Jumat, 14 November 2014

Perjalanan Ketiga ke (Banda) Neira



Senin, 10 November 2014, untuk ketiga kalinya saya menginjakkan kaki di Kota Neira, ibukota Kecamatan Banda. Perasaannya seperti pulang ke rumah, mengingat di kota inilah saya menemukan jejak-jejak kehidupan kakek (dari ayah) saya pada suatu masa di Neira.

Kota Neira merupakan pusat pemerintahan, pusat pendidikan, pusat perdagangan, dan pusat-pusat lainnya dari Kecamatan Banda. Kecamatan Banda sendiri terdiri dari beberapa pulau, seperti Pulau Neira (lokasi Kota Neira), Pulau Banda Besar, Pulau Ay, Pulau Rhun, Pulau Hatta, dan beberapa pulau kecil yang di antaranya ada yang tidak berpenghuni. Sekalipun pada kenyataannya Banda adalah nama kecamatan yang mencakup beberapa pulau dengan Neira sebagai salah satu di antaranya, setiap perjalanan ke Neira selalu disebut dengan perjalanan ke Banda. Ini juga analog dengan semua orang Maluku yang diidentikkan sebagai orang Ambon, padahal Ambon hanyalah sebagian kecil dari Maluku.

Saya tiba di Neira menumpang pesawat Aviastar dengan harga tiket Rp280.000,-. Penerbangan Ambon-Banda ditempuh selama ± 45 menit. Dalam 1 minggu terdapat 2 kali penerbangan Ambon-Banda PP, yakni pada hari Senin dan Kamis. Itu dengan catatan tidak ada halangan berarti seperti angin. Oh iya, penerbangan dari Ambon biasanya dilakukan pagi-pagi benar karena jika terlalu siang akan menghadapi angin yang lumayan mengganggu saat akan landing di Neira. Ini membuat saya harap-harap cemas ketika akan melakukan perjalanan ke Banda. Pada hari keberangkatan saya ke Banda, yang biasanya hanya 1 penerbangan untuk PP, ada extra flight untuk mengangkut penumpang dari delayed flight sebelumnya. You see, go to Banda is something! Mana tiket ga bisa dipesan PP melalui agen di Ambon. Beruntung bagi kami dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang memiliki petugas di kecamatan. Hal tersebut berguna untuk membantu pemesanan tiket, di luar pekerjaan rutin tentunya. Sempat berasa ke Banda tuh repot banget, tapi semua itu terbayarkan ketika melihat apa yang ada di Banda.

Pada hari keberangkatan, ketika antri untuk melakukan check-in di counter Aviastar di Bandara Pattimura Ambon, di depan saya sepasang suami-isteri bule yang saya ketahui kemudian berasal dari Jerman. Saat menunggu di ruang tunggu pun kami duduk agak berdekatan. Ketika penumpang Aviastar tujuan Banda mendapat panggilan boarding, saya sempat memperhatikan mereka yang kayaknya tidak mendengar (mengerti?) panggilan tersebut. Saya lalu menginformasikan kepada mereka yang kemudian langsung bergegas menuju pesawat setelah mengucapkan terima kasih. Setiba di pesawat, mereka kembali mengucapkan terima kasih. Saya lalu menjelaskan kalo sayang juga jika mereka ketinggalan pesawat secara ga tiap hari ada penerbangannya. Mereka lalu menceritakan kalau sudah menunggu 2 minggu untuk bisa ke Banda. Benar-benar sesuatu kan... Oh ya, mereka 2 tahun yang lalu juga datang ke Banda dan merasa harus kembali. You see, Banda is amazing!

Tujuan perjalanan saya ke Banda adalah untuk melakukan supervisi pelaksanaan survei-survei BPS. Tentunya hal tersebut disambi dengan melakukan eksplorasi, seperti biasanya. FYI, Kota Neira bisa dikelilingi dengan berjalan kaki namun sebaiknya hal itu dilakukan pagi dan atau sore hari, kecuali jika tujuan kita untuk menggelapkan kulit.

Berikut ini foto-foto perjalanan saya ke Neira yang sebagian di antaranya dipandu oleh Firman Syah Assegaff, SE - Koordinator Statistik Kecamatan Banda.

Dalam kabin pesawat Aviastar


Gunung Api Banda dari udara

Saat saya dalam perjalanan melakukan pengawasan, nampaklah ibu-ibu yang rumahnya berdekatan dengan tempat pendaratan perahu nelayan sedang bakar ikan selar yang jelas masih segar banget. Saya ditawarin namun mengingat masih melakukan tugas, saya terpaksa dengan sangat berat hati harus menolak.

Ikan bakar di depan perumahan warga, dekat pangkalan perahu nelayan

Namun pada keesokan harinya ketika melewati tempat yang sama dan ibu-ibu itu sedang melakukan aktifitas yang sama dengan ikan yang berbeda (kali ini ikan layang), ketika ditawari sampai 2 kali, saya pun menerima. Pamali lah, udah 2 kali ditawarin 2 hari berturut-turut. ^_^



 
Memilah pala di pinggiran Kota Neira

Jalan masuk ke Benteng Nassau

Benteng Nassau

Salah satu laundry di Kota Neira

Pemandangan di depan Istana Mini

Salah satu perahu belang di Kota Neira (depan Istana Mini)

Istana Mini

Halaman Istana Mini


Ruang Utama Istana Mini

Pintu depan Istana Mini, menghadap gazebo di pantai

Halaman belakang Istana Mini

Teras belakang Istana Mini


Patung William III
Rumah Deputi Gubernur VOC, di samping Istana Mini
Gazebo tepi pantai di depan Istana Mini




Pantai depan Istana Mini saat air surut dengan latar belakang (Pulau) Gunung Api
Pada hari pertama, saya menjadwalkan untuk mengunjungi Benteng Belgica, akan tetapi pintu pagar ke area benteng ternyata dikunci. Tidak berhasil masuk Benteng Belgica, saya lalu memilih jalan memutar ke belakang benteng dan di sana saya menemukan sebidang kebun sawi dan kangkung.

Pak Ramlan Kilian, pemilik sekaligus petani sawi dan kangkung di belakang Benteng Belgica

Dari kebun sawi dan kangkung Pak Lan (sapaan Pak Ramlan Kilian), saya lalu meneruskan perjalanan menuju pelabuhan dan mata saya dipuaskan dengan bangunan-bangunan peninggalan Belanda yang lumayan terawat.


Rumah Captain Christopher Cole - seorang Marinir Inggris

Rumah pengasingan Sutan Syahrir

Rumah Budaya (kiri) berhadapan dengan Delfika Guest House (kanan)

Persimpangan menuju Pelabuhan Banda

Peta Informasi Banda Neira yang dibuat oleh mahasiswa KKN UGM tahun 2014

Bangunan Yayasan Warisan dan Budaya Banda Naira

Pelabuhan Banda

Hotel Maulana - satu-satunya hotel bintang di Kecamatan Banda - dilihat dari dermaga pelabuhan

Klenteng di dekat Pelabuhan Banda




Terkait dengan pekerjaan saya, ketika berkunjung dalam suatu pelaksanaan supervisi (ataupun tidak), pasar akan menjadi salah satu tempat yang wajib saya kunjungi.


Pasar Kota Neira
Proses fillet ikan cakalang untuk pembuatan ikan asin Cakalang Banda

Proses pembuatan ikan asin Cakalang Banda
 
Bersih-bersih di sore hari di Pasar Kota Neira

Keesokan harinya, saya kembali melakukan aktifitas supervisi saya, salah satunya di Bandara Banda yang ditemui langsung oleh Kepala Bandara Banda, Pak Bal Latupeirissa.

Kepala Bandara Banda - Pak Bal Latupeirissa
Dari Bandara Banda, saya ke tempat tambat perahu nelayan dan ketepatan mereka baru tiba dari melaut dan menjual hasilnya ke kapal dari Denpasar. Oh iya, ini salah satu hal yang cukup miris. Hasil laut kita belum bisa ditampung untuk diekspor sendiri.



Di pantai tempat tambat perahu aja udah kece begini underwater view-nya

Bagi hasil untuk dibawa pulang para nelayan, selain uang hasil penjualan ke kapal pengumpul

Dari tempat tambat perahu nelayan, saya dan Firman melakukan pencacahan harga di Pasar Neira. Ini kedua kalinya saya ke Pasar Neira, setelah mahgrib sehari sebelumnya.


Kayu manis dari Banda dan sayuran khas Banda

Proses pengeringan ikan Cakalang Banda

Pasar Banda

Oleh-oleh khas Banda: manisan pala, bakasang (sambal cair dari ikan), kenari, dll

Dan ini beberapa sudut Kota Neira dalam jepretan kamera:

Bangunan SD

Salah satu bangunan peninggalan Belanda

Salah satu sudut di depan kompleks Benteng Belgica

Perigi Rante, salah satu lokasi pembunuhan orang-orang kaya Banda yang menentang Belanda

Nama-nama tokoh yang diasingkan ke Banda

Kantor Pos Banda

Jambu air kecil, lagi musim di Banda

Gereja Tua


Kantor Camat Banda
Benteng Belgica tampak depan
 
Halaman depan Benteng Belgica (dipotret dari sela-sela pagar)


Pulau Banda Besar dilihat dari depan Benteng Belgica

Ada meriam nyungsep di kebun singkong

Pala mekar...


Rumah pengasingan Bung Hatta


Pakaian Bung Hatta

Mesin ketik Bung Hatta

Ruang tidur Bung Hatta

Tempat Bung Hatta mengajar

Teras belakang bangunan utama tempat pengasingan Bung Hatta
Rumah pengasingan dr. Tjipto Mangunkusumo


Landasan pacu Bandara Banda, di sore hari menjadi lokasi jalan santai

Ruang check-in Bandara Banda

Bagi Anda yang ingin berkunjung ke Banda, untuk reservasi tiket Aviastar Ambon-Banda bisa menghubungi nomor telepon 0821-9902-3022 dan untuk Banda-Ambon bisa menghubungi nomor telepon 0813-4325-9045 atau 0813-4301-9419.

Mungkin Anda akan menghadapi kerepotan yang lebih ketika akan berkunjung ke Banda Neira dibandingkan tempat lain. Tetapi semua itu akan terbayar oleh keramahan Banda dan keindahan semua objek wisata yang ada! So, let's visit Banda...

6 komentar:

  1. Terimakasih,ini sangat membantu untuk mengumpulkan info tentang perjalanan ke banda,tencana saya ingin menuju banda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2.. Semoga pada waktunya akan menikmati Banda dengan segala pesonanya.

      Hapus
  2. Salam kenal bu, maaf bu mau tanya ni, kira kira brapa ya harga penginapan per malam d banda. Trus ada sewa kendaran motor ga d sana... kalonpingin keliling pulau kalo sewa boatvmahal ga bu. Salam kenal bu dari dicky

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Dicky,

      Terima kasih untuk kunjungannya ke blog saya. Waktu saya menginap akhir tahun 2014, dapat penginapan bagus dengan rate 200rb semalam, kamar AC. Bisa nanti dibaca di http://www.paulinegaspersz.com/2014/11/cilu-bintang-estate-neira.html dan http://www.paulinegaspersz.com/2014/11/nassau-beach-guest-house-neira.html. Di situ ada info nope pemilik penginapan tempat saya menginap, yang mana meminjamkan sepeda. Mungkin bisa menyewakan sepeda motor juga. Oh ya, saya belum pernah pakai boat keliling pulau. Maaf, tidak bisa sharing pengalaman terkait itu.

      Semoga pada waktunya bisa mengunjungi Banda...

      Hapus
  3. Wah jadi pengen Banda Neira kalau sudah tugas. Kebetulan saya posisi di Ternate, bisa lah nyebrang dikit ke provinsi tetangga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya penerbangan Ternate-Ambon sudah lancar ya sekarang. So, Banda menanti.. :)

      Hapus