Kamis, 09 Oktober 2014

Pulau-Pulau di Provinsi Maluku yang Pernah Saya Tapaki

Tulisan ini terinspirasi dari obrolan di ruangan bersama rekan kerja tentang jumlah pulau di Provinsi Maluku yang pernah didatangi atau ditapaki. Tidak boleh menghitung jumlah pulau di luar Provinsi Maluku. Tidak juga termasuk singgah doang di pelabuhannya. Banyak amat syaratnya ya? Hahaha....

Ini bagian dari gerakan cinta Maluku. Secara banyak orang Maluku yang melanglang buana ke tanah orang tetapi tidak demikian dengan negeri asalnya sendiri.

Saya memang masih kalah jauh dari teman-teman saya yang lain. Tapi saya pikir ga ada salahnya saya membuat list pulau-pulau yang pernah saya kunjungi, hitung-hitung skalian promosi sodarah-sodarah, dan juga memotivasi diri saya sendiri untuk mengunjungi yang belum terkunjungi. Tapi ada tapinya. Saya ga punya foto semua pulau tersebut yang dipotret oleh saya sendiri. Maklum, HP berkamera baru ngtrend kan baru-baru ini. Sebelumnya pake kamera jadul yang udah ga tau dimana hasil fotonya.. ^_^


Pulau Ambon



Nah, ini dia pulau pertama yang saya tapaki dalam sejarah hidup saya. Ehmm, terang aja, asli Ambon dan kelahiran Ambon. Hehehe... Pulau Ambon sering disebut Pulau Ama atau Pulau Bapak.
Pulau Ambon terbagi dalam 2 wilayah administratif, yakni Kota Ambon (ibukota Provinsi Maluku - kali aja ga tau...) dan Kabupaten Maluku Tengah. Beberapa spot di Kota Ambon dapat dilihat di http://www.paulinegaspersz.com/2014/04/perjalanan-ke-siwang.html dan juga di http://www.paulinegaspersz.com/2014/09/foto-foto-perjalanan-diah-ikawati-di.html.


Pulau Haruku

Inilah pulau berpenghuni yang terdekat di Pulau Ambon dan untuk pertama kalinya saya kunjungi pada libur Lebaran 2014 kemarin. Di sini ada beberapa desa, namun saya baru nyampe di satu desa aja, Desa Hulaliu. At least, udah nyampe Pulau Haruku. Hghghg...

Pulau Haruku ini seluruhnya merupakan wilayah administratif dari Kecamatan Pulau Haruku dan menjadi bagian dari Kabupaten Maluku Tengah.

Pantai Janain, Desa Hulaliu

Pulau Saparua

Barangsiapa mengaku maupun secara legal adalah warga negara Indonesia alias WNI, khususnya lagi yang selama sekolahnya belajar sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, namun mengaku tidak pernah mendengar tentang Pulau Saparua, jiwa merah putihnya perlu diuji lagi tuh!

Pertama kali mengunjungi pulau ini saat saya masih duduk di bangku SMP, antara tahun 1991-1994. Pulau Saparua merupakan basis perjuangan Pahlawan Nasional Thomas Matulessy (bergelar Pattimura) dan Pahlawan Nasional Martha Christina Tiahahu dalam menentang imperialisme penjajah. Pulau Saparua merupakan kecamatan pulau dan menjadi bagian dari Kabupaten Maluku Tengah. Lebih lengkap tentang Pulau Saparua bisa disimak di sini, http://www.paulinegaspersz.com/2014/07/foto-foto-perjalanan-ke-pulau-haruku.html


Pulau Nusalaut

Pulau Nusalaut sekaligus Kecamatan Nusalaut adalah bagian dari Kabupaten Maluku Tengah. Alkisah Pulau Nusalaut ini dulunya merupakan satu kesatuan dengan Pulau Ambalau di Kabupaten Buru Selatan. Saya melakukan perjalanan ke pulau ini pada tahun 2005 (kalo ga salah) dalam rangka supervisi salah satu survei. Itu masih zaman susah, so ga ada dokumentasinya. Hahaha...

Pulau Nusalaut oleh orang Maluku juga disebut Pulau Anyo-Anyo (=hanyut), dikarenakan letaknya yang agak jauh dibandingkan Pulau Ambon, Pulau Haruku, Pulau Saparua, maupun Pulau Seram, sehingga terkadang terlihat namun terkadang juga tidak terlihat karena tertutupi kabut atau karena mendung.

Sumber: twicsy.com


Pulau Seram

Jika Pulau Ambon mendapat julukan Pulau Ama, Pulau Seram mendapat julukan Pulau Ina atau Pulau Ibu. Bisa karena letaknya yang seperti menaungi Pulau Ambon dan pulau lainnya, bisa juga karena sebagian besar kebutuhan pangan Kota Ambon turut di-supply dari sini.

Sebagian Pulau Seram dan pulau-pulau di sekitarnya

Di Pulau Seram terdapat 3 kabupaten, yakni Kabupaten Maluku Tengah (kabupaten induk), (dan pecahannya) Kabupaten Seram Bagian Barat dan Seram Bagian Timur. Alkisah, dari pulau inilah asal nenek moyang Maluku.

Saya berkali-kali menginjakkan kaki di Pulau Seram sejak masih SMA di tahun 1995. Kereen kan? Ya iyalaaah, secara daku 2 tahun bertugas di Kabupaten Maluku Tengah. Dan setelahnya sering melakukan supervisi ke berbagai wilayah di ketiga kabupaten di sana.

Tempat wisata yang terkenal di Pulau Seram adalah Taman Nasional Manusela (Kabupaten Maluku Tengah dan Ora Beach Eco Resort (Kabupaten Maluku Tengah).

Ora Beach Eco Resort

Waisala - Kabupaten Seram Bagian Barat


Foto-foto Kota Masohi, ibukota Kabupaten Maluku Tengah di Pulau Seram dapat diikuti pada link http://www.paulinegaspersz.com/2014/04/foto-foto-perjalanan-ke-masohi-maluku.html.


Pulau Geser

Akhirnya, saya berkesempatan mengunjungi Pulau Geser di sekitar akhir tahun 2014. Jujur, sejak mulai bertugas di BPS Kabupaten Maluku Tengah di tahun 2004, saya sering mendengar pesona Pulau Geser, terutama ikan-ikannya yang belum sekolah alias belum cerdas alias mudah ditangkap. Dan ternyata memang demikian adanya. Bahkan pada musim timur dimana kondisi laut di Geser dan sekitarnya sangat tidak bersahabat sekalipun, masyarakat Geser masih bisa makan ikan dengan memancing di sekitar pulau. Sangat mengundang....



Lebih lengkap tentang perjalanan saya ke Geser bisa dibaca pada link http://www.paulinegaspersz.com/2014/12/perjalanan-panjang-dan-penuh-cerita-ke.html


Pulau Neira

Masih merupakan bagian dari Kabupaten Maluku Tengah, Pulau Neira merupakan salah satu daya tarik bangsa asing ke tanah Maluku sekaligus awal mula penjajahan di bumi raja-raja.

Saya 2 kali menginjakkan kaki di sini dan kesannya selalu luarrrr biasaaa!!! Pertama kali saya ke sini tahun 2005, sewaktu masih bertugas di Kabupaten Maluku Tengah dan melakukan supervisi survei di Pulau Banda. Kunjungan kedua saya tahun 2009 ketika melakukan perjalanan dengan kapal laut dari Saumlaki di Kabupaten Maluku Tenggara Barat ke Ambon dan transit sekitar 2 jam di Pulau Neira.

Oleh-oleh wajib dari sini adalah manisan pala (basah dan kering). Ikannya juga enak banget. Apa ada pengaruh Laut Banda itu laut dengan palung laut terdalam ke-2 di dunia yak? #asaltebak.com

Sensasi di Neira antara lain lautnya yang biruu bingits! Di sini ada Istana Mini yang dibangun 1 tahun sebelum Istana Negara di Jakarta dengan model yang sama. Ada juga Rumah Pengasingan Bung Hatta, dr. Cipto Mangunkusumo, dan Sutan Sjahrir. Bahkan ada salah satu pulau yang dinamakan Pulau Hatta.

Berikut tulisan saya tentang perjalanan ke Neira http://www.paulinegaspersz.com/2014/11/perjalanan-ketiga-ke-banda-neira.html.

Benteng Belgica

Istana Mini Banda

Pulau Gunung Api Banda

Pulau ini dapat dijangkau dengan renang dari Pulau Neira, itu dengan catatan kalo kita lagi kurang kerjaan. Di sini ada rumah-rumah penduduk namun tidak sebanyak di Pulau Neira. Air bersih di sini mengandalkan tadah hujan secara lokasi pulau ini seluas kaki gunung berapi.

Puncak Gunung Api Banda, 2005


Pulau Buano

Saya mengunjungi Pulau Buano pada Mei 2013 yang lalu dalam rangka Monitoring Kualitas Sensus Pertanian 2013. Setelah menapakkan kaki di sana, saya baru tahu yang orang dengan asal desa-desa di wilayah pegunungan di Pulau Ambon, seperti Desa Naku, Desa Ema, Desa Hatalai, dan sekitarnya, tidak boleh mendatangi Pulau Buano. Alkisah dulu terjadi peperangan antara orang-orang dari Pulau Buano dengan orang-orang dari desa-desa di pegunungan di Kota Ambon. Dalam peperangan itu, orang-orang Buano mengalami kekalahan sehingga mereka harus memenuhi permintaan dari si pemenang. Namun ketika orang-orang Buano meminta dari orang-orang di wilayah pegunungan Kota Ambon, tidak diberikan. Sejak saat itulah tercetus pesan bahwa orang-orang dari daerah pegunungan di Kota Ambon yang menginjakkan kaki di Pulau Buano akan mati, kecuali dia melakukannya dengan tidak sengaja. Waaah, saat tahu hal tersebut, kaget juga. Secara marga saya berasal dari daerah pegunungan, tepatnya Desa Naku di Pulau Ambon. Tapi puji Tuhan, perjalanan saya selama di Pulau Buano aman-aman saja dan saya masih hidup sampai saat ini.

Di Pulau Buano ada tempat wisata alam yang alkisah sangat indah, namanya Pantai Pasir Putih. Sayang, saya tidak sempat berkunjung ke sana. Di Pulau Buano ini jugalah saya menyaksikan pemandangan bawah laut yang begitu indah di area yang dangkal walaupun jaraknya sekitar 200 meter dari bibir pantai. Kalo ga ingat lagi tugas dan membawa dokumen monitoring, rasanya pengen nyemplung aja.

Pulau Buano yang merupakan bagian dari Kabupaten Seram Bagian Barat, hanya terdiri dari 2 desa, yakni Desa Buano Selatan dan Desa Buano Utara dengan sebagian besar penduduk (termasuk dusun-dusun dari kedua desa) adalah pendatang dari Sulawesi. Pulau Buano dapat ditempuh dari Dusun Masika, sekitar 1 jam perjalanan dari Kota Piru, ibukota Kabupaten Seram Bagian Barat.


Pulau Osi

Pulau Osi sebenarnya merupakan rangkaian dari 4 pulau karang kecil dengan pulau terluarnya memiliki pelabuhan dan penangkaran ikan. Jaraknya hanya sekitar 45 menit dari ibukota Kabupaten Seram Bagian Barat. Bagi pengendara motor, bisa sampai ke pulau terluarnya yang lebih besar dibandingkan pulau-pulau sebelumnya. Di sini bisa menginap di rumah resort ataupun rumah penduduk yang tentu saja jauh lebih murah.






Pulau Yamdena

Pulau Yamdena adalah bagian dan merupakan pulau terbesar di Kepulauan Tanimbar dan merupakan wilayah administratif Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Ibukota kabupaten yakni Kota Saumlaki terletak di Pulau Yamdena. Saumlaki bisa dijangkau dengan pesawat maupun kapal laut dari Ambon.
Saya pertama kali menginjakkan kaki di sini Oktober 2004 dalam rangka pelatihan petugas survei subsektor, kelanjutan dari Sensus Pertanian 2003. Lebih lanjut tentang Kota Saumlaki di Pulau Yamdena dapat disimak di http://www.paulinegaspersz.com/2014/03/new-saumlaki-exotic-saumlaki_18.html


Pulau Seira

Masih merupakan bagian dari Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Pulau Seira saya kunjungi pada tahun 2010 dalam rangka supervisi Sensus Penduduk 2010. Pada saat itu saya menumpang kapal motor yang memerlukan waktu 6 jam untuk perjalanan Saumlaki-Seira. Satu hal yang menarik dari Pulau Seira adalah, penataan kampungnya yang lumayan rapi untuk suatu pulau yang terhitung jauh dari Saumlaki, apalagi dari Ambon. Ada begitu banyak jalan setapak sehingga setiap rumah posisinya pasti menghadap jalan setapak. Nice kan??

Sebagian besar masyarakat di Pulau Seira bekerja di sektor perikanan dengan hasil laut seperti ikan, lola dan teripang. Saat saya kunjungi tahun 2010 lalu, pulau ini belum memiliki pelabuhan, sehingga dari kapal kami harus menggunakan ketinting untuk sampai di pantai. Suatu sensasi seru-seru mendebarkan bagi yang ga bisa renang.


Pulau Kei Kecil

Saya pertama menginjakkan kaki di sini bulan Oktober tahun 2008 dalam rangka supervisi pendataan kemiskinan yang lebih tepatnya berlokasi di Pulau Kei Besar. Pulau Kei Kecil ini merupakan bagian dari Kabupaten Maluku Tenggara. Waktu itu saya tiba menggunakan pesawat. Dan karena bandara hanya ada di Pulau Kei Kecil, saya tiba di sini sebelum kemudian melanjutkan perjalanan dengan speed boat ke Pulau Kei Besar.

Di Pulau Kei Kecil inilah terletak objek wisata Pantai Pasir Panjang atau Pantai Ngurbloat yang katanya merupakan salah satu pantai dengan pasir terputih di dunia. Sensasi renang di sini, luaarrrr biasaaa.... Rasa-rasanya tak rela daku menghentikan aktifitas renang kalau saja matahari tidak masuk ke peraduannya...

Pantai Pasir Panjang tampak dari udara

Di sini juga ada kolam air tawar di Desa Evu (baca: Ewu) yang adalah sumber airnya PDAM Maluku Tenggara. Aisssh, rancak bana... Mungkin setara kolam renang ukuran internasional. Oh iyaa, di sini sebelum renang sebaiknya melepaskan semua perhiasan karena aturannya apapun yang jatuh ke dasar kolam, tidak boleh diambil lagi. Saya pernah berkelakar, berarti kalo ada yang tenggelam dan nyampe dasar kolam, ga boleh diambil jugaa?!! #justkidding ^_^
Lebih lengkap tentang Pulau Kei Kecil dan Pulau Dullah, bisa dibaca di http://www.paulinegaspersz.com/2014/11/perjalanan-ke-maluku-tenggara.html


Pulau Kei Besar

Kunjungan pertama saya ke sini, sama dengan ke Pulau Kei Kecil. Aaaah, saya lupa nama desa yang saya kunjungi dalam rangka supervisi pendataan kemiskinan itu. Kalo ga salah Wer Ohoi... apa gitu. Ohoi itu artinya Desa. Saya tiba di Pulau Kei Besar lewat Desa Elat dengan menggunakan speed boat dari Kei Kecil. Satu hal yang menarik dari pulau ini adalah batu-batunya di pantai yang berbentuk persegi seperti es balok. Itu alami loh! So, bagi yang mau membuat anak tangga, tinggal dimanfaatkan saja.

Salah satu fenomena di Kepulauan Kei adalah pada bulan Oktober di pagi hari, biasanya terjadi air surut yang jauuuuh sekali sehingga pulau-pulau berdekatan bisa didatangi dengan berjalan kaki. Kereeen kaaan.... ^_^ Anyway, saya belum pernah melihatnya langsung. Suatu waktu nanti, semoga..


Pulau Dullah

Pulau Dullah ini dulunya merupakan bagian dari Kabupaten Maluku Tenggara, namun setelah pemekaran, sekarang menjadi bagian dari Kota Tual. Pulau Dullah hanya terpisahkan dengan Jembatan Watdek dari Pulau Kei Kecil. Saking dekat jaraknya, kadang Pulau Dullah dan Pulau Kei Kecil dianggap satu pulau yang sama.

Air di bawah Jembatan Watdek sangat jernih walaupun dalam. Nampak juga beberapa lokasi budidaya rumput laut di sekitarnya. Dalam sekian kali kunjungan saya ke sana, saya terus tergoda untuk lompat dari jembatan, tapi ide saya itu dianggap gila oleh teman-teman di sana.

Jika di Pulau Kei Kecil terletak bandara, maka di Pulau Dullah inilah terletak Pelabuhan Tual. Pertama kali saya menginjakkan kaki di Pulau Dullah ini, sama dengan waktu saya menginjakkan kaki di Pulau Kei Kecil dan Pulau Kei Besar.


Pulau Wamar

Di pulau ini terletak Kota Dobo yang adalah ibukota Kabupaten Kepulauan Aru yang terkenal dengan mutiaranya. Saya berkunjung ke sini pada 4 Januari 2011 dalam rangka monitoring salah satu survei BPS. Kabupaten Kepulauan Aru sempat mendunia dengan gerakan Save Aru-nya ketika ada wacana pembabatan lahan untuk alih fungsi menjadi perkebunan tebu.

Untuk tiba ke Kota Dobo ini bisa menggunakan pesawat dari Ambon dengan transit di Maluku Tenggara sebelumnya. Belum ada penerbangan langsung Ambon-Dobo.





Pulau Kisar

Inilah salah satu pulau terluar Indonesia yang berbatasan dengan Timor Leste. Pulau Kisar bagian dari Kecamatan PP. Terselatan, Kabupaten Maluku Barat Daya. Saya pertama kali mengunjungi Kisar di tahun 2011, yang perjalanannya dapat dibaca di http://www.paulinegaspersz.com/2011_06_01_archive.html dan juga perjalanan kedua saya yang dapat ditelusuri di http://www.paulinegaspersz.com/2013/04/perjalanan-kedua-ke-kisar-salah-satu.html. Saya mengunjungi Kisar saat itu dalam rangka perjalanan supervisi survei, karena Kisar merupakan ibukota sementara Kabupaten Maluku Barat Daya saat itu. Sekarang ibukota kabupaten sudah definitif di Tiakur, Pulau Moa. Saya tidak tahu kapan lagi akan mengunjungi Kisar.


Pulau Buru

Bagi yang hobby membaca buku karangan Pramoedya Ananta Noer, terutama trilogi Pulau Buru-nya, tentu tahu tentang Pulau Buru. Di sinilah sentra produksi minyak kayu putih di Maluku, namun yang sekarang ini tenggelam oleh maraknya penambangan emas. Di Pulau Buru terdapat 2 kabupaten, yakni Kabupaten Buru yang beribukota di Namlea dan Kabupaten Buru Selatan yang beribukota di Namrole.

Salah satu wisata alam yang terkenal di Kabupaten Buru adalah Pantai Jikumerasa dan Danau Rana. Saya ingat pernah melihat keindahan Danau Rana dari atas pesawat, indah sekali. Entah kapan bisa melihat langsung. Keunikan Pantai Jikumerasa adalah pasirnya yang memiliki kandungan butir-butir berwarna merah. Kalau diisi ke dalam botol kaca, akan indah sekali.

Pantai Jikumerasa

Tentang Buru Selatan, bisa dibaca pada link http://www.paulinegaspersz.com/2014/07/perjalanan-kedua-ke-namrole-buru-selatan.html


Demikianlah perjalanan saya menapaki beberapa dari ratusan bahkan ribuan pulau di Maluku - Provinsi Seribu Pulau - Bumi Raja-raja. Tentunya, seturut kehendak-Nya jua, suatu waktu tulisan ini akan saya revisi.

2 komentar:

  1. Wah saya sudah pernah datang ke kepulauan banda naira. sangat senang sekali mengenal keindahan pulau pulau di maluku. Apabila berkesempatan, saya akan mengunjungi tempat lainnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kami di Maluku masih harus banyak berbenah. Akan tetapi hal tersebut tidak mengurangi keindahan alam yang kami miliki. Senang sekali banyak orang bisa melihat keindahan tersebut terlepas dari segala kelemahan dan kekurangan yang ada. Terima kasih :)

      Hapus