Jumat, 17 Juni 2016

Menjadi Konstituen yang Cerdas


Kota Ambon beberapa waktu belakangan ini dan sepertinya masih akan beberapa waktu ke depan semakin ramai dengan aneka poster, baliho dan spanduk yang bertebaran di berbagai sudut kota. Fenomena ini pun terjadi di beberapa kabupaten yang akan mengadakan pilkada di tahun depan. Dalam perjalanan dinas ke Kabupaten Seram Bagian Timur dengan melintasi juga Kabupaten Maluku Tengah beberapa hari yang lalu, saya menyaksikan poster, baliho dan spanduk para bakal calon kepala daerah yang ditempatkan mulai dari wilayah yang padat penduduk sampai ke pinggiran-pinggiran desa.
Selain menampilkan foto diri bakal calon kepala daerah, poster, spanduk, dan baliho biasanya juga berisi gabungan nama bakal calon kepala daerah (Walikota-Wakil Walikota atau Bupati-Wakil Bupati) dan beberapa kata yang diharapkan menggambarkan kepribadian maupun kelebihan para bakal calon, sebut saja muda; tulus; amanah; jujur; bisa biking labe; dan lain sebagainya. Saya jadi tersenyum sendiri menyaksikan pemandangan itu. Betapa para bakal calon kepala daerah berusaha keras membuat dirinya dikenal oleh para konstituennya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Menurut hemat saya, model berkampanye sebagaimana yang kita lihat belakangan ini, secara khusus di wilayah provinsi seribu pulau mungkin efektif untuk memperkenalkan diri namun seiring dengan perkembangan zaman, kami – konstituen membutuhkan lebih. Kami butuh lebih dari sekedar selebaran, poster, spanduk, dan baliho yang cenderung minim-informasi. Kami butuh lebih dari sekedar kampanye terbuka yang tidak selalu bisa kami hadiri. Kami butuh model kampanye kreatif yang membuat kami terinformasikan dengan baik bahwa para bakal calon kepala daerah mengerti benar permasalahan yang dialami oleh masyarakat di daerah pemilihannya dan sanggup mengimplementasikan rencana-rencana konkrit untuk mengatasi permasalahan yang ada.
Saya mengerti masing-masing bakal calon kepala daerah sudah memiliki blue-print kampanye-nya masing-masing. Saya pun tidak berencana untuk mengubah hal itu. Saya lebih tertarik kepada bagaimana memberikan pencerahan bagi semua konstituen di bumi raja-raja ini sehingga di kemudian hari pilihan yang dilakukan tidak akan disesali. Dari hasil pengamatan di lapangan dan beberapa artikel yang saya baca, saya mencoba mengulas 4 (empat) hal yang perlu dicermati oleh para konstituen sebelum menentukan pilihannya.

Jejaring (Networking)
Ini merupakan salah satu variabel utama yang biasanya menjadi andalan para bakal calon kepala daerah dan (partai) pendukungnya. Jejaring yang luas bisa merepresentasikan sifat-sifat positif dari seorang bakal calon. Biasanya seseorang yang memiliki pergaulan yang luas adalah seorang yang baik, sopan, ramah, murah hati, suka menolong, dan atau aktif berorganisasi. Tolong dicatat, saya menggunakan kata sambung dan atau. Artinya bisa saja seseorang memiliki jejaring yang luas karena memiliki banyak uang dan dengan modal itu banyak membantu sesamanya, akan tetapi bukanlah seorang yang cakap berorganisasi. Kita perlu mencermati kualitas dan bukan semata-mata kuantitas dari jejaring yang dimiliki seorang bakal calon kepala daerah.

Performance
Saya yakin, kita semua tentu setuju bahwa penampilan itu penting. Jika poster, spanduk, atau baliho seorang bakal calon dibuat dengan tidak profesional atau terkesan klise, bisa jadi hal tersebut mencerminkan model kerja si bakal calon. Sederhananya, menampilkan diri sendiri saja tidak maksimal, bagaimana mau menata kota yang lebih besar cakupannya? Jika ada yang berkilah dengan mengatakan bahwa itu bukan hasil kerja si bakal calon melainkan tim suksesnya, maka saya masih akan bertanya, “Bagaimana bisa mentransfer idenya untuk dieksekusi oleh tim yang lebih besar dan kompleks jika dengan tim yang lebih kecil saja standar banget hasilnya?”. Namun perlu juga saya ingatkan, pandangan pertama penting tapi bukan segalanya.

Rekam Jejak
Time flies, people change. Saya mencoba menafsirkan ungkapan tersebut sesuai konteks ini adalah mungkin kita pernah mendengar kabar-kabur tentang seorang bakal calon kepala daerah tetapi jangan melupakan fakta bahwa manusia bisa berubah. Pertanyaannya adalah kemana arah perubahannya? Di sinilah perlunya mengetahui rekam jejak seorang bakal calon kepala daerah. Bagaimana mengetahuinya? Pintar-pintarlah mencari informasi yang terpercaya. Akan ada banyak agen-agen tim sukses yang menghembuskan kabar tentang para bakal calon, entah kabar baik atau kabar buruk. Rekam jejak para agen ini pun patut kita cermati.

Kritis terhadap Semua Pemberian
Menjelang hari pemilihan kepala daerah yang semakin mendekat, arus distribusi aneka barang dan jasa atas nama bakal calon kepala daerah tertentu akan semakin deras. Masyarakat perlu mengkritisinya. Jika hanya karena menerima sejumlah uang atau barang lantas kita memutuskan memilih seorang bakal calon tertentu, jangan pernah marah jika di kemudian hari kita mendengar kabar bahwa kepala daerah yang kita pilih melakukan pelanggaran hukum karena menerima sejumlah uang atau barang. Toh, kita juga yang merestui model seperti itu sedari awal kan?


Kepada segenap lapisan masyarakat yang pada waktunya akan memilih calon kepala daerahnya masing-masing, ingatlah bahwa kita memiliki bargaining position (posisi tawar-menawar) di sini. Jangan pernah mau diintimidasi. Jangan pernah mau menjual kemajuan daerah kita hanya dengan beberapa lembar kertas berharga. Kemajuan daerah kita jauh lebih mahal harganya. Masa depan anak-cucu kita dipertaruhkan di sini. Mari menjadi konstituen yang cerdas!

Dimuat di Harian Ambon Ekspres edisi Jumat, 17 Juni 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar