Sabtu, 27 Februari 2016

Kelangkaan Air dan Inflasi Kota Ambon Tahun 2016


Salah satu fenomena bersejarah telah terjadi di Kota Ambon dalam beberapa waktu belakangan ini dan yang tercatat dalam penghitungan inflasi (baca: Indeks Harga Konsumen) Kota Ambon. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Kota Ambon, harga komoditi air non leding (PDAM) menjadi 1 dari 5 komoditi dengan andil terbesar memicu inflasi. Untuk meyakinkan informasi tersebut, saya bertanya ke salah satu warga Kota Ambon yang berusia di atas 60 tahun dan yang mengalami kejadian berkurangnya debit air di rumah beliau, apakah seingat beliau, sebelumnya Kota Ambon pernah mengalami kejadian seperti saat ini? Jawabannya adalah belum pernah. Saya kemudian teringat dengan tayangan di salah satu stasiun berita internasional tentang kisah kekeringan di California Selatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Apakah hal yang sama mungkin akan terjadi di Kota Ambon? Saya tidak akan membahas dari sudut pandang tersebut di sini, lagipula saya bukan orang yang berkompeten untuk menjawab pertanyaan tersebut. Saya hanya ingin mengulas fenomena kelangkaan air di Kota Ambon terkait dengan perkembangan inflasi Kota Ambon di tahun 2016.
Salah satu pertanyaan wartawan dalam press release Berita Resmi Statistik (BRS) Perkembangan Harga Konsumen Kota Ambon dan Kota Tual pada Senin, 1 Februari 2016 di Ruang Video Conference BPS Provinsi Maluku adalah, apakah kelangkaan air yang terjadi mempengaruhi inflasi yang dialami Kota Ambon? Pada saat itu, jawaban yang diberikan adalah belum. Dengan pertimbangan, komoditi-komoditi dengan andil terbesar bagi inflasi Kota Ambon tidak secara langsung memiliki keterkaitan dengan kelangkaan air yang terjadi. Subkelompok komoditi yang secara langsung berkaitan erat dengan ketersediaan air adalah sayur-sayuran. Dari 18 jenis sayuran yang digunakan dalam menghitung inflasi Kota Ambon, pada Januari 2016 yang lalu, 10 jenis sayuran mengalami inflasi, yakni bayam, daun melinjo, kacang panjang, kangkung, kentang, kol, labu siam, tauge/kecambah, tomat sayur, wortel. Komoditi tomat buah dari subkelompok buah-buahan dan komoditi lemon cina dari subkelompok bumbu-bumbuan juga mengalami kenaikan. Akan tetapi bahwa hal tersebut dikarenakan kelangkaan air, diperlukan penelitian lebih lanjut. Dibutuhkan informasi mengenai kebutuhan air dari usaha pertanian masing-masing komoditi tersebut, jumlah produksi dari komoditi-komoditi tersebut yang diusahakan di Kota Ambon, dan berapa persentasi pasokannya ke sentra-sentra perdagangan untuk selanjutnya dikonsumsi masyarakat.
Selain subkelompok sebagaimana tersebut di atas, kelompok komoditi yang juga berpotensi mengalami inflasi akibat kelangkaan air adalah kelompok komoditi makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau; kelompok komoditi perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar; serta kelompok komoditi kesehatan. Dua dari beberapa komoditi yang digunakan untuk menghitung inflasi Kota Ambon pada kelompok komoditi perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar adalah tarif kontrak rumah dan tarif sewa rumah. Pada kedua komoditi tersebut, belum terjadi kenaikan harga, akan tetapi mulai terjadi perubahan pada fasilitas air yang digunakan. Jika tadinya menggunakan air ledeng/PDAM, beberapa rumah tangga sudah berubah menggunakan sumber lainnya, yakni membeli air tanki.
Rata-rata inflasi yang terjadi di Kota Ambon pada bulan Januari selama tahun 2006-2016 adalah 1,36 persen. Inflasi Kota Ambon periode Januari 2016 yang sebesar 0,28 persen tergolong kecil dalam periode 10 tahun terakhir ini, selain inflasi Januari 2007 yang sebesar 0,10 persen dan Januari 2011 yang mengalami deflasi sebesar 0,83 persen. Akan tetapi tentu masih terlalu dini untuk menyatakan hal tersebut adalah tanda-tanda baik untuk pergerakan harga di bulan-bulan mendatang. Gubernur Bank Indonesia di Kupang, Nusa Tenggara Timur pada hari Jumat, 12 Februari 2016 sebagaimana dilansir salah satu media nasional Indonesia menyatakan bahwa ancaman laju inflasi yang tinggi masih mengintai Indonesia pada 2016 ini, khususnya dari harga pangan. Selama ini, harga pangan memang menjadi penyumbang besar terhadap besaran inflasi. Potensi kenaikan harga pangan muncul akibat terlambatnya masa tanam dan panen yang disebabkan musim kemarau panjang (El Nino) pada akhir 2015 lalu. Sementara pada pertengahan 2016, ada potensi musim hujan panjang. Terkait dengan yang dinyatakan oleh Gubernur BI tersebut, kita perlu mewaspadai komoditi-komoditi yang sebagian besar dipasok dari luar Kota Ambon. Jika daerah pemasok mengalami goncangan inflasi akibat hal-hal terkait kondisi di daerah tersebut sehingga mempengaruhi pasokan ke Kota Ambon, maka hal tersebut juga serta-merta mempengaruhi pergerakan harga di Kota Ambon.
Fenomena kelangkaan air dan hal-hal terkait pernyataan Gubernur BI adalah sebagian dari hal-hal yang perlu kita waspadai terkait pergerakan harga di Kota Ambon. Masih ada aktor-aktor lama pemicu inflasi yang sangat mungkin masih memainkan peranannya. Sebut saja tarif angkutan udara dan ikan segar. Oh ya, jangan juga melupakan komoditi bahan bangunan seperti pasir dan batu bata. Dari pengalaman kami mendata, harga pasir di Kota Ambon dipengaruhi oleh lokasi penambangan. Ada momen-momen dimana harga pasir meningkat dikarenakan lokasi penambangan yang semakin jauh dari tempat pengangkutan dengan mobil. Kemudian untuk komoditi batu bata, jika terjadi hujan terus-menerus, akan memicu harga dikarenakan proses pengeringan yang terhambat.

Sebagaimana seluruh masyarakat dan juga para pemangku kepentingan, saya pun mengharapkan harga-harga komoditi di Ambon dan juga wilayah lainnya di Maluku terkendali. Harapan saya tulisan ini menjadi masukan bagi semua pihak yang berkepentingan dalam pengendalian inflasi, demi Maluku yang lebih sejahtera.


Dimuat pada kolom opini Harian Ambon Ekspres edisi Kamis, 25 Februari 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar