara. Apabila anda tidak dikejar waktu untuk harus segera tiba di Kisar dan anda tidak bermasalah dengan layanan kapal perintis, pilihan menggunakan moda transportasi laut menjadi alternatif yang tepat dan murah dengan bonus melihat pulau-pulau lain di bagian tenggara atau barat daya Provinsi Maluku.

Pesawat MNA yang membawa saya ke Kisar adalah tipe CASA 212 yang masih lumayan powerful. Satu hal yang sedikit banyak mengganggu selama perjalanan di dalam pesawat adalah aroma kurang sedap dari wilayah kamar mandi. Ini sekaligus menjadi masukan bagi pihak MNA, mengingat harga tiket yang dipatok untuk Ambon-Kisar sekali jalan bisa setara dengan harga tiket PP Ambon-Jakarta sehingga rasanya tidak berlebihan jika penumpang diberikan penerbangan tanpa aroma yang tidak sedap.

Pesawat
 
Setibanya di Kisar, sesaat setelah keluar dari ruang tunggu bandara, saya (kembali) disambut oleh pemandangan:
Pemandangan di depan pintu keluar Bandara Jhon Bakker, Desa Purpura

Selanjutnya, dalam perjalanan keluar dari kompleks Bandara Jhon Bakker di Desa Purpura Kecamatan PP. Terselatan, saya disambut gapura selamat datang:

Tugu Selamat Datang

Dan saya kembali disuguhi pemandangan hamparan pepohonan koli (bahasa Jawa: siwalan) yang membuat saya sesaat merasa bukan sedang berada di wilayah Provinsi Maluku (mengingat pepohonan koli jarang ditemui di wilayah lain di luar Kabupaten Maluku Barat Daya).

Jalan raya di Kisar belumlah semulus di Kota Ambon atau bahkan di jalan Trans Seram. Tapi hal tersebut membuat kita akan lebih menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan karena umumnya angkutan yang digunakan akan berjalan dengan kecepatan di bawah 30 km/jam. Bicara tentang angkutan, di Kisar masih ada angkot dengan model penumpangnya naik dari bagian belakang (saya lupa memotretnya). Seingat saya, angkutan itu terakhir digunakan di Ambon sekitar tahun 1990-an. Luar biasaaa, hal-hal yang sudah langka di wilayah lain masih digunakan di Kisar! Dan sebaliknya, hal-hal yang sudah jamak/umum di wilayah lain, menjadi sesuatu yang baru dan bahkan belum digunakan di Kisar.


Tujuan utama kedatangan saya di Kisar adalah melakukan perjalanan dinas untuk supervisi Survei Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK). Dalam melakukan tugas tersebut, saya nyambi melakukan supervisi Survei Statistik Harga Perdagangan Besar untuk kepentingan penghitungan Indeks Harga Perdagangan Besar, serta tentunya nyambi berwisata. Salah satu pengalaman menarik ketika kami dalam perjalanan melakukan supervisi survei adalah saya sempat mencicipi rasa dari buah kosambi yang wujud dan ukurannya menyerupai buah klengkeng tetapi yang rasanya masam mirip dengan lemon cina. Untuk bisa merasakan buah kosambi, thanks to Oom Romang dan Moce.
Buah Kosambi
 Sebagaimana menjadi rahasia umum, salah satu komoditi unggulan dari wilayah ini adalah buah Lemon (Jeruk) Kisar. Konon, bibit lemon Kisar dibawa oleh Belanda yang sudah berkali-kali gagal menanamnya di berbagai wilayah sebelumnya dan hanya berhasil ditanam di Kisar. Dari struktur kulit buah, lemon Kisar sangat mirip dengan jeruk keprok walaupun tidak setebal jeruk keprok. Dari struktur daging buahnya kurang lebih sama dengan jeruk pada umunya selain bahwa warna bulirnya lebih pucat dari jeruk pada umumnya.
Lemon Kisar (1)
Lemon Kisar (2)

Dengan ditemani rekan dari BPS Kabupaten Maluku Barat Daya, Nik Imatun, saya sempat mengunjungi Piramida Madalahar yang terletak di tanjung di atas Pantai Nama, dibangun pada tahun 1774 oleh peneliti berkebangsaan Jerman sebagai tanda tempat yang aman untuk berlabuhnya kapal. Satu hal yang sangat menarik ketika saya mengunjungi kawasan Madalahar ini adalah karang-karang yang terhampar di dataran menyerupai karang yang ada di laut. Karang-karang tersebut tidak seperti karang yang biasanya saya temui di wilayah pegunungan. Apakah dulunya dataran Madalahar merupakan laut? Saya perlu mencari referensi-referensi lebih lanjut untuk memastikan hal tersebut.
Penulis dengan latar belakang Piramida Madalahar
Nik Imatun, Koordinator Seksi Statistik Distribusi BPS Kabupaten Maluku Barat Daya

Saya juga sempat mengunjungi benteng di wilayah Desa Wonreli dan Desa Kota Lama. Sayangnya benteng-benteng tersebut dalam keadaan tidak terawat dan tidak disertai dengan informasi pendukung lainnya.
Benteng Wonreli

 
Reruntuhan Benteng Vollen Haven di Pantai Nama

Dalam perjalanan menuju bandara untuk kembali ke Ambon, saya diantar oleh Kepala BPS Kabupaten Maluku Barat Daya, Bapak Paulus Maruanaya, SE ke Pantai Purpura yang exotic dan berpasir putih. Di tebing pantai tersebut ditancapkan bendera merah putih yang terbuat dari besi.
Pantai Purpura (1)

Pantai Purpura (2)

Saya membayangkan jika transportasi dan komunikasi di Maluku Barat Daya, terutama Kisar dibangun dan berfungsi dengan baik, Kisar bisa menjadi salah satu destinasi wisata di Maluku bahkan Indonesia. Apalagi mengingat Kisar merupakan salah satu pulau terluar di Indonesia yang langsung berbatasan dengan Republik Timor Leste. Keep moving forward Maluku Barat Daya!

See you again, Kisar

KALWEDO... :)

(Thanks to Tanta Otje Leatemia untuk sagu tumbu Ihamahu-nya, Budi untuk pengurusan tiketnya dan semua rekan di BPS Kabupaten Maluku Barat Daya untuk rame-ramenya)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar