Selasa, 19 Juli 2016

Tentang Banjir di Kota Ambon


Hujan deras di Kota Ambon selalu menimbulkan beragam respons dari masyarakat Kota Ambon. Bagi sebagian masyarakat yang tinggal di daerah sulit air, hujan deras adalah berkah dan memang dinanti-nantikan karena itu berarti pengeluaran untuk membeli air bersih bisa dihemat. Namun tidak demikian dengan masyarakat yang tinggal di dekat kali ataupun di lereng gunung. Mereka memiliki kenangan buruk dengan hujan deras. Tentu masih segar dalam ingatan kita beberapa tahun lalu ketika banjir dan longsor terjadi di sebagian besar wilayah Kota Ambon.
Beberapa waktu yang lalu ketika hujan deras turun semalaman dan berlanjut sampai siang hari, beberapa titik rawan banjir di Kota Ambon mengalami luapan air yang signifikan. Bagi yang akrab dengan media sosial, kita dapat menyaksikan potret luapan air dengan tingkat keparahan yang bervariasi antar wilayah, termasuk di wilayah Bandara Pattimura. Lama-kelamaan sangat mungkin masyarakat di wilayah-wilayah tersebut akan terjangkit fobia hujan deras. Lalu apa yang bisa kita lakukan? Karena jika tidak ada intervensi yang mumpuni dan konsisten, dan dengan mengingat wilayah resapan air yang semakin tergerus, hal ini akan menjadi salah satu kalender tahunan Kota Ambon. Semua elemen dalam wilayah Kota Ambon patut melakukan introspeksi yang sejujur-jujurnya. Mengapa demikian? Karena semuanya memiliki andil di sini.

Sebagai Anggota Masyarakat
Apakah kita sudah melakukan bagian kita? Harus diakui, masih ada yang memancing di air keruh. Masih ada anggota masyarakat yang menganggap hujan deras sebagai truk sampah. Ketika air mengalir deras di saluran-saluran got, mereka menganggap itu kesempatan untuk membuang sampah tanpa harus melangkahkan kaki ke tempat pembuangan sampah yang telah disediakan.
Pemandangan penumpang angkutan-angkutan umum membuang sampah dari dalam angkutan masih jamak kita temui. Bahkan saya sendiri pernah menyaksikan penumpang salah satu mobil dinas (plat merah) melakukan hal yang sama. Para pejalan kaki yang membuang sampah ke dalam got pun tidak sedikit. Mungkin saja para pelaku tindakan tersebut akan berdalih, “Ah, itu kan hanya satu gelas plastik kecil!”, tapi pernahkan membayangkan akumulasi dari tindakan tersebut?
Masih banyak warga masyarakat yang membangun di pinggir-pinggir kali dan di lereng gunung tanpa memperhatikan standar keamanan dan resiko yang mungkin timbul di kemudian hari. Tidak sedikit rumah warga di pinggiran kali yang langsung menempel pada talut dan tidak menyadari bahwa hal tersebut menambah beban talut. Ketika suatu waktu rumah mereka menjadi korban banjir, mereka kemudian berteriak-teriak meminta pertanggungjawaban Pemerintah Kota Ambon yang pada berbagai kesempatan dan media sudah memberikan peringatan sebelumnya.

Sebagai Pemerintah Kota Ambon
Saya bertanya-tanya di dalam hati, apakah Pemerintah Kota Ambon memiliki informasi yang akurat tentang banjir dan aneka keterkaitannya selama beberapa tahun terakhir ini serta menggunakannya sebagai dasar perencanaan, monitoring, dan evaluasi program penanggulangan banjir? Informasi tersebut seperti series data curah hujan; series data ketinggian permukaan sungai khususnya di wilayah rawan banjir; series data (perkiraan) volume sampah yang dibuang ke kali; ataupun pemetaan bangunan-bangunan di wilayah rawan banjir dan rawan longsor yang ilegal dan tidak memenuhi persyaratan. Informasi tersebut penting untuk melakukan tindakan preventif.
Pemerintah Kota Ambon juga perlu melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program pembangunan infrastruktur. Misalnya yang saya lihat di wilayah tempat tinggal saya. Ketepatan saya berdomisili di salah satu wilayah dekat aliran Kali Waetomu. Beberapa rumah di wilayah tempat tinggal saya turut menjadi langganan banjir kala hujan deras turun. Di satu sisi, setiap tahunnya Pemerintah Kota Ambon melakukan revitalisasi jalan di depan rumah saya yang nota bene hanya jalan kecil (mungkin berkelas jalan kabupaten) yang dalam pandangan saya masih layak digunakan. Akan lebih baik jika Pemerintah Kota Ambon mengalihkan anggaran revitalisasi jalan itu ke kegiatan revitalisasi (pendalaman) saluran got. Hal itu akan jauh lebih efektif dan berdaya guna kala hujan deras tiba.
Pemerintah Kota Ambon harus berani mengambil tindakan tegas terhadap masyarakat yang tinggal di daerah aliran sungai sebagaimana yang dilakukan terhadap sebagian penduduk daerah Batu Gajah yang tinggal di lereng gunung, tanpa harus menunggu terjadinya bencana. Sekali lagi, Pemerintah Kota Ambon diharapkan lebih aktif melakukan tindakan preventif. Mungkin perlu melakukan studi banding, tetapi tidak perlu juga sampai berbondong-bondong jauh-jauh ke Negeri Belanda yang memang terkenal sebagai pakar pengairan dan sebagai konsekuensinya memboroskan begitu banyak uang rakyat. Kita bisa belajar dari kota-kota besar di Indonesia yang berhasil mengurangi dampak bajir bukan, seperti Jakarta?

Saya tidak berniat mengukur dan menimbang-nimbang porsi kesalahan di sini. Pada dasarnya semua elemen patut melakukan introspeksi. Masyarakat membutuhkan program yang tepat dan pendampingan aktif yang kontinyu dari Pemerintah Kota Ambon sebagaimana Pemerintah Kota Ambon juga membutuhkan dukungan masyarakat untuk menyukseskan semua program yang disiapkan. Akan tetapi kita perlu mengakui bahwa upaya yang dilakukan semua elemen itu belum maksimal. Jika hal ini tidak diubah dari sekarang, maka Pemerintah Kota Ambon harus mulai memikirkan perlunya memberikan semacam travel warning lewat website resmi-nya tentang potensi banjir di Kota Ambon kala curah hujan tinggi.

Proses menuju Kota Ambon yang lebih baik tentu memerlukan waktu dan komitmen bersama. Mari basudara warga Kota Ambon, katong mulai dar skarang.


Harian Ambon Ekspres edisi 19 Juli 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar