Senin, 25 September 2017

Aplikasi Kursus ke India

Ini menjadi komitmen pribadi saya jika diijinkan Tuhan lulus kursus ke India, membagikan pengalaman melamar kursus. Bukan hanya mengenai proses aplikasi, tetapi juga suka-duka kala melakukan pengurusan dokumen-dokumen terkait sebelum keberangkatan. Harapannya bisa menjadi tambahan informasi bagi saudara-saudara sebangsa dan setanah air.

7 Juni 2017 - Saya memperoleh informasi terkait kursus Indian Technical and Economic Cooperation (ITEC) yang dibiayai penuh oleh Ministry of External Affairs - Government of India dari rekan sejawat di Humas BPS RI yang baru saya buka e-mailnya pada keesokan harinya. Saya ingat betul (secara masih tersimpan di inbox), saat itu saya segera membalas e-mail dan mengucapkan terima kasih. Saya membaca isi e-mail dan sempat tertarik pada salah satu kursus tetapi kemudian saya tinggalkan. Jujur, saya kurang berminat. India gitu loh! Saya pernah membaca tentang tingkat kekerasan terhadap turis perempuan di India yang cukup tinggi. Okey, kekerasan itu terjadi karena beberapa faktor. Namun setidaknya ada kesan yang kurang menyenangkan tentang India. Alasan lain kenapa saya ga langsung berminat adalah saya pernah melamar kursus ke India tahun 2008 dan ga lolos. Trauma nih ceritanya. Hahaha...

20 Juni 2017 - Spontan di hati muncul pemikiran, kenapa ga nyoba apply kursus ke India? Saya lalu berpikir, iya ya, kenapa ga dicoba aja? Kalo ga lulus ya ga ada bedanya. Tapi kalo lulus lumayan menambah jam terbang kan? 

21 Juni 2017 - Saya mulai mempersiapkan semua dokumen terkait. Puji Tuhan, saya sudah menyimpan dokumen-dokumen pribadi dalam bentuk pdf ataupun jpg di salah satu folder di laptop saya. Adapun dokumen yang perlu dipersiapkan antara lain:
  1. Print out online application pada alamat web https://www.itecgoi.in/meaportal/registerapplicant
  2. TOEFL/IELTS score (boleh salinan, ga harus asli). Score-nya minimal 450.
  3. Reference letter (surat persetujuan) dari atasan.
  4. Medical report. Saya pake surat keterangan dari Puskesmas terdekat dengan kantor.
  5. Nominating form yang ditandatangani atasan.
Untuk butir 4 dan 5, formatnya sudah tersedia pada online application yang akan dicetak dari alamat web sebagaimana tersebut di atas. Pemerintah India juga mensyaratkan pelamar sudah memiliki pengalaman kerja minimal 3-5 tahun dan berusia antara 25-45 tahun. Pelamar adalah mereka yang bekerja di pemerintahan, swasta, dan dunia pendidikan. Aplikasi (hard copy) harus diterima oleh Kedutaan Besar India selambat-lambatnya 2 minggu sebelum kursus dimulai. Longgar banget kan ya? Tetapiii, pas pengumumannya donk, mepet banget sodarah-sodarah!

Di tanggal 21 Juni 2017 itu saya benar-benar gerilya. Mengapa? Karena hari terakhir kerja sebelum libur Lebaran adalah 22 Juni 2017! Pasti pada bertanya, kenapa buru-buru? Bukankah dokumen terkait boleh diterima 2 minggu sebelum dimulainya kursus? Pada beberapa blog yang saya baca, katanya makin cepat makin baik. Baik ke kitanya maksudnya kali ya? Biar tenang aja. Kursus yang ingin saya ikuti dimulai pada awal September 2017. Jadi perhitungan saya, dokumen akan diterima awal Juli. Lumayan lah, 2 bulan sebelum dimulainya kursus. Toh kita harus memperhitungkan waktu perjalanan dokumen tersebut sampai akhirnya nyampe ke tangan pihak yang berkuasa memutuskan. Jadilah pada sore hari tanggal 22 Juni 2017 saya mengirimkan dokumen via pos (Kantor Pos).

3 Juli 2017  - Saya menerima e-mail dari Team ITEC sebagai berikut:

Dear PAULINE,

Your application has been received and is now Under Process.


Team ITEC
DPA-II
Ministry of External Affairs
Govt. of India.

Puji Tuhan. Setidaknya sampai di sini, saya sudah mengerjakan bagian saya. Tinggal menunggu pengumuman. Inilah enaknya mengerjakan sesuatu lebih awal.

8 Agustus 2017 - Saya menerima e-mail sebagai berikut:

Dear PAULINE GASPERSZ,

Your Application has been Accepted. Please contact Mission for further process.


Team ITEC
DPA-II
Ministry of External Affairs
Govt. of India.

9 Agustus 2017 - Saya menerima e-mail dari institusi penyelenggara kursus yang menginformasikan bahwa saya diterima untuk mengikuti program kursus. Baik oleh institusi penyelenggara kursus maupun Team ITEC, saya diminta untuk menghubungi Kedutaan Besar India di Indonesia. Informasi dari Kedutaan Besar India adalah mereka belum menerima surat dari Ministry of External Affairs, yang akan menjadi dasar hukum bagi pengurusan selanjutnya sehingga mereka belum bisa bertindak lebih jauh.

14 Agustus 2017 - Saya menerima acceptance latter (pdf) via email dari Kedutaan Besar India. Dari situ saya baru bisa mulai bergerak untuk pengurusan dokumen terkait. Saya segera menghubungi Bagian Humas BPS untuk informasi lebih lanjut. Saya diminta untuk mengirimkan semua dokumen terkait melalui e-mail tetapi khusus untuk paspor biru harus mengirimkan asli. Puji Tuhan, ada teman sekelas dulu zaman kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) yang lagi tugas ke Ambon dan akan kembali ke Jakarta pada tanggal 15 Agustus 2017. Segeralah saya bergerilya menyiapkan segala sesuatunya dan menitipkannya ke teman dari Pusat.

16 Agustus 2017 - Saya dihubungi Humas BPS yang menginformasikan bahwa mereka telah menerima surat pengantar dan dokumen terkait. Akan tetapii... Mereka juga menginformasikan bahwa dibutuhkan 7 hari kerja untuk pengurusan di Kementerian Sekretariat Negara untuk penerbitan Surat Persetujuan Perjalanan Dinas Luar Negeri serta 4 hari kerja untuk pengurusan di Kementerian Luar Negeri. Sampai di situ, saya langsung lemes. Kata teman dari Humas, "Pauline, waktunya mepet banget. Coba kamu back-up dengan paspor hijau". Dengan lemes saya menjawab, paspor hijau saya akan expire di bulan Oktober 2017. Umumnya untuk pengurusan di kedutaan, paspor kita harus masih berlaku minimal 6 bulan. Saya lalu dianjurkan untuk segera memperpanjang paspor hijau saya. Saya inget banget sempat bilang begini waktu itu, "Kak, saya tahu ini mepet banget. Hanya saja saya percaya akan melihat tangan Tuhan bekerja." Saya bukan lagi sok beriman saat itu. Tuhan pun tahu, saya agak-agak hopeless saat itu. Hanya mencoba belajar tetap memiliki iman dalam segala situasi. Setelah menutup pembicaraan dengan rekan dari Humas BPS, saya langsung menghubungi teman di Kantor Imigrasi Ambon menanyakan tentang syarat memperpanjang paspor hijau. Siang itu juga saya langsung menuju Kantor Imigrasi Ambon untuk memperpanjang paspor hijau saya karena informasi yang saya dapatkan, pengurusan paspor membutuhkan 3 hari kerja, sedangkan tanggal 17 Agustus itu libur dan Selasa, 22 Agustus 2017 saya harus ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan salah satu survei sekaligus pengurusan visa di Kedutaan Besar India.

21 Agustus 2017 - Hitungannya hari ini baru 2 hari kerja setelah saya mendaftar untuk perpanjangan paspor saya. Saya mencoba menghubungi teman di Kantor Imigrasi Ambon untuk menanyakan apakah paspor saya sudah bisa diambil. Saya pernah mendengar informasi, katanya walau baru 2 hari kerja, jika sudah selesai bisa diambil. Saya dianjurkan untuk langsung datang ke Kantor Imigrasi. Sesampai di sana, paspor saya belum selesai. Saya udah lemes aja. Saya ngomong ke orang di Kantor Imigrasi, "Besok pagi saya ke Jakarta, Pak. Apa ga bisa selesai hari ini?" Mereka menyampaikan yang akan mengusahakan dan saya dianjurkan untuk pulang saja dulu, nanti akan mereka hubungi. Jam 4 sore saya dihubungi oleh pegawai Kantor Imigrasi Ambon, meminta maaf yang mereka sudah mencoba tetapi paspor saya belum bisa diambil hari ini. Saya disarankan untuk meminta pimpinan saya untuk menghubungi Kepala Kantor Imigrasi Ambon dan membicarakan lebih lanjut. Puji Tuhan, pimpinan saya bersedia menghubungi dan setengah 5 sore itu juga saya diminta datang untuk mengambil paspor hijau saya.

23 Agustus 2017 -  Saya mendatangi Kedutaan Besar India untuk mengurus student visa. Tentang waktu kedatangan ke Kedutaan Besar India ini ada juga ceritanya. Mereka mensyaratkan saya harus datang sendiri, sekalipun saya sudah menjelaskan bahwa posisi saya adalah di Kota Ambon yang membutuhkan berbagai sumber daya untuk ke Jakarta. Puji Tuhan, ada pelatihan survei di kantor pusat yang seyogyanya diselenggarakan di bulan September namun kemudian dipindahkan ke bulan Agustus dan waktunya pun pas banget dengan waktu selesainya pengurusan paspor hijau saya.



24 Agustus 2017 - Pada tanggal yang sama dengan tanggal berpulangnya (Almh) Mama tercinta ke pangkuan Bapa di surga, saya akhirnya menerima student visa saya yang mengandung begitu banyak cerita di balik proses pengurusan dokumen-dokumen terkaitnya.

Lumayan panjang juga ya cerita saya kali ini. Jika ditanya bagaimana saya menyimpulkan semua rangkaian perjalanan mulai dari proses aplikasi sampai dengan siap berangkat ke India? Kesimpulannya adalah Tuhan Yesus sungguh amat baik! Dari suatu pemikiran di malam hari, perjalanan pengurusan dokumen-dokumen yang siap in the last minutes, kesesuaian waktu yang membuat saya hemat tiket Ambon-Jakarta PP, dll.

Semoga sharing cerita yang panjang ini bermanfaat dan selamat memulai petualangan... :)

Kamis, 21 September 2017

Pengalaman Berkendaraan Umum di India

Sebenarnya judul cerita ini agak-agak metafora gitu deh, secara India itu luas banget dan jenis kendaraan umumnya pun banyak. So, sebelum kita melangkah ke isi cerita lengkapnya, izinkan saya menjelaskan konsep yang digunakan di sini. India di sini dibatasi pada Kota Hyderabad, dan jenis kendaraan umum yang menjadi sampel adalah tuk-tuk alias bajaj, uber, dan bis kota.

Alkisah pada suatu masa, saya dengan seizin Tuhan Pencipta langit dan bumi ini - yang kemudian menggerakkan hati pimpinan di kantor untuk juga turut mengizinkan - mendapat kesempatan mengikuti suatu kursus di Kota Hyderabad, yang terletak di bagian selatan negara India. Mengenai bagaimana kisahnya sampai saya beroleh kesempatan ini, akan dibahas di lain chapter. (atu-atu coy...)

Umumnya jika kami, para peserta kursus beranjangsana ke luar kompleks institusi penyelenggara kursus, kami disediakan angkutan bis yang sangat comfortable. Namun tentu kami tidak bisa bergantung pada fasilitas yang disediakan seminggu sekali itu. Perlu kreatif dan keluar modal dikitlah.. So, pada suatu senja, saya dan beberapa teman yang ingin melakukan window shopping sepakat keluar bersama. Dan entah bagaimana, saya adalah the only lady among 5 gentlemen. Mengejutkan? Masih ada yang lebih seru lagi. Kami - entah bagaimana - sepakat menggunakan HANYA 1 tuk-tuk alias bajaj versi Indonesia. Ukurannya sama pun. Ga percaya? Inilah penampakannya..

Tuk-tuk (bajaj ala India)
Bapak/Ibu/Saudara/i, pertama kali melihat gaya orang India di Hyderabad menggunakan tuk-tuk, saya sempat terpesona. Ajib-ajib deh, bisa-bisanya 5 orang naik dalam 1 tuk-tuk? Ternyata kemudian saya dan rekan-rekan sejawat memecahkan rekor itu. Ber-6 coy! Itu posisi duduknya, sampai ada yang dipangku dan ada yang duduk nemenin sopir tuk-tuk di depan. Lutut saya aja sampe hampir nyenggol wajah salah seorang teman. Saya sempat mengusulkan untuk berfoto sebelum turun, tetapi ketika sampai di tempat tujuan, saking senengnya menemukan ruang yang lebih luas, pada lupa ngambil fotonya.

Nah, itu perginya. Ternyata kami ga hanya window shopping. Kami akhirnya belanja-belinji. Masing-masing membawa tentengan. Kemudian saya berpikir, palingan balik nanti kami menggunakan 2 tuk-tuk. Ternyata tidaaak! Tuk-tuk memiliki semacam bagasi di belakang yang muat untuk lumayan banyak barang. Jadinya, kami ber-6 kembali menggunakan satu tuk-tuk. Itu antara niat, kompak, militan, dan irit banget. Hahahaha...

Pengalaman berikutnya dengan angkutan umum di India adalah ketika saya menggunakan aplikasi uber. Di situ ada opsi jumlah penumpang yang ternyata berbeda jika saya sendiri atau ada teman lainnya. Saya pastinya memilih satu penumpang dengan alasan kejujuran dan penghematan. Ternyata, beberapa meter dari tempat saya naik, ada penumpang lain yang turut naik. Saya sempat kaget juga. Untungnya pernah membaca salah satu blog tentang pengalaman sesama WNI yang naik taxi dari Rajiv Ghandi International Airport - Hyderabad tetapi kemudian ada penumpang lainnya. Saya lalu bertanya, jadinya ongkos-nya di-share ya? Kata sopir, iya. Penumpang "gelap" itu turun duluan. Saya turun belakangan dan harus membayar penuh sesuai yang tertera di aplikasi. Saya sempat berargumen, kan sharing? Katanya sesuai yang tertera. Daripada bikin story di negara orang dan saya pun buru-buru, saya mbayar aja. Sempat berpikir, apa karena jumlah penumpang membedakan tarif makanya bisa ada penumpang lain? Itu hanya di pikiran saya.

Dari tempat yang saya tuju dengan menggunakan uber tersebut, saya memilih untuk kembali dengan menggunakan bis kota. Alasannya?
Pertama, lebih murah.
Kedua, masih sore.
Ketiga, jadi lebih merasakan kehidupan penduduk India.
Keempat, udah lama ga ngrasain naik bis kota.
Kelima, saya suka banget menggunakan kendaraan dan menikmati pemandangan yang ada. Pastinya jalur bis kota lebih jauh dunk ya.
Keenam, saya tidak menggunakan simcard India. Waktu mesan menggunakan fasilitas wifi di dalam kompleks institut. Waktu mau balik ga bisa mesan uber karena terputus dari dunia maya.
Mengenai alasan mana yang lebih utama dan terutama, ga ngerti juga saya. Saling berkorelasi soale. Hghg... ^_^

Di dalam bus kota, saya sempat berdiri dan mengalami pengalaman digoyang-goyangkan oleh alunan bis kota yang ga jelas biramanya itu. Yang luar biasa di sini adalah, kondektur-nya dong, pake alat mirip ATM dan ketika kita menyebutkan tujuan, dikalkulasi oleh beliau dan keluarlah struck seperti ini:


Canggih banget kan? Padahal penampakan dan kondisi bis kota-nya mirip-mirip aja tuh sama yang ada di Indonesia. Ketika kemudian saya memperoleh tempat duduk, saya sempat ngobrol dengan seorang remaja di samping saya. Berawalnya obrolan tersebut adalah ketika saya menanyakan apakah halte tempat saya akan turun masih jauh? Dia kemudian berbaik hati melakukan penelusuran di handphone-nya dan menjawab pertanyaan saya. Sementara kami berbicara, ada seorang remaja lain mengambil tas dari remaja di samping saya itu dan mengucapkan terima kasih. Ternyata dari tadi itu dia memangku sebuah tas yang bukan miliknya. Saya lalu bertanya, apakah mereka saling mengenal? Katanya tidak. Dia hanya menolong memangku tas remaja tadi yang pada awalnya tidak memperoleh tempat duduk. Wow! Luar biasa...

Dalam obrolan kami selanjutnya saya menanyakan tentang uber dan pengalaman saya dengan adanya penumpang "gelap" itu. Katanya itu lumrah di India jika menggunakan uberPOOL. Namun tarifnya akan dibagi dua. Nah lo! Berarti tadi ane kena tipu dong! Kurang asam... Tapi sudahlah, itu menjadi pengalaman. Makanya saya bagikan di sini juga. Kali aja ada di antara pembaca yang akan ke India, sudah tahu kan? Jangan sampe ketipu kayak saya ya... Walau sejatinya nominal tarif uber di India murah banget, 17ribu-an rupiah untuk jarak 12 km, tetapi jiwa ekonomis di dalam diri kadang ga rela. Hehe...

Demikian sedikit sharing pengalaman tentang penggunaan kendaraan alias angkutan umum di India. Saya percaya, pasti cukup menghibur dan bermanfaat. Yakin neh! Hahaha...


RALAT :
Maafkan untuk kekeliruan dalam sharing cerita tentang uberPOOL yang disebabkan minimnya informasi. Berkat usul salah seorang senior, saya coba memesan dengan menggunakan uberGO, harganya 2x lipat uberPOOL dan tidak ada opsi jumlah penumpang. Jadi sepertinya memang tarif uberPOOL yang saya gunakan adalah tarif untuk 1 orang.
Terima kasih.. :) :)

(Untung aja hari itu ga sampe bersitegang leher. Hghg...)

Selasa, 19 September 2017

Pesona Baru di Barat Daya Maluku

Ini bukan merupakan perjalanan pertama saya ke wilayah Kabupaten Maluku Barat Daya. Seingat saya, sudah ketiga kalinya saya mengunjungi kabupaten di barat daya Maluku. Namun ini adalah kali pertama saya mengunjungi ibukota definitif dari Kabupaten Maluku Barat Daya - Kota Tiakur yang terletak di Pulau Moa.

Jujur, saya melakukan perjalanan ini dengan agak berat hati. Pemikiran saya, apa yang akan saya temui di wilayah yang baru ini? Awalnya agak dengan berat hati melakukan perjalanan ini. Tetapi, tadaaaa - sangat berkesan.

Petualangan dimulai dari pencarian tiket. Pesawat dijadwalkan take off sekitar pukul 10.00 WIT dan kami baru mendapat KEPASTIAN tiket sekitar pukul 07.45 WIT di hari yang sama. Tolong digarisbawahi, itu baru kepastian tiket. Tiket belum di tangan. Hanya saja saya dan rekan yang turut serta mencoba melangkah dengan iman. Bukti iman kami adalah kami ke kantor hari itu sudah dengan membawa perlengkapan layaknya seseorang yang akan berangkat. Toh kalo ga jadi berangkat, ga masalah. Tapi seandainya jadi, seperti yang terjadi pada kasus kami, pan udah siap sedulur-sedulur. Hahaha...

Perjalanan saya ke Kabupaten Maluku Barat Daya adalah dalam rangka pengawasan pelaksanaan Survei Kemahalan Konstruksi yang output datanya adalah Indeks Kemahalan Konstruksi, salah satu variabel penting dalam penghitungan Dana Alokasi Umum oleh Pemerintah Pusat. Bersama saya, salah satu rekan - Vector Hehanussa alias Etok yang melakukan kegiatan Survei Pariwisata.

Singkat kata kami tiba di bandara pukul 08.30 WIT dan pada pukul 10.00 WIT baru berhasil memegang tiket di tangan. Kesenangannya ngalah-ngalahin kontestan Indonesia Idol yang berhasil masuk ke babak berikutnya. Hahaha...

Siap naik pesawat..
Bagi pembaca yang teliti, mungkin akan bertanya. Bukannya di awal cerita kurang niat ke sono? Kok senang banget ketika akhirnya ngdapetin tiket? He-eh. Soale ada kerjaan penting yang perlu diselesaikan di sana dan kalau bukan pada waktu itu, ga yakin bakalan punya waktu lain. Penting ga sih dijelasin segitu detilnya? Pentinglah... ^_^

Kami menggunakan pesawat Trigana Air Service dan menempuh perjalanan selama 1 jam 25 menit dari Bandara Pattimura Ambon menuju Bandara ..... Orno di Kota Tiakur. Daaaan, saya menemukan hal yang unik setibanya di Tiakur. Alur pejalan kaki dari landasan menuju ruang tunggu-nya boo.. Unik!

Jalan setapak di bandara
Di bandara kami dijemput langsung oleh Kepala BPS Kabupaten Maluku Barat Daya, Pak Corneles Bulohlabna dan kemudian menuju Kantor BPS. Setibanya di kantor, layaknya pegawai yang profesional (ceile..), kami langsung melakukan briefing yang dipimpin oleh Pak Neles untuk mengevaluasi pelaksanaan pekerjaan yang menjadi tupoksi sekaligus sebagai kesempatan untuk melakukan knowledge sharing untuk menyegarkan dan memperbaharui konsep dan pemahaman teman-teman di BPS Kabupaten Maluku Barat Daya.


Setelah briefing, bersama Pak Neles dan rekan penanggung jawab pekerjaan (baca: Kepala Seksi) Statistik Distribusi, Andrew Sarioa menemani kami melakukan pemantauan lapangan sekaligus jalan-jalan. Kami sempat mengunjungi lokasi gereja tua yang terletak di suatu tempat di tepi pantai, tepatnya Desa Pati. Berikut ini saya berfoto dengan lonceng dari gereja tua tersebut. Salah satu keunikan gereja tersebut adalah jumlah tiang di dalam gereja dan juga jendela, masing-masing 12 buah. Kami mencoba menerka-nerka bahwa itu merujuk pada jumlah suku Israel dan jumlah murid-murid Tuhan Yesus yang pertama. It might be...


Masih di desa tempat gereja tua tersebut berada, kami mengunjungi lokasi pohon ara. Alkisah ini jenis pohon yang sama dengan pohon ara di dalam Perjanjian Baru, pada zaman Tuhan Yesus. Ketika menyebutkan tentang kejadian di Alkitab dan menyinggung tentang pohon ara, spontan bulu kuduk saya dan juga Etok merinding. Guys, belum pernah dakyu mengalami yang seperti itu. So? Silakan diterjemahkan sendiri...

Pohon ara yang kami lihat sudah sangat tua. Tidak jelas berapa tahun umurnya. Mungkin para ahli biologi bisa mengukurnya, monggo ke Tiakur. Keunikan dari pohon ara yang kami lihat tersebut adalah ketika pohon tersebut sudah mau tumbang akan ada tunas yang keluar dan memanjang sampai ke tanah. Tunas tersebut akan masuk ke dalam tanah, berakar dan kemudian menjadi pohon seperti tampak pada gambar di bawah ini. Batang pohon tersebut yang kemudian menopang pohon utama sehingga tetap tegak berdiri. Kalo begini modelnya, pohon tersebut bisa bertahan lama banget dunk ya. Luar biasaa....


Dalam perjalanan ke Desa Pati, kami melewati rumah penduduk dengan pagar seperti berikut ini. Jadi ingat film Inggris jadul, kayak gini kan pagar penduduknya. Ga percaya? Silakan cari tau sendiri...
Keunikan pagar ini adalah tanpa menggunakan semen, hanya batu karang yang disusun. Jangan tanya kekuatannya. Efektif untuk melindungi kerbau Moa yang ingin bertamu ke lahan orang tanpa izin.


Salah satu tempat di Tiakur yang patut dikunjungi adalah landasan pesawat alami yang digunakan tentara sekutu pada zaman Perang Dunia II. Lokasinya di Desa Klis. Kenapa disebut landasan pesawat alami, karena memang natural tanpa mengalami sentuhan tangan manusia. Rumputnya pun seperti dipangkas dengan teratur, padahal pun tanpa sentuhan tangan manusia. Saya bertanya-tanya, apa karena banyak kuda dan kerbau di Moa sehingga rumput tetap terpangkas rapi ya? Bagus juga sistem sensor pada kuda dan kerbau Moa.

Landasan pesawat tentara sekutu
Oh iya, kunjungan ke landasan pesawat tentara sekutu ini dilakukan di hari kedua setelah selesai melakukan kunjungan ke pasar dan pengecekan beberapa komoditi survei. Saya mendapat kehormatan didampingi oleh rekan-rekan BPS Kabupaten Maluku Barat Daya di antaranya Yohanes Tapar alias Bu John, Hendra Unawekla, Andrew Sarioa, dan Wenceslaus Suarliak.


Dalam perjalanan tersebut, kami singgah dan menikmati makan siang di rumah Oom Roky yang ketepatan adalah Koordinator Statistik Kecamatan (KSK) Teladan Provinsi Maluku Tahun 2017. Kami disuguhi menu spesial: Daging Kerbau Asap. Luar biasa... Lebih luar biasa lagi, alkisah ada keluarga yang mengerjakan kuburan milik anggota keluarganya. Untuk mengerjakan kuburan tersebut, mereka menyembelih 2 ekor kerbau. Fyi, seekor kerbau harganya paling murah 5 juta. Setelah pengerjaan kuburan selesai, dikarenakan masih ada sisa sopi (tuak) yang disediakan selama pengerjaan kuburan tersebut, mereka sepakat untuk mengadakan acara dalam rangka menghabiskan sopi tersebut. Hanya untuk menghabiskan sopi, dipotong lagilah 8 ekor kerbau, yang di dalamnya kami turut menikmati. Itu baru kerbau coy, belum bahan pendukung lainnya seperti nasi, umbi-umbian, bawang, cabe, dan aneka bumbu masak lainnya. Ini cukup kontradiktif dengan tingginya angka kemiskinan Kabupaten Maluku Barat Daya. #merenung...


Di Desa Klis ini jugalah, untuk kedua kalinya dalam hidup, saya naik kudaaa.... Hahaha...


Saya juga sempat berfoto bersama Oom Roky dengan tanaman cabe yang ga mirip cabe merah keriting dan juga ga mirip cabe merah besar. Agak sedikit mirip paprika merah tetapi ukurannya kecil. Bingung? Saya juga...


Ternyata pada akhirnya saya sangat menikmati perjalanan ke Tiakur, Maluku Barat Daya. Sebuah ibukota kabupaten yang benar-benar dimulai dari ketiadaan. Penataan kota-nya ciamik. Respondennya ramah. Pemerintah Kabupaten Maluku Barat Daya juga tegas tidak memberikan ijin bagi usaha bar dan sejenisnya. Oh ya, dan satu lagi. Saya sangat menikmati aneka roti yang bener-bener fresh from the oven, hal mana di zaman maju ini sudah sulit ditemui bahkan di Kota Ambon. Keep moving Maluku Barat Daya. God bless!  





Senin, 22 Mei 2017

Pesan untuk Pemimpin Baru


Kota Ambon baru saja memiliki pemimpin baru untuk periode tahun 2017-2022. Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan selamat memulai tanggung jawab melayani Kota Ambon bagi Bapak Richard Louhenapessy dan Bapak Syarif Hadler. Dengan keyakinan tidak ada pemimpin yang tidak berasal dari Tuhan, saya percaya Bapak berdua adalah orang-orang pilihan untuk membawa Kota Ambon menjadi lebih baik dari yang ada saat ini. Dan bahwa Bapak berdua terus membutuhkan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat, maka saya sebagai salah satu warga kota menggunakan tulisan ini sebagai salah satu media menyampaikan aspirasi.

Transparansi Program Pembangunan
                Di era transparansi ini, Pemerintah Kota Ambon perlu menerapkan prinsip transparansi dengan mulai melakukan optimalisasi website resmi Pemerintah Kota Ambon – www.ambon.go.id. Program unggulan, kendala, dan progress implementasi program dari setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) bisa ditampilkan di website. Agar website ini lebih komunikatif bisa juga menampilkan kritik saran warga kota yang diterima dan telah ditindaklanjuti. Termasuk memunculkan rubrik testimoni warga kota terhadap kinerja Pemerintah Kota Ambon sebagaimana yang ditampilkan oleh website Badan Pelayanan Perijinan Terpadu (BP2T) Kota Ambon – www.bp2t.ambon.go.id. Hal ini bisa menjadi booster bagi peningkatan kualitas kinerja aparat Pemerintah Kota Ambon.
                Transparansi program pembangunan ini pada waktunya juga bisa meningkatkan kualitas kemitraan antara Pemerintah, Swasta, dan Masyarakat. Misalnya, jika link website Badan Lingkungan Hidup Kota Ambon – www.blh.ambon.go.id, mengoptimalkan isi web-nya dengan informasi titik-titik rawan bencana di Kota Ambon atau spot-spot yang harus dilindungi dan tidak boleh dijadikan lokasi membangun, hal ini akan membuat masyarakat lebih proaktif melakukan tindakan antisipasi. Bagi pihak swasta, hal ini bisa menjadi masukan untuk implementasi Corporate Social Responsibility (CSR).

Satunya Kata dan Perbuatan
                Masih menggunakan contoh isu lingkungan hidup. Pada website Badan Lingkungan Hidup Kota Ambon, ada satu tayangan yang bunyinya: “Kami akan selalu mengedukasi masyarakat untuk peka, memelihara dan menjaga lingkungan.” Bagaimana dengan bangunan-bangunan di lokasi areal hutan mangrove di Teluk Ambon Bagian Dalam sehingga terjadi penurunan luasan mangrove sekitar 15 ha sejak tahun 1998? Ini adalah sekedar contoh. Katakanlah Pemerintah Kota memiliki argumen terkait contoh saya itu, maka argumen tersebut bisa dimuat pada website sehingga fungsi edukasi yang ditargetkan akan semakin nyata.

Etalase Bumi Raja-Raja
                Kita selalu mendengung-dengungkan Maluku sebagai bumi raja-raja. Tetapi apakah yang khas dari slogan tersebut yang langsung ditangkap oleh pandangan mata ketika seorang wisatawan datang ke Maluku? Kota Ambon sebagai ibukota sekaligus pintu masuk utama Provinsi Maluku perlu menangkap momen ini. Salah satu cara mungkin dengan revitalisasi kantor-kantor desa di seluruh Kota Ambon sehingga menampilkan keunikan suatu negeri adat, tidak sekedar gedung kantor yang tidak ada bedanya dengan gedung kantor pada umumnya.

Tempat Sampah
                Beberapa bulan yang lalu, warga Kota Ambon dibuat bertanya-tanya ketika ada wadah berbentuk buah manggis, durian, dan jeruk diletakkan di banyak tempat seantero Kota Ambon. Awalnya saya berpikir ketiga wadah tersebut adalah sejenis hiasan untuk mempercantik kota, mengingat manggis dan durian termasuk jenis buah yang pada musimnya turut membanjiri pusat perdagangan di Kota Ambon. Bahwa ternyata ketiga wadah tersebut adalah varian baru tempat sampah yang disediakan Pemerintah Kota di tempat-tempat umum, saya langsung memikirkan efektifitasnya. Jika ketiga wadah tersebut adalah jenis tempat sampah otomatis yang lebih user-friendly, mungkin akan signifikan dalam meningkatkan kesadaran warga masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya. Akan tetapi ternyata kelebihan model tempat sampah seperti itu hanya pada penampakannya dan di kemudian hari mengalami nasib yang kurang lebih sama dengan para pendahulunya.
                Saya mengerti Pemerintah Kota Ambon terus bergelut dengan upaya membangun kesadaran sampah dari warganya. Namun perlu juga memahami kebiasaan masyarakat. Misalnya saya agak-agak emoh jika membuang sampah pada model tempat sampah umum yang diangkat tutupnya secara manual. Jika saya tidak ingin membuang sampah di situ, saya akan tetap menyimpan sampah saya sampai menemukan tempat sampah yang tidak harus dibuka tutupnya. Tetapi masalahnya belum semua masyarakat memiliki kesadaran yang sama. Ini harus menjadi pertimbangan Pemerintah Kota Ambon dalam penyediaan fasilitas umum agar setiap pengadaan yang dilakukan berguna secara maksimal dan terjaga kontinuitasnya.

Angkutan Dalam Kota (Angkot)
                Jika mengacu pada Keputusan Walikota Ambon Nomor 56 Tahun 2015 tertanggal 28 Januari 2015, ada 61 jalur trayek angkutan dalam kota (angkot) di Kota Ambon. Pertanyaannya adalah apakah Pemerintah Kota Ambon secara rutin melakukan pengawasan lapangan terhadap kesesuaian angkot trayek tertentu dengan rute yang ditempuhnya? Berdasarkan pengalaman pribadi, seringkali ada angkot trayek tertentu melayani penumpang tidak sesuai trayek. Dan sepertinya, dengan minimnya pengawasan, hal ini kemudian menjadi sesuatu yang lumrah padahal yang menjadi korban di sini adalah masyarakat. Saya menggunakan contoh angkot trayek Lembah Argo dan BTN Lateri Indah yang jarang sekali melayani penumpang sesuai trayek. Apakah hal ini dikarenakan ada kesepahaman antara sopir angkot trayek tersebut dengan para pengendara ojek yang mangkal di jalan masuk menuju kedua lokasi tersebut, saya tidak mengerti. Kemudian dari sisi tarif, angkot trayek Laha terkadang mengenakan tarif lebih mahal dari yang ditetapkan, khusus bagi penumpang yang naik dari Bandara Pattimura. Hal-hal tersebut dengan sendirinya meningkatkan pengeluaran transpor masyarakat di wilayah-wilayah tertentu. Bagi masyarakat yang tergolong miskin, kondisi seperti ini turut menjadi pemicu sulitnya mereka keluar dari lingkaran kemiskinan yang ada jika dikaitkan dengan data hasil survei yang menunjukkan pengeluaran untuk angkutan dalam kota tergolong dalam 3 jenis pengeluaran rumah tangga terbesar di Kota Ambon.

Pasar Tradisional yang Representatif
                Dari Walikota ke Walikota pasca-konflik sosial di Kota Ambon, Pasar Mardika dan Pasar Batu Merah tak kunjung menjadi pasar tradisional yang layak. Apakah begitu sulitnya melakukan revitalisasi pasar dengan kekuatan sendiri dari waktu ke waktu? Ataukah kita menunggu Pasar Mardika dan Pasar Batu Merah menjadi salah satu target program pemberdayaan pasar oleh Kementerian Perdagangan? Padahal pada suatu waktu dulu, kita pernah memiliki pasar tradisional yang begitu megah dan tertata baik.

Fungsi Rumah Potong Hewan
                Jika fungsi sebuah Rumah Potong Hewan (RPH) dilakukan sesuai peruntukannya, segalanya menjadi aman dan tenang. Akan tetapi jika sebuah RPH mengalami pengayaan fungsi sebagai rumah pemeliharaan hewan juga, ini menimbulkan masalah kesehatan dan lingkungan bagi masyarakat sekitar. Menilik posisi RPH Kota Ambon yang terletak di tengah kota, kita tentu tidak ingin memunculkan kawasan kumuh di tengah kota bukan?


                Hal yang saya sampaikan di sini adalah sebagian kecil dari apa yang menjadi ganjalan di hati warga Kota Ambon. Saya menyampaikannya dengan landasan pikir bahwa Pak Ris dan Pak Syarif adalah pemimpin yang bijaksana dan terbuka bagi masukan yang konstruktif. Semoga dengan belajar dari pengalaman periode sebelumnya, Bapak berdua bisa berlari dengan lebih cepat, tepat, dan berkualitas dalam menata dan melayani Kota Ambon dan segenap masyarakatnya.


Dimuat di Harian Ambon Ekspres edisi 22 Mei 2017

Selasa, 28 Februari 2017

DAU dan Pentingnya Memberikan Data Apa Adanya


Tulisan ini sedikit banyaknya terinspirasi oleh berita yang dimuat pada tanggal 24 Februari 2017 lalu di media online nasional dengan headlineJokowi Beberkan Curhat Gubernur Maluku, Hadirin Mendadak Riuh”. Saya mencoba mengutip pernyataan Presiden sebagaimana dilansir media online nasional tersebut, demikian: “Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku sudah tiga kali ini menyampaikan kepada saya protes masalah urusan DAU (dana alokasi umum),” kata Jokowi disambut tawa para peserta. Jokowi menuturkan, Gubernur mengajukan protes karena menilai dana perimbangan DAU yang tidak adil bagi Maluku. “Pak, kami daratannya kecil, tetapi lautannya gede. Namun, penghitungan DAU selalu menggunakan daratan, kami dapat kecil, Pak,” kata Jokowi meniru curhat Said Assagaff.
Apa itu DAU? Menurut yang dimuat pada website resmi Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan – www.djpk.depkeu.go.id - Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan salah satu transfer dana pemerintah kepada pemerintah daerah yang bersumber dari pendapatan APBN, yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Alokasi DAU dilaksanakan seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah sejak adanya Undang-undang No. 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah.
Besaran DAU merupakan hasil penjumlahan Alokasi Dasar (AD) dan Celah Fiskal (CF). Besaran AD dihitung berdasarkan realisasi gaji PNS Daerah tahun sebelumnya sedangkan CF diperoleh dari hasil perkalian bobot celah fiskal daerah bersangkutan (CF daerah dibagi dengan total CF nasional) dengan alokasi DAU CF Nasional. CF masing-masing daerah sendiri dihitung berdasarkan selisih antara Kebutuhan Fiskal dengan Kapasitas Fiskal. Fokus saya di sini adalah mengenai penghitungan Kebutuhan Fiskal yang merupakan kompilasi dari beberapa data dasar dimana sebagian besar di antaranya merupakan produk Badan Pusat Statistik (BPS).
Ada 5 (lima) variabel yang digunakan Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan untuk menghitung Kebutuhan Fiskal, yakni Jumlah Penduduk; Luas Wilayah; Indeks Pembangunan Manusia; Indeks Kemahalan Konstruksi; dan Produk Domestik Regional Bruto perkapita. Nilai masing-masing variabel tersebut pada tahun tertentu dikalikan dengan nilai bobot yang telah tertentu untuk setiap indeks, dijumlahkan dan kemudian hasil penjumlahannya dikalikan dengan Total Belanja Rata-rata APBD akan menghasilkan besaran nilai Kebutuhan Fiskal.
Empat dari 5 (lima) variabel yang diperlukan untuk menghitung Kebutuhan Fiskal tersebut dihasilkan oleh BPS, yakni data jumlah penduduk, data Indeks Pembangunan Manusia (IPM), data Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK), dan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Data jumlah penduduk dihasilkan dari Sensus Penduduk. Data IPM sebagai indeks komposit yang disusun dari 3 (tiga) indikator menggunakan data hasil Sensus Penduduk, Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS), dan Survei Harga Konsumen (SHK). Data IKK dihasilkan dari survei harga perdagangan besar bahan bangunan/konstruksi, harga sewa alat berat, dan upah tenaga kerja. Data PDRB merupakan penjumlahan nilai tambah bruto (NTB) semua kegiatan ekonomi, mulai dari pertanian sampai dengan jasa-jasa, pada suatu wilayah dalam satu kurun waktu tertentu. Penghitungan PDRB menggunakan sebagian besar data hasil sensus, survei, dan dari produk administrasi instansi pemerintah, perusahaan dan lembaga lainnya.
Sensus dan survei yang dilakukan BPS untuk menghasilkan data pendukung bagi penghitungan DAU sebagaimana dijelaskan sebelumnya dilakukan terhadap responden yang terdiri dari rumah tangga, perusahaan, dan juga instansi Pemerintah di seluruh wilayah di Indonesia termasuk Provinsi Maluku dengan 11 kabupaten/kota di dalamnya. Namun perlu kami sampaikan, proses untuk memperoleh data dalam pelaksanaan sensus/survei tersebut tidak selalu mudah. Tidak jarang data yang diberikan seadanya dan kurang akurat. Penolakan oleh responden pun sudah biasa kami terima. Tidak sedikit juga responden yang mempertanyakan tujuan pelaksanaan survei yang kami lakukan dan relevansinya bagi mereka secara langsung. Bisa dibayangkan, bagaimana kami harus menerangkan kegunaan data yang akan dihasilkan oleh suatu sensus/survei bagi pembangunan di Maluku dalam bahasa yang sederhana dan lugas di hadapan orang yang mempertanyakan relevansi data tersebut bagi dirinya secara personal? Sebagai contoh, kami berkali-kali mengalami kesulitan ketika mendata tarif harga sewa alat berat dari sebagian besar kontraktor di seluruh Maluku, padahal mereka sangat berkepentingan dengan angka IKK yang kami hasilkan. Sekalipun sudah kami jelaskan bahwa angka IKK diperlukan bagi penghitungan DAU yang pada akhirnya berguna untuk membiayai pembangunan fisik di daerah dimana itu akan menjadi proyek bagi para kontraktor itu juga, tetap saja sulit bagi mereka untuk memberikan data apa adanya.

Dalam penelusuran saya untuk menemukan materi pendukung bagi tulisan ini, saya menemukan materi power point pada website resmi Direktorat Jenderal Bina Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri (www.keuda.kemendagri.go.id) yang menyiratkan sudah digunakannya pembobotan luas wilayah laut dalam penghitungan DAU TA 2017. Terlepas dari hal tersebut, apa yang disampaikan oleh Gubernur Maluku kepada Presiden Jokowi adalah baik. Akan tetapi perlu mendapat perhatian kita semua bahwa Pemerintah Pusat tidak bisa begitu saja mengutak-atik suatu official statistics untuk meningkatkan atau menurunkan DAU. Tidak bisa hanya dengan menjentikkan jari. Ada mekanisme yang perlu dikawal dari hulu ke hilir. Partisipasi aktif seluruh komponen masyarakat sangat dibutuhkan di sini. Untuk itu, kami dari BPS sebagai lembaga negara yang bertugas menyediakan data untuk penyelenggaran pemerintahan di Indonesia dan juga di Maluku menggunakan kesempatan ini untuk terus menghimbau seluruh komponen di bumi seribu pulau ini, terimalah petugas kami dan berikanlah data apa adanya. Yang terhormat Gubernur dan Bupati/Walikota di Maluku, kami terus membutuhkan dukungan Bapak-Bapak dalam pelaksanaan tugas kami. Karena apa yang diberikan kepada kami dalam pelaksanaan sensus/survei, itulah yang kami kembalikan dalam bentuk data dan informasi sebagai dasar perencanaan, monitoring, dan evaluasi pelaksanaan pembangunan di Maluku dan Indonesia. Mari katong bangun Maluku dengan data berkualitas.


Dimuat di Harian Ambon Ekspres edisi Selasa, 28 Februari 2017

Jumat, 27 Januari 2017

Tempat Kankrong (Makan & Nongkrong) di Ambon

Inspirasi tulisan ini muncul ketika saya sedang duduk di salah satu tempat nongkrong dengan pemandangan Teluk Ambon sambil menikmati jus mangga dan berpikir bahwa rasanya masih kalah sama jus mangga dari Restoran X. Saat itu terpikirkan, boleh juga nih memberikan rekomendasi tentang beberapa tempat makan/nongkrong di Kota Ambon. Siapa tau bisa berguna dan menghemat waktu para traveler yang sedang berkunjung di Kota Ambon. Hhmm, mungkin tulisan ini belum sempurna dan lengkap mengingat belum semua tempat makan/nongkrong yang terdaftar di Dinas Pendapatan Daerah Kota Ambon berhasil saya kunjungi. Secara rasanya kayak kurang kerjaan pun ya? Tapi setidaknya harapan saya, worth it lah menambah-nambah inpo. Iya ga? ^_^


Cafe Sibu-Sibu


Ini dia salah satu tempat nongkrong favorit saya. Sejak pertama berkunjung di sini tahun 2009, ketika masih hanya menggunakan satu ruangan kecil sebelum akhirnya diperluas menjadi seperti sekarang ini, saya sudah jatuh hati dengan cafe ini. Layaknya cafe di Kota Ambon, Sibu-Sibu sudah dilengkapi dengan live music. Yang menjadi benchmark-nya Sibu-Sibu adalah dinding yang dipenuhi foto orang Maluku dan yang berdarah Maluku baik WNI ataupun bukan yang eksis di bidangnya. Seringkali reaksi orang-orang yang untuk pertama kali berkunjung ke sini adalah, "Oooh, si anu orang Maluku yaa?" Makanan yang disajikan di sini sama dengan cafe pada umumnya, yakni nasi goreng, indomie telor, dsj. Tetapi ada juga jajanan khas Maluku seperti kasbi tone, tart labu, bubengka Haruku, cucur, dsj. Namun salah satu kelemahan Sibu-Sibu adalah dikarenakan terletak di salah satu jalan utama di Kota Ambon yang merupakan pangkalan mobil sewaan, bagi pengunjung yang membawa mobil akan mengalami sedikit kesulitan menemukan tempat parkir. Kemudian dikarenakan ruangannya yang walaupun sudah diperlebar namun masih tetap terbatas, terkadang pengunjung perokok yang duduk di tengah ruangan, membuat agak tidak nyaman. Padahal sebenarnya Sibu-Sibu menyediakan meja-kursi di bagian luar juga. Yaaah, ini juga sebagai indikasi bahwa Sibu-Sibu merupakan cafe yang lumayan ramai dikunjungi.
Cafe Sibu-Sibu dibuka sejak pagi hari (sekitar jam sarapan-lah) sampai dengan jam 10 malam. Namun rasanya ada waktu-waktu dimana tutupnya lebih larut. Untuk lebih jelasnya silakan menghubungi no telepon 0911-312525.


Cafe Dermaga

http://www.imgrum.net/
Cafe terletak di pinggiran Kota Ambon, tepatnya Desa Poka. Namun dengan adanya Jembatan Merah Putih, sepertinya Desa Poka sudah tidak layak disebut pinggiran mengingat waktu tempuh dari pusat Kota Ambon hanya dalam hitungan belasan menit (jika jalanan kosong-hghghg). Cafe Dermaga belum lama dibuka. Jam operasinya dimulai dari jam 6 sore sampai setengah 12 malam dan juga menyediakan live music. Jika datang sebelum senja, Anda bisa menikmati pemandangan Teluk Ambon kala senja dan di malam hari pemandangan lampu-lampu dua sisi Pulau Ambon dan kapal-kapal yang berada di teluk.
Areal Cafe Dermaga lumayan luas dan ada beberapa tanaman yang turut memberikan kesan sejuk. Inilah salah satu kelebihannya, yang mana menyuguhkan pemandangan alami, bukan keramaian jalan raya di pusat kota dan lahan parkir yang tersedia relatif lebih luas.
Menu di Cafe Dermaga tidak berbeda jauh dengan menu cafe pada umumnya hanya saja tidak tersedia jajanan pasar sevariasi yang ada di Cafe Sibu-Sibu. Bagi Anda yang tiba di Ambon dengan penerbangan sore/malam, singgahlah di sini untuk mengganjal perut sebelum menikmati Jembatan Merah Putih di waktu malam.


Mister Kopitiam


Ngg, sebenarnya saya juga rada ragu, Kopitiam itu tergolong cafe bukan ya? Anggap iya aja ya. Mister Kopitiam terletak di salah satu sudut teramai di Kota Ambon, di Jalan Diponegoro atau sering disebut Kawasan Urimessing.Buka dari pagi (ga tau jam brapa) sampai jam 2 subuh. Kadang-kadang malah bisa dikasi bonus nongkrong sampai jam setengah 3 subuh. Kalo ini mah pengalaman saya dan partner in crime. Hehehe.. Menunya sangat bervariasi, ga terbatas menu cafe yang biasanya nasi/mie. Sebenarnya lebih patut disebut restoran kali ya?
Walau terletak di depan jalan raya, gampang-susah-gampang juga menemukan parkiran yang membawa kendaraan roda 4. Dari pengalaman pribadi, kami sampai harus muter dulu di depan Kantor Kodim sebelum akhirnya menemukan parkiran.
Mister Kopitiam merupakan tempat nongkrong 2 lantai dengan sirkulasi udara yang cukup baik sekalipun ada banyak pengunjung yang merokok. Namun bagi Anda yang benar-benar alergi dengan asap rokok, tersedia juga ruangan ber-AC sebagaimana tampak pada gambar.
Oh ya, Mister Kopitiam belum menyediakan fasilitas live music. Bukan tidak loh ya. Siapa tau setelah membaca postingan ini langsung diadakan kan? Hghghg..


Joas Baru


Ini merupakan kecabangan dari Rumah Kopi Joas yang cukup melegenda di Kota Ambon. Joas Baru merupakan bagian integral dari Hotel Biz yang baru beroperasi beberapa bulan terakhir ini di Kota Ambon. Pertama kali memasuki lokasi cafe ini, saya langsung jatuh hati. Sekalipun ada banyak pengunjung yang merokok, akan tetapi tersedia banyak jendela yang memungkinkan sirkulasi udara terjadi dengan baik. Menu makanan di sini tidak terlalu bervariasi akan tetapi saya sukaaaa roti panggangnya. Hehehe... Layaknya rumah kopi/cafe di Kota Ambon, Joas Baru beroperasi sejak pagi sampai dengan jam 9 malam! Kenapa ga lebih larut ya? Saya juga penasaran. Secara pertama kali ke sini jam 8-an. Belum juga menikmati separuh dari jajanan yang ada, udah disamperin pramuniaga-nya. Joas Baru terletak di jalan yang sama dengan Sibu-Sibu, so demikian juga dengan ketersediaan lahan parkir bagi yang membawa kendaraan roda 4. Di Joas Baru belum tersedia fasilitas live music.


Agniya Cafe and Resto


Ini dia salah satu spot terfavorit terkini di Kota Ambon. Terletak di bilangan Pohon Mangga, beroperasi hingga setengah 12 malam, sangat layak dijadikan tempat kankrong segala usia. Daaaan, jus mangga maupun jus jeruk-nya highly recommended cui. Lekker! Berlokasi di depan jalan, parkiran lumayan lebih baik sekalipun masih numpang bahu jalan umum, halaman belakang (kalo bisa dikatakan halaman) adalah pantai. Cuman tolong parkirnya ditertibkan dong. Tanpa karcis legal, mintanya 5000. Kemahalan cui, mana lahan parkirnya numpang jalan umum pun. Bagi yang ingin berenang, sangat memungkinkan. Anda yang menggunakan angkutan umum, cukul sekali naik dari Terminal Mardika.
Fasilitas live music sudah tersedia tapi belum difungsikan, padahal saya datangnya malam minggu loh ya.
Takut kehabisan tempat? Silakan reservasi di no telpon 0911-348372.


... to be continued... (cape ngetiknya) ^_^

Selasa, 26 Juli 2016

Pasar Tradisional: Representasi Kinerja Pemerintah Daerah


Saya termasuk satu di antara sekian banyak orang yang bersentuhan dengan pasar tradisional. Jika alasan sebagian besar orang mungkin untuk berbelanja, alasan saya adalah karena saya menikmati pemandangan yang bisa saya dapatkan di sana. Beberapa tahun terakhir ini, sejak saya dipercayakan menangani data inflasi Kota Ambon dan Kota Tual, dimana sebagian dari data pendukungnya diperoleh melalui pencacahan harga di pasar tradisional. Maka semakin kuatlah alasan bagi saya untuk menikmati pasar tradisional.
Inspirasi tulisan ini hadir di benak saya ketika beberapa waktu yang lalu melakukan pengawasan pencacahan Survei Harga Konsumen untuk penyusunan inflasi di Kota Tual. Saya menyaksikan kondisi yang tidak jauh berbeda dari yang saya lihat pada pasar tradisional di Kota Ambon. Los-los di dalam pasar belum semuanya terisi. Para pedagang lebih memilih untuk berjualan di pinggir jalan karena itu artinya semakin dekat dengan konsumen. Dan karena fenomena yang umum kita temui adalah pasar tradisional merupakan satu kesatuan dengan terminal angkutan umum, maka ketidakteraturan yang ada menjadi obyek yang semakin menarik untuk dikritisi melalui beberapa hal sebagai berikut.

Daya Tampung
Sejatinya pedagang-pedagang pada pasar tradisional tertampung di dalam kesatuan bangunan yang memadai. Kenyataan yang nampak dalam pandangan kita adalah jumlah pedagang yang ada melebihi kapasitas yang tersedia. Sebagai konsekuensinya, para pedagang yang tidak tertampung pada bangunan pasar akan menggunakan ruang terbuka yang seyogyanya menjadi daya dukung dari suatu pasar tradisional, sebut saja lahan parkir. Dan selama mereka membayar retribusi, nampaknya hal tersebut sah-sah saja.
Jika hal ini saya analogkan dengan sistem yang lebih besar seperti penanganan pemukiman penduduk maka kenyataan yang kita hadapi adalah belum optimalnya penataan kota sesuai peruntukannya. Masyarakat sah-sah saja mendirikan bangunan, selama memiliki sertifikat tanah, uang untuk membangun rumah, dan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB). Bagaimana peruntukan lahan yang dimilikinya, apakah merupakan sempadan sungai atau lereng bukit yang rawan longsor, itu urusan nanti. Toh kita membayar IMB dan juga Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)?

Prinsip Keadilan
Menurut lokasi berjualan, saya mencoba mengklasifikasikan para pedagang di pasar tradisional ke dalam kelompok pedagang yang berjualan pada los/bangunan yang tersedia dan kelompok peda-
gang yang berjualan di luar los/bangunan yang tersedia. Kelompok pedagang yang kedua ini cenderung menjadi pedagang yang lebih cepat dijangkau oleh konsumen tanpa harus jauh-jauh masuk ke lokasi los/bangunan pasar utama. Tentu diperlukan penelitian khusus untuk menyimpulkan tentang perbedaan omset antara kedua kelompok pedagang tersebut, akan tetapi berdasarkan eye-catching diduga omset kelompok pedagang yang berjualan di luar los/bangunan pasar lebih besar dibandingkan kelompok pedagang yang berjualan pada los/bangunan yang tersedia.
                Jika dalam penyelenggaraan pembangunan, Pemerintah Daerah hanya menyediakan sarana ala kadarnya dan selanjutnya seperti melakukan pembiaran, maka jurang antara kelas-kelas sosial di dalam masyarakat akan semakin lebar, sulit terjembatani dan bisa menimbulkan kerawanan sosial maupun lingkungan.

Fungsi Kontrol
Melihat keruwetan yang terjadi di pasar tradisional, spontan akan muncul pertanyaan dimanakah para petugas yang berwenang mengatur dan mengendalikan proses yang berlangsung? Ataukah memang demikian perencanaan yang ditetapkan Pemerintah Daerah untuk penataan pasar sebagaimana yang kita lihat? Saya yakin tidak demikian. Pemerintah Daerah melalui instansi terkait tentu melakukan pengawasan. Akan tetapi bila memperhatikan kondisi yang ada, rasanya monitoring dan konsolidasi yang dilakukan belum maksimal dan masih harus terus ditingkatkan.
Logikanya, luas pasar tradisional yang ada di suatu wilayah sudah barang tentu hanya sepersekian persen dari luas wilayah suatu kota/kabupaten. Jika Pemerintah Daerah terkesan tidak maksimal mengelola wilayah sekecil suatu pasar tradisional, bagaimana bisa mengendalikan wilayah seluruh kota/kabupaten?

Demi Masa Depan yang Seharusnya Lebih Baik
Mengingat saya adalah warga Kota Ambon, saya akan menggunakan contoh Pasar Mardika di sini. Saya masih ingat pada awal tahun 1990-an, betapa cantik dan rapinya kondisi Pasar Mardika. Lahan parkir digunakan sesuai peruntukannya. Warga Kota Ambon masih bisa menikmati pemandangan Pantai Mardika dari trotoar yang memang diisi oleh gerobak para pedagang makanan dan minuman tapi masih tetap terkesan rapi. Seyogyanya kondisi Pasar Mardika sekarang jauh lebih baik dari era tersebut. Tapi bagaimana kenyataannya, bisa kita saksikan langsung. Pertanyaannya, bagaimana kondisi Pasar Mardika beberapa tahun mendatang? Apakah anak-cucu kita akan menikmati pasar yang lebih representatif dan manusiawi ataukah tidak?

Mungkin kita pernah mendengar ungkapan: teman-teman terdekatmu menunjukkan siapa dirimu. Atau ungkapan lain yang analog dengan itu: bacaan kesukaanmu menunjukkan siapa dirimu. Saya mencoba mengaplikasikannya terhadap kondisi pasar tradisional: pasar tradisional di kotamu menunjukkan kinerja pemerintah daerahmu. Bagaimana Pemerintah Daerah menangani hal-hal yang lebih besar sedikit banyaknya ditunjukkan oleh bagaimana Pemerintah Daerah mengelola pasar tradisional. Semoga pada akhirnya kita memiliki pasar tradisional yang nyaman dan layak dibanggakan.

Dimuat di Harian Ambon Ekspres edisi Selasa, 26 Juli 2016